Riwayat Pendidikan Prabowo Subianto yang Bilang Orang Desa Tak Pakai Dolar
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato viral tentang orang desa tidak pakai dolar. Pidato ini disampaikannya saat meresmikan Museum Marsinah dan operasionalisasi Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Padahal, nilai rupiah tengah melemah dengan menyentuh level Rp17.600 per dolar AS. Prabowo menyatakan dengan santai: “Rupiah begini, rupiah begini, apa, dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?”
Pernyataan ini seketika memicu perdebatan luas di masyarakat, media sosial, dan kalangan ekonom. Pendidikan Prabowo Subianto pun ikut dikulik di tengah pernyataan kontroversial tersebut.
Riwayat Pendidikan Prabowo Subianto
Prabowo Subianto memiliki latar belakang pendidikan yang unik dan kosmopolitan.
Karena ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, mengalami pengasingan politik pada era Soekarno, Prabowo menghabiskan masa kecil dan remajanya di berbagai negara.
Pendidikannya mencerminkan perpaduan antara sekolah internasional dan pendidikan militer formal di Indonesia.
Pendidikan Formal
Berikut adalah riwayat pendidikan formal Prabowo Subianto:
- TK: Sekolah Sumbangsih, Jakarta (1956–1957)
- SD: The Dean School, Singapura (1957–1960)
- SD: Glenealy Junior School, Hong Kong (1960–1962)
- SMP: Victoria Institution, Kuala Lumpur, Malaysia (1962–1964)
- SMP: Zurich International School (American International School of Zurich), Swiss (1964–1966)
- SMA: The American School in London, Inggris (1966–1968/1969) — Ia lulus dari sini.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di luar negeri, Prabowo memilih jalur militer. Pada tahun 1970, ia masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI/Akademi Militer) di Magelang.
Ia lulus pada tahun 1974 bersama angkatan yang melahirkan banyak pemimpin militer senior, termasuk Susilo Bambang Yudhoyono.
Pendidikan dan Pelatihan Militer Lanjutan (Informal/Fungsional)
Prabowo juga mengikuti berbagai kursus dan pelatihan militer khusus, antara lain:
- Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (1974)
- Kursus Para Komando (1975)
- Kursus Perwira Penyelidik (1977)
- Free Fall (1981)
- Counter Terrorism Course GSG-9, Jerman (1981)
- Special Forces Officer Course, Fort Benning, Amerika Serikat (1981)
- Berbagai pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Sesko AD)
Pendidikan militer ini membentuk karirnya di Kopassus dan Kostrad, yang kemudian menjadi fondasi perjalanan politiknya.
Latar Belakang dan Dampak Pendidikan
Masa sekolah di luar negeri membuat Prabowo fasih berbahasa Inggris, serta memahami budaya internasional. Ia juga mahir berbahasa Prancis, Jerman, dan memiliki pemahaman dasar bahasa Arab.
Pengalaman kosmopolitan ini sering terlihat dalam gaya kepemimpinannya yang menggabungkan perspektif global dengan semangat nasionalisme Indonesia.
Pendidikan Prabowo yang beragam — dari sekolah internasional hingga akademi militer bergengsi — membentuknya menjadi sosok yang disiplin, strategis, dan berwawasan luas.
Meski tidak menempuh pendidikan sipil tingkat sarjana seperti banyak politisi lain, latar belakang militernya dianggap setara dan memberikan keunggulan dalam kepemimpinan dan manajemen krisis.
Hingga kini, sebagai Presiden, pengalaman pendidikan dan militer Prabowo Subianto terus memengaruhi kebijakannya, terutama di bidang pertahanan, ketahanan pangan, dan pembangunan sumber daya manusia.
Ucapan Orang Desa Tak Pakai Dolar
Bagi sebagian pihak, ucapan Prabowo merupakan bentuk komunikasi yang membumi dan menenangkan. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa mayoritas rakyat Indonesia, khususnya di pedesaan, tidak terlibat langsung dalam transaksi dolar.
Kehidupan mereka lebih bergantung pada ekonomi lokal: bertani, berdagang kecil, memenuhi kebutuhan pokok dengan rupiah. Pangan dan energi dinilainya masih aman, sehingga tidak perlu panik berlebihan.
Namun, pernyataan tersebut juga menuai kritik tajam. Para ekonom dan pengamat menilai pandangan itu terlalu simplistis. Meski warga desa tidak membeli barang dengan dolar secara langsung, pelemahan rupiah berdampak tidak langsung melalui rantai pasok impor.
Pupuk, pestisida, bahan bakar minyak (BBM), pakan ternak, obat-obatan, hingga kedelai untuk tempe—komoditas penting masyarakat desa—sangat bergantung pada impor.
Sekitar 90 persen kedelai Indonesia masih didatangkan dari luar negeri. Saat dolar menguat, biaya produksi naik, harga eceran pun ikut melonjak, dan inflasi “mencopet” dompet rakyat kecil.
Tag: #riwayat #pendidikan #prabowo #subianto #yang #bilang #orang #desa #pakai #dolar