Berawal dari Burnout Metta Murdaya Sukses Bangun Produk Skincare Berbasis Jamu
Pendiri Juara Beauty sekaligus wellness expert, Metta Murdaya, saat ditemui di Kamar Solek, House of Tugu, Jakarta, Kamis (30/4/2026).(Kompas.com / Nabilla Ramadhian)
10:40
2 Mei 2026

Berawal dari Burnout Metta Murdaya Sukses Bangun Produk Skincare Berbasis Jamu

-  Di balik lahirnya JUARA Beauty, produk perawatan kulit yang berbasis jamu, ada titik balik personal yang mengubah cara pandang Metta Murdaya terhadap makna merawat diri.

Di usia muda, ia sempat terjebak dalam ritme kerja tanpa henti saat membangun karier di Amerika Serikat, ambisi besar, tekanan tinggi, dan waktu istirahat yang nyaris tak ada menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun, di tengah fase tersebut, tubuh dan pikirannya mulai “memberi sinyal”. Kelelahan ekstrem dan stres berkepanjangan membuatnya menyadari bahwa gaya hidup yang dijalani justru perlahan menggerus kesehatan sekaligus penampilannya. Dari titik itulah muncul pertanyaan sederhana yang mengubah segalanya.

Baca juga: Memulihkan Diri dan Rileksasi di Kamar Solek House of Tugu Jakarta

"Waktu saya berada di usia pertengahan dua puluhan, saya merasa sedang mengejar karier, sangat stres, dan bekerja tanpa henti. Lalu suatu hari saya berpikir, untuk apa sebenarnya saya bekerja sekeras ini?" kata Metta saat ditemui di Kamar Solek, House of Tugu, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Momen refleksi itu menjadi awal perjalanan Metta untuk kembali pada pendekatan yang lebih holistik, menggabungkan perawatan dari dalam dan luar.

Menggali potensi jamu

Ketika mencari produk perawatan diri yang holistik dan berkualitas tinggi di AS, Metta kesulitan menemukannya. Ingatannya lalu kembali pada tradisi jamu Nusantara, meski awalnya ia juga sempat meragukan keampuhannya.

Baca juga: Jamu Kian Digandrungi Gen Z, Dokter Ingatkan Pilih Wadah yang Aman

"Dulu kita selalu menganggap bahwa budaya Barat itu yang terbaik. Jadi walaupun saya tahu tentang jamu, saya sempat mengecilkan nilainya dan menganggapnya kuno karena pengaruh Barat yang sangat kuat," ungkap Metta.

Paradigma tersebut perlahan runtuh ketika ia menyadari bahwa kearifan lokal justru menyimpan jawaban yang selama ini ia cari.

Lini perawatan kulit premium JUARA pun akhirnya lahir di New York City, AS pada tahun 2014, terinspirasi oleh kekayaan botani Indonesia yang biasa digunakan dalam pengobatan herbal tradisional dan ritual kerajaan kuno.

Jenama ini didirikan dengan membawa pesan pemberdayaan diri yang kuat bagi para penggunanya.

"Namanya adalah JUARA, dan ini bukan semata-mata karena produknya yang juara, melainkan sebagai pengingat bagi diri kita sendiri bahwa kitalah yang juara," tutur Metta.

Baca juga: 3 Tips Memilih Jamu yang Aman Menurut Dokter, Hindari Pakai Botol Bekas

Ilustrasi kunyit. PEXELS/KAROLINA GRABOWSKA Ilustrasi kunyit.

Merawat kulit dengan prinsip pencegahan

Fondasi merek ini dibangun di atas prinsip dasar jamu, yakni memprioritaskan tindakan preventif.

Metta dan timnya mengemas kearifan lokal seperti kunyit, asam jawa, teh, beras, dan kemiri, menjadi produk global yang 100 persen vegetarian, serta bebas dari sulfat dan paraben.

Pendekatan preventif ini perlahan mengubah cara pandang masyarakat luas mengenai fungsi utama sebuah perawatan kecantikan.

"Kalau kita memikirkan jamu, itu tidak sama seperti obat pereda nyeri. Kita tidak menunggu sampai jatuh sakit baru meminumnya, melainkan meminumnya secara rutin untuk mencegah datangnya penyakit," terang Metta.

Baca juga: Bukan Sekadar Rutinitas Kecantikan, Perawatan Kulit Bantu Menjaga Kualitas Hidup

Tantangan meracik jamu berstandar kosmetik

Perjalanan Metta merealisasikan jenamanya tentu tidak lepas dari berbagai rintangan teknis. Termasuk cara pengolahan bahan mentah agar memenuhi standar kosmetik dan memiliki umur simpan yang aman.

Beruntung, ia memiliki rekan seorang ahli kimia kosmetik yang membimbingnya meracik formula tersebut secara terukur dan profesional.

"Kita tidak bisa asal memetik daun atau rempah lalu langsung mengaplikasikannya ke kulit. Kalau membuat racikan segar di spa mungkin bisa, tetapi untuk perawatan kulit yang diproduksi di pabrik, harus ada umur simpannya," kata Metta.

Ia mencontohkan proses ekstraksi bahan seperti kunyit yang harus diproses sedemikian rupa. Bagian yang diambil murni hanya antioksidannya saja, sehingga efektif mencerahkan tanpa meninggalkan noda kuning pada wajah pengguna.

Baca juga: 4 Jenis Perawatan Kulit Terlaris di Klinik Kecantikan

Ritual kecantikan penyembuh kelelahan mental

Melalui jenama yang ia kembangkan, Metta pada akhirnya menemukan jawaban atas burnout yang ia alami di awal kariernya.

Ia menyadari bahwa esensi dari tradisi jamu sebetulnya bukan sekadar tentang meracik atau meminum tanaman herbal, melainkan gaya hidup preventif untuk menjaga keseimbangan diri secara utuh.

"Filosofinya adalah hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari untuk menjaga diri kita tetap seimbang dan bahagia," kata Metta.

Berangkat dari filosofi jamu tersebut, Metta kini menjadikan rutinitas perawatan kulitnya di depan cermin, seperti saat membersihkan wajah atau memakai pelembap, layaknya ritual pemulihan mental dan pelepasan stres harian.

"Dulu kita berpikir bahwa tubuh mengendalikan pikiran, padahal kenyataannya pikiranlah yang mengendalikan tubuh kita. Jika kondisi mental kita sedang tidak baik, fisik kita juga bisa ikut terganggu," kata Metta.

Dengan menyelaraskan kembali pikiran dan tubuh melalui perawatan berlandaskan kearifan lokal, rutinitas kecantikan pun menjelma menjadi ruang personal untuk memulihkan energi.

"Momen saat kita membuka dan menutup hari itu sangat penting bagi kesehatan dan pandangan mental kita. Waktu merawat kulit sebenarnya adalah momen ritual ajaib yang bisa dimanfaatkan untuk memulai serta mengakhiri hari dengan baik," pungkas Metta.

Baca juga: Melihat Peluang Produk Herbal Kian Dikenal di Kancah Global

Tag:  #berawal #dari #burnout #metta #murdaya #sukses #bangun #produk #skincare #berbasis #jamu

KOMENTAR