Anak Punk Tak Selalu ‘Dekil’, Hafid dan Cerita Melawan Stereotip
Gaya hidup anak punk kerap dipandang sebelah mata. Penampilan nyentrik seperti jaket kulit, sepatu boots, hingga rambut mohawk sering kali langsung dikaitkan dengan citra “kotor”, “urakan”, bahkan menakutkan.
Padahal, tidak semua anak punk menjalani kehidupan seperti yang selama ini dibayangkan.
Cerita berbeda datang dari Hafid alias Kipli (22), pemuda asal Pemalang yang kini bekerja di sebuah depo sayur di Solo.
Melalui kesehariannya, Hafid ingin menunjukkan bahwa identitas sebagai anak punk tidak menghalanginya untuk hidup mandiri dan produktif.
Berawal dari Rasa Penasaran
Hafid mengaku pertama kali mengenal punk dari lingkungan sekitarnya. Di kampung halamannya, cukup banyak anak muda yang menjalani gaya hidup tersebut.
Namun, seperti kebanyakan orang, ia sempat memiliki pandangan negatif.
“Dulu aku juga mikirnya, anak punk itu hidupnya di jalan, enggak jelas,” ujarnya saat ditemui Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Rasa penasaran kemudian mendorongnya untuk mengenal lebih dalam. Seiring waktu, pandangannya berubah. Ia melihat bahwa punk bukan sekadar soal penampilan, melainkan juga nilai hidup.
“Setelah dijalani, ternyata bukan cuma soal hidup di jalan. Justru diajarin buat mandiri dan bertanggung jawab sama hidup sendiri,” kata Hafid.
Merantau dan Menemukan Jalan Hidup
Keputusan untuk merantau ke Solo pada awal 2025 menjadi titik penting dalam hidup Hafid.
Di kota ini, ia bertemu dengan Hilman Ramadhon, sesama perantau yang kemudian menjadi rekan kerjanya.
Pertemuan tersebut membawanya pada pekerjaan yang kini ia jalani.
Hafid bekerja di depo sayur milik Hilman, yang ia kenal melalui komunitas vespa.
Setiap pukul 5 pagi, ia sudah berangkat ke pasar untuk berbelanja sayuran demi memenuhi kebutuhan pelanggan.
Kini, ia menjalani keseharian sebagai pekerja depo sayur. Ia berangkat ke pasar, bekerja, dan memenuhi kebutuhannya sendiri seperti pekerja pada umumnya.
Baca juga: 9 Item Fashion Anak Punk yang Ikonik, dari Patch hingga Mohawk
Hafid (22), anak punk jualan sayur.
Fashion sebagai Identitas
Bagi Hafid, fashion dalam kultur punk bukan sekadar gaya, melainkan bentuk identitas diri. Penampilan menjadi cara untuk menunjukkan siapa dirinya.
“Buatku, fashion bisa nunjukin kalau kita anak punk. Kayak jaket kulit, boots, atau rambut mohawk, itu identitas, tapi nggak paten juga ya, menurutku begitu,” jelasnya.
Menariknya, sebagian item yang ia kenakan merupakan hasil modifikasi sendiri. Ia pernah membeli jaket bekas seharga Rp20.000, lalu mengubah tampilannya agar sesuai dengan gaya yang diinginkan.
“Awalnya thrift murah, terus dimodifikasi. Itu juga bagian dari kreativitas,” ujarnya.
Tak hanya itu, gaya rambut mohawk yang identik dengan anak punk juga ia rawat dengan cara sederhana.
Ia mengaku tidak memiliki perawatan khusus, cukup menggunakan hairspray agar rambut tetap tegak sepanjang hari.
Melawan Stigma Negatif
Meski hidup mandiri dan bekerja, Hafid tidak luput dari stigma negatif. Ia kerap merasakan pandangan sinis dari orang-orang di sekitarnya, bahkan saat melakukan aktivitas sehari-hari seperti berbelanja di pasar.
“Ada yang lihatin kayak 'aneh' gitu, mungkin karena nggak biasa melihat anak punk belanja sayuran, tapi nggak papa justru kita tunjukkan aja kalau anak puni juga bekerja seperti orang-orang pada umumnya,” katanya.
Menurut Hafid, anggapan tersebut muncul karena masyarakat hanya melihat satu sisi, yakni anak punk yang hidup di jalan, tanpa memahami keberagaman latar belakangnya.
“Ada memang yang hidup di jalan, tapi enggak semua seperti itu. Banyak juga yang kerja, punya tempat tinggal, dan hidup normal,” jelasnya.
Baca juga: Kisah Kipli Menghapus Stigma Negatif Anak Punk, Mandiri dan Tetap Merawat Diri
Lebih dari Sekadar Penampilan
Hafid menegaskan bahwa penampilan tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar dalam menilai seseorang. Baginya, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani hidup dan bertanggung jawab atas pilihannya.
“Kita juga enggak ganggu orang. Yang penting kita kerja, mandiri, dan melakukan hal yang baik,” ujarnya.
Melalui kisahnya, Hafid berharap masyarakat bisa melihat anak punk dari sudut pandang yang lebih luas.
Di balik penampilan yang dianggap berbeda, ada individu yang berjuang untuk hidup layak dan mandiri.
Tag: #anak #punk #selalu #dekil #hafid #cerita #melawan #stereotip