Strategi Brand Fesyen Lokal Tembus Pasar Global
Koleksi Rendezvous, Hian Tjen x Josephine Anni (Putri Aulia/Kompas.com)
12:05
20 Mei 2026

Strategi Brand Fesyen Lokal Tembus Pasar Global

- Perkembangan industri fesyen kini menuntut para perancang pakaian untuk berpikir lebih strategis.

Selain menciptakan karya visual yang menarik, desainer juga perlu menyiapkan rencana ekspansi bisnis secara matang sejak awal peluncuran koleksi.

Panggung fashion week saat ini tidak lagi sekadar menjadi tempat memamerkan rancangan terbaru, melainkan arena uji coba pasar untuk melihat respons pelanggan secara langsung sebelum sebuah jenama benar-benar siap bersaing di luar negeri.

"Pengakuan itu harus dari pihak yang lain, bukan dari kita sendiri gitu. Nah kalau kita sendiri yang ngomong kita bagus, itu kan cuman kita aja yang ngomong ya."

Hal tersebut dituturkan oleh Advisor JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, Thresia Mareta, dalam diskusi JF3 bertajuk "Recrafted: Shaping the Future" di Summarecon Discovery, Jakarta Utara, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: Hartono Gan Sebut Fesyen Bukan Cuma soal Baju, tapi Tentang Kejujuran

Strategi jenama fesyen lokal menuju panggung dunia

Jangan lupakan karakter konsumen yang beragam

Memasarkan produk fesyen membutuhkan kejelian dalam melihat peluang pembeli. Sebab, beberapa jenama lokal kadang luput merangkul konsumen potensial. Mereka hanya fokus berjualan di area perkotaan tertentu demi menjaga citra eksklusif.

Advisor JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, Thresia Mareta, dalam diskusi JF3 bertajuk Recrafted: Shaping the Future di Summarecon Discovery, Jakarta Utara, Selasa (19/5/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Advisor JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, Thresia Mareta, dalam diskusi JF3 bertajuk Recrafted: Shaping the Future di Summarecon Discovery, Jakarta Utara, Selasa (19/5/2026).

Padahal, terdapat kelompok konsumen spesifik yang mencari nilai kejujuran di balik proses produksi fesyen, serta upaya pemberdayaan perajin daerah.

Peluang ekonomi ini akan terlewat begitu saja jika perancang enggan menjajaki selera pelanggan yang lebih beragam.

"Kalau cuma bisa jualan di market yang satu aja, itu enggak akan bisa berkembang dengan baik brand-nya gitu," tutur Thresia.

Baca juga: Konsumen Gen Z Kritis Soal Isu Sosial, Brand Fesyen Wajib Punya Value

Bazar bukan sekadar jualan, melainkan riset pasar

Inilah mengapa JF3 Fashion Show diadakan di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan Summarecon Mall Serpong, Kabupaten Tangerang. Dua area tersebut memiliki pasar peminat fesyen yang berbeda-beda.

Karena karakter pembeli yang sangat beragam, area belanja di pameran mode sengaja dihadirkan untuk melatih kepekaan bisnis para desainer. Lewat area ini, perancang busana bisa turun langsung berinteraksi, sekaligus memantau daya beli pengunjung dari berbagai kalangan.

"Kalau memang ikut Fashion Village atau Food Street, JFW mengharapkan itu bukan cuma sekedar ikut bazar jualan gitu, tapi bener-bener dipelajari market-nya itu bagaimana," tambah Thresia.

Baca juga: Strategi Jenama Fesyen Lokal Menarik Perhatian Media

Salah satu koleksi ready-to-wear Hartono Gan di LAKON Store, Mall Summarecon Kelapa Gading pada Sabtu (25/04) Salah satu koleksi ready-to-wear Hartono Gan di LAKON Store, Mall Summarecon Kelapa Gading pada Sabtu (25/04)

Membangun jejaring global melalui PINTU Incubator

Apabila sebuah jenama sukses membuktikan kemampuannya memetakan pasar domestik, langkah strategis berikutnya adalah menyiapkan ekspansi mancanegara.

Kehadiran program pendampingan seperti PINTU Incubator, yang turut didirikan oleh Thresia, dirasa sangat membantu mengenalkan pelaku usaha fesyen pada ekosistem transaksi antarnegara.

"Bagi saya sih, PINTU itu sudah membuka banyak kemungkinan-kemungkinan baru bagi desainer-desainer muda, dengan membawa mereka ke Paris. Karena bukan sekadar pamer hasil kreasi, pamer fashion, tetapi juga dibuka jejaring," terang editor fesyen, Daniel Ngantung.

Supaya koleksinya dilirik oleh pembeli asing, cara desainer memamerkan busananya tentu tidak boleh asal-asalan. Melibatkan penata gaya profesional sangat dianjurkan agar presentasi karya semakin maksimal.

Langkah ini nyatanya terbukti ampuh, contohnya saat sebuah jenama busana bergaya streetwear lokal seperti Lil Public, sukses mengantongi kesepakatan komersial di Paris.

Baca juga: Bara Nusa, Koleksi Fesyen dari Organic Culture dan Teman Tuli

Desainer sekaligus pemilik Lil Public, jenama baju lokal asal Bandung, bernama Alif (kiri) dan Hafiz (kanan), saat ditemui oleh Kompas.com di Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/7/2025).KOMPAS.com / Nabilla Ramadhian Desainer sekaligus pemilik Lil Public, jenama baju lokal asal Bandung, bernama Alif (kiri) dan Hafiz (kanan), saat ditemui oleh Kompas.com di Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/7/2025).

Keberhasilan di pameran berskala internasional tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa karya desainer Indonesia harus selalu mengandalkan kain tradisional untuk bisa dilirik pasar global.

Desain modern yang relevan dengan tren pakaian urban nyatanya sanggup merebut perhatian, dan membuka peluang transaksi dari pembeli Benua Eropa.

Melangkah ke luar zona nyaman memberikan tantangan tersendiri bagi pelaku bisnis fesyen. Perancang busana akan berhadapan dengan pembeli internasional yang menetapkan standar kualitas dan konsistensi sangat tinggi.

Namun, pengalaman langsung berhadapan dengan pasar global ini diyakini mampu menumbuhkan mentalitas bisnis yang kuat.

"Desainer-desainer muda akan mempunyai pengalaman yang barangkali tidak bisa didapat oleh desainer lain di usia yang sama," terang Daniel.

"Pada masa-masa itulah sebenarnya harus mulai mendorong kepada batas-batas yang selama ini dia takutkan," lanjut dia.

Baca juga: Membuka Pintu di Paris, Memperkenalkan Fashion Indonesia ke Dunia

Tag:  #strategi #brand #fesyen #lokal #tembus #pasar #global

KOMENTAR