Kasus Daycare dan Trauma Ibu, Ini Cara Menghadapinya Menurut Psikolog
Ilustrasi(FREEPIK)
14:10
30 April 2026

Kasus Daycare dan Trauma Ibu, Ini Cara Menghadapinya Menurut Psikolog

Kasus kekerasan di daycare kembali menyita perhatian publik. Peristiwa seperti ini tidak hanya meninggalkan luka pada anak sebagai korban utama, tetapi juga menyisakan dampak psikologis yang mendalam bagi orangtua, terutama ibu.

Dalam banyak kasus, ibu menghadapi tekanan emosional yang kompleks, mulai dari shock, rasa bersalah, hingga kecemasan berlebih.

Menurut psikolog anak Vera Itabiliana, reaksi emosional tersebut merupakan respons yang wajar ketika orangtua mengetahui anaknya mengalami perlakuan buruk di tempat yang seharusnya aman.

Shock, Sedih, dan Kehilangan Rasa Aman

Saat pertama kali mengetahui kejadian, ibu umumnya mengalami shock emosional. Perasaan ini sering diikuti dengan kesedihan mendalam, kemarahan, dan kecemasan yang sulit dikendalikan.

“Ibu juga bisa mengalami kehilangan rasa aman dan kepercayaan, karena tempat yang sebelumnya dipercaya justru mencelakai anak,” jelas Vera saat dihubungi Kompas.com, baru-baru ini.

Kondisi ini bisa membuat ibu terus-menerus memikirkan kejadian, sulit tidur, hingga merasa waspada berlebihan terhadap lingkungan sekitar.

Baca juga: Tips Memilih Daycare yang Aman untuk Anak, Simak Saran Psikolog

Mengapa Ibu Sering Menyalahkan Diri Sendiri?

Salah satu respons yang paling umum muncul adalah self-blame atau menyalahkan diri sendiri. Banyak ibu merasa telah gagal menjalankan perannya sebagai pelindung anak.

Padahal, secara objektif, tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku. Namun secara psikologis, menyalahkan diri sendiri kerap menjadi cara untuk mencari penjelasan dan rasa kendali atas situasi yang tidak terduga.

“Ini adalah respons emosional yang umum dalam situasi traumatis, meskipun tidak selalu rasional,” tambah Vera.

Langkah Awal Menghadapi Trauma

Menghadapi situasi ini tidak mudah, tetapi ada beberapa langkah awal yang bisa dilakukan untuk membantu pemulihan:

1. Izinkan diri merasakan emosi

Jangan menekan atau menyangkal perasaan sedih, marah, atau kecewa. Memberi ruang pada emosi adalah bagian penting dari proses penyembuhan.

2. Pastikan anak dalam kondisi aman

Fokus utama tetap pada keamanan dan kebutuhan anak, termasuk jika perlu mendapatkan bantuan medis atau psikologis.

3. Cari dukungan

Berbagi cerita dengan pasangan, keluarga, atau teman dekat dapat membantu meringankan beban emosional.

4. Batasi paparan informasi yang memicu stres

Mengurangi konsumsi berita atau komentar di media sosial bisa membantu menjaga kondisi mental tetap stabil.

5. Pertimbangkan bantuan profesional

Jika perasaan cemas, takut, atau sedih tidak kunjung membaik, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog.

Baca juga: Berkaca dari Kasus Daycare di Yogyakarta, Ini Pentingnya Empati untuk Ibu Korban

Pentingnya Dukungan Lingkungan Terdekat

Dalam proses pemulihan, peran keluarga dan lingkungan sangat penting. Dukungan sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi, membantu kebutuhan sehari-hari, atau sekadar hadir menemani bisa memberikan dampak besar.

Sebaliknya, ada beberapa hal yang perlu dihindari karena dapat memperburuk kondisi psikologis ibu, seperti menyalahkan, meremehkan perasaan, atau memaksa untuk “cepat move on”.

Pendekatan yang empatik akan membantu ibu merasa tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini.

Waspadai Dampak Komentar Negatif di Media Sosial

Di tengah perhatian publik, tidak sedikit komentar netizen yang justru menyudutkan orangtua, terutama ibu. Padahal, komentar negatif ini dapat memperparah kondisi mental.

Komentar yang menyalahkan dapat memperkuat rasa bersalah, memicu kecemasan, hingga membuat ibu menarik diri dari lingkungan sosial.

Dalam beberapa kasus, tekanan dari media sosial bahkan menjadi trauma kedua setelah kejadian utama.

Baca juga: Menitipkan Anak ke Daycare, Usaha Para Ibu Bekerja Menjaga Tumbuh Kembang Anak

Menumbuhkan Empati, Bukan Menghakimi

Penting untuk dipahami bahwa tidak ada orangtua yang menitipkan anak dengan niat mencelakakan. Banyak keluarga memilih daycare karena kebutuhan bekerja dan kepercayaan bahwa anak akan dirawat dengan baik.

Karena itu, alih-alih bertanya “mengapa anak dititipkan?”, masyarakat perlu mulai menggeser perspektif menjadi “apa yang bisa dilakukan untuk membantu keluarga ini pulih?”.

Fokus seharusnya diarahkan pada pelaku dan sistem pengawasan yang lalai, bukan pada menyalahkan orangtua.

Dengan empati, masyarakat dapat menjadi bagian dari proses pemulihan, bukan justru menambah luka.

Tag:  #kasus #daycare #trauma #cara #menghadapinya #menurut #psikolog

KOMENTAR