Mengapa Banyak Perempuan Lebih Cemas Saat Memasuki Usia 30-an?
Ilustrasi cemas.(FREEPIK)
17:35
30 Mei 2026

Mengapa Banyak Perempuan Lebih Cemas Saat Memasuki Usia 30-an?

– Banyak perempuan mengalami peningkatan kecemasan, keraguan diri, dan tekanan emosional yang lebih besar ketika memasuki usia 30-an.

Berbagai tuntutan sosial, ekspektasi pribadi, hingga perubahan identitas membuat usia 30-an sampai 40-an menjadi periode yang tidak selalu mudah dijalani.

Menurut konselor profesional berlisensi dan penulis buku ‘Unpacked: How to Detach From the Subconscious Beliefs That Are Sabotaging Your Life’, Kristen Jacobsen, tekanan yang dirasakan perempuan pada usia ini, sering kali berasal dari harapan masyarakat mengenai bagaimana kehidupan seseorang seharusnya berjalan.

Baca juga: 7 Kebiasaan Pagi Hari yang Diam-diam Bisa Memicu Kecemasan

Lalu, mengapa perempuan sering merasa lebih cemas di usia 30-an?

Alasan perempuan lebih cemas di usia 30-an

Merasa harus sudah mencapai berbagai target kehidupan

Salah satu penyebab utama meningkatnya kecemasan pada perempuan usia 30-an adalah munculnya tekanan untuk memenuhi berbagai pencapaian hidup yang dianggap ideal.

Di usia ini, banyak perempuan mulai membandingkan diri dengan standar sosial yang berkembang di lingkungan sekitar. 

Mereka merasa seolah harus sudah memiliki karier yang stabil, menikah, mempunyai anak, atau mencapai target finansial tertentu.

Jacobsen mengatakan, masyarakat masih memiliki ekspektasi kuat terhadap pencapaian seseorang di usia dewasa.

"Ada harapan dari masyarakat bahwa pada usia ini kamu sudah memiliki jalur karier, menikah, dan memiliki anak," kata Jacobsen, seperti dilansir SELF Magazine, Sabtu (30/5/2026).

Jika target-target tersebut belum tercapai, sebagian wanita dapat merasa tertinggal dibandingkan teman sebaya. Perasaan inilah yang kemudian memicu kecemasan, keraguan diri, dan ketakutan bahwa mereka tidak berkembang sesuai harapan.

Setiap keputusan terasa sangat menentukan masa depan

Berbeda dengan usia 20-an yang sering dianggap sebagai masa eksplorasi, usia 30-an kerap dipandang sebagai periode ketika keputusan hidup memiliki konsekuensi yang lebih besar.

Baca juga: Psikolog Ungkap 5 Tanda Kecemasan pada Pria yang Kerap Tak Disadari

Banyak perempuan merasa ruang untuk mencoba hal baru semakin sempit. Keputusan terkait pekerjaan, hubungan, tempat tinggal, atau rencana memiliki anak sering dianggap sebagai pilihan yang akan memengaruhi kehidupan dalam jangka panjang.

Menurut Jacobsen, kondisi ini membuat banyak orang merasa tidak memiliki banyak kesempatan untuk gagal atau mengubah arah hidup.

"Pada tahap kehidupan ini, setiap keputusan bisa terasa sangat besar dan permanen, seolah tidak ada ruang untuk bereksperimen, mengambil risiko, atau gagal," ujarnya.

Akibatnya, perempuan menjadi lebih sering memikirkan berbagai kemungkinan buruk sebelum mengambil keputusan. 

Kebiasaan ini dapat berkembang menjadi overthinking yang berkepanjangan dan meningkatkan tingkat kecemasan sehari-hari.

Menjadi lebih sensitif terhadap penilaian orang lain

Memasuki usia 30-an, banyak wanita berharap mereka akan lebih percaya diri dan tidak lagi memedulikan komentar orang lain. Namun kenyataannya, kondisi tersebut tidak selalu terjadi.

Jacobsen menilai, banyak kliennya yang berusia 30-an dan 40-an justru menjadi lebih sensitif terhadap pertanyaan atau komentar yang berkaitan dengan kehidupan pribadi mereka.

"Jika mereka belum mencapai tonggak tertentu dalam hidup, mereka bisa sangat terpengaruh oleh pertanyaan sederhana seperti, 'Apakah kamu sedang berkencan?' atau 'Kapan punya anak?'," ungkap Jacobsen.

Komentar yang sebenarnya mungkin dimaksudkan sebagai basa-basi dapat terasa seperti kritik atau pengingat bahwa mereka belum memenuhi ekspektasi tertentu.

Perasaan ini semakin kuat ketika seseorang diam-diam percaya bahwa dirinya memang belum cukup berhasil atau belum berada di posisi yang diharapkan.

Pengaruh media sosial dan budaya kompetitif 

Selain tekanan dari lingkungan sekitar, media sosial juga menjadi faktor yang memperburuk kecemasan pada banyak perempuan usia 30-an.

Setiap hari, seseorang dapat melihat unggahan tentang promosi jabatan, pernikahan, kelahiran anak, pembelian rumah, hingga berbagai pencapaian lain dari orang-orang di sekitarnya. 

Tanpa disadari, hal tersebut memicu kebiasaan membandingkan diri. Jacobsen menyebut, budaya produktivitas yang berlebihan atau hustle culture ikut memperparah kondisi ini karena selalu menciptakan target baru yang harus dicapai.

Baca juga: 7 Kebiasaan Pagi Hari yang Diam-diam Bisa Memicu Kecemasan

"Kita semua memiliki garis waktu masing-masing, tetapi media sosial membuat hal itu sulit untuk diakui," tutur Jacobsen.

Paparan terus-menerus terhadap pencapaian orang lain dapat menciptakan ilusi bahwa semua orang tampak sukses dan bahagia. 

Sementara itu, seseorang mungkin merasa kehidupannya berjalan lebih lambat atau tidak sebaik yang terlihat di media sosial.

Padahal, apa yang ditampilkan di internet sering kali hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh dari realitas yang mereka alami.

Dengan memahami sumber kecemasan tersebut, perempuan dapat lebih mudah membangun rasa percaya diri dan menjalani hidup tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Tag:  #mengapa #banyak #perempuan #lebih #cemas #saat #memasuki #usia

KOMENTAR