Mira Sumanti Cerita Proses Healing setelah Gagal Menikah, Belajar Berdamai dengan Diri
- Banyak orang menganggap healing sebagai kondisi ketika rasa sakit benar-benar hilang dan masa lalu tidak lagi meninggalkan jejak.
Bagi Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti, pemulihan dari sebuah luka emosional tidak selalu berarti melupakan apa yang pernah terjadi.
Setelah mengalami kegagalan pernikahan yang sempat mengguncang hidupnya, Mira menjalani perjalanan panjang untuk memahami arti pemulihan yang sesungguhnya.
Baca juga: Gagal Menikah, Mira Sumanti Ungkap Manfaat Journaling untuk Menyembuhkan Luka
Proses itu tidak berlangsung dalam hitungan minggu atau bulan, melainkan bertahun-tahun hingga akhirnya ia menemukan satu pemahaman penting, yaitu luka mungkin akan sembuh, tetapi bekasnya tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.
Pengalaman tersebut membuat Mira melihat healing bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebuah proses untuk berdamai dengan masa lalu dan menerima bahwa hidup terus berjalan meski tidak sesuai dengan rencana yang pernah dibuat.
Trauma gagal menikah seperti luka yang meninggalkan bekas
Mira mengungkap, kegagalan menikah bukan sekadar berakhirnya sebuah hubungan. Peristiwa itu juga meninggalkan trauma emosional yang membutuhkan waktu untuk dipulihkan.
Ia mengibaratkan pengalaman tersebut seperti luka fisik yang perlahan sembuh seiring berjalannya waktu.
“Trauma setelah kegagalan menikah itu aku analogikan seperti luka. Bisa sembuh, tapi setelahnya akan ada bekasnya. Itu akan menjadi sesuatu yang ada di dalam diri kita,” jelas Mira saat ditemui Kompas.com di Jakarta Selatan, Jumat (29/5/2026).
Menurut Mira, bekas luka tersebut bukan sesuatu yang harus dihapus atau diingkari. Justru, keberadaannya menjadi pengingat atas pengalaman yang pernah dilalui dan pelajaran yang didapatkan dari masa sulit tersebut.
Seiring waktu, ia menyadari, proses pemulihan tidak berarti menghilangkan seluruh rasa sakit, melainkan belajar hidup berdampingan dengan pengalaman yang pernah membentuk dirinya.
Baca juga: Kisah Mira Sumanti Gagal Menikah, Bangkit Lewat Dating App hingga Menemukan Jati Diri
Ketakutan yang lama menghantuinya
Dalam perjalanan healing, Mira mengaku pernah memiliki satu ketakutan yang terus membayanginya.
Ketakutan itu bukan tentang kesendirian atau kegagalan membangun hubungan baru, melainkan kemungkinan melihat mantan tunangannya melanjutkan hidup lebih dulu.
“Dulu salah satu hal yang aku takuti itu ketika melihat mantan tunanganku menikah duluan. Rasanya seperti ada kompetisi dengan dia, siapa yang akan nikah duluan,” ujarnya.
Perasaan tersebut muncul, karena selama bertahun-tahun mereka pernah membangun mimpi bersama.
Ketika hubungan berakhir, ada bagian dalam dirinya yang masih bergulat dengan rasa kehilangan dan berbagai kemungkinan yang tidak pernah terjadi.
Meski memahami bahwa hubungan tersebut telah usai, bayangan tentang masa depan yang pernah direncanakan bersama tidak serta-merta hilang begitu saja.
Saat ketakutan itu akhirnya menjadi kenyataan
Suatu hari, momen yang selama ini ditakutkan Mira akhirnya benar-benar datang.
Ia mendapat kabar dari seorang teman bahwa mantan tunangannya telah menikah dengan perempuan Indonesia di Bali.
“Suatu ketika, temanku menginfokan kalau dia menikah dengan wanita Indonesia juga di Bali. Aku enggak tahu berita itu karena aku sudah memutus semua sosial media dan kontak dia,” katanya.
Kabar tersebut sempat membuatnya menghadapi kembali emosi yang pernah ia rasakan bertahun-tahun sebelumnya. Namun, respons yang muncul ternyata berbeda dari yang selama ini ia bayangkan.
“Itu jadi salah satu momen menakutkan buat aku. Tapi waktu itu aku menangis, bukan karena sedih dan merasa kalah, tetapi karena aku merasa lega,” ujarnya.
Momen itu menjadi titik refleksi yang penting bagi Mira. Ia menyadari, perasaannya terhadap masa lalu telah berubah.
Alih-alih merasa tertinggal atau kalah dalam sebuah perlombaan yang tidak pernah benar-benar ada, ia justru merasakan ketenangan.
Baca juga: Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna
Ketika menyadari diri sudah cukup sembuh
Penulis Buku Swipe Therapy, Mira Sumanti.Setelah menerima kabar tersebut, Mira mulai memahami bahwa dirinya bukan lagi orang yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya.
Prioritas hidupnya berubah. Pandangannya tentang hubungan juga berkembang seiring berbagai pengalaman yang telah dilalui.
“Aku merasa semuanya memang sudah berubah dan apa yang aku cari dari pasangan aku juga sudah berbeda. Ternyata, hal yang paling aku takuti enggak bikin aku runtuh pas terjadi,” katanya.
Itulah salah satu tanda bahwa proses healing yang dijalaninya selama ini telah membawa perubahan yang nyata.
Ia menyadari, pemulihan bukan tentang menghapus masa lalu atau berpura-pura tidak pernah terluka. Healing adalah kemampuan untuk menghadapi kembali hal-hal yang dahulu terasa sangat menakutkan tanpa lagi merasa hancur karenanya.
Baca juga: Match di Aplikasi Kencan? Cek Dulu Keaslian Identitas Si Dia agar Tak Kena Tipu
“Proses healing itu akan terus berlangsung, meskipun dalam waktu yang panjang. Ketika itu terjadi dan aku baik-baik saja, aku tahu aku sudah cukup sembuh,” pungkas Mira.
Dari pengalaman tersebut, Mira menemukan bahwa kesembuhan emosional sering kali datang bukan saat luka menghilang sepenuhnya, melainkan ketika seseorang mampu melihat kembali masa lalunya dengan tenang.
Bukan karena rasa sakit itu tidak pernah ada, tetapi karena ia telah belajar menerima bahwa setiap pengalaman, termasuk yang paling menyakitkan sekalipun, akan selalu menjadi bagian dari cerita hidup yang membentuk dirinya hari ini.
Tag: #mira #sumanti #cerita #proses #healing #setelah #gagal #menikah #belajar #berdamai #dengan #diri