Cara Mengatasi Burnout Menurut Psikiater, Mulai dari Me Time hingga Curhat
Ilustrasi burnout. Psikolog mengungkap tiga kebiasaan sederhana yang bisa membantu mencegah burnout sejak dini, mulai dari memberi jeda hingga meluangkan waktu untuk pemulihan.(FREEPIK/DC STUDIO)
16:05
3 Juni 2026

Cara Mengatasi Burnout Menurut Psikiater, Mulai dari Me Time hingga Curhat

Tuntutan pekerjaan yang tinggi, target yang terus mengejar, hingga budaya kerja yang mengagungkan kesibukan kerap membuat banyak orang merasa kelelahan.

Namun, ketika rasa lelah itu berlangsung terus-menerus hingga menghilangkan semangat dan kepuasan dalam bekerja, kondisi tersebut bisa menjadi tanda burnout.

Dokter spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Adhitya S. Ramadianto, SpKJ(K), mengingatkan bahwa pekerja perlu meluangkan waktu untuk diri sendiri guna mencegah maupun mengatasi burnout.

Menurut dr. Adhitya, burnout bukan sekadar rasa lelah biasa setelah bekerja. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan yang terasa tidak sebanding dengan beban kerja yang dihadapi, disertai hilangnya motivasi dan berkurangnya kepuasan terhadap pekerjaan yang dilakukan.

"Kalau memang sudah mulai merasa burnout, kehilangan motivasi, bisa dilihat dari lingkup yang paling kecil dari diri sendiri. Mungkin memang kita lagi butuh istirahat, hal-hal yang bisa bikin kita lebih bersemangat, lebih rileks," ujar Adhitya dikutip dari ANTARA, Selasa (3/6/2026).

Luangkan Waktu untuk Diri Sendiri

Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan saat mulai merasakan tanda-tanda burnout adalah memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Me time tidak selalu berarti mengambil cuti panjang atau bepergian ke tempat jauh. Aktivitas sederhana seperti membaca buku, berolahraga, berjalan santai, menikmati hobi, atau sekadar beristirahat tanpa memikirkan pekerjaan dapat membantu memulihkan energi mental.

Langkah ini penting karena setiap orang memiliki batas kemampuan fisik dan emosional yang berbeda. Ketika energi terus terkuras tanpa kesempatan untuk mengisi ulang, risiko burnout akan semakin besar.

Baca juga: WFH Bikin Lelah Mental? Lakukan 3 Hal Ini untuk Cegah Burnout

Kenali Batas Kemampuan Diri

Dokter Adhitya menjelaskan bahwa burnout muncul akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan seseorang untuk menghadapinya.

Kondisi ini dapat semakin berat apabila seseorang bekerja dalam lingkungan yang penuh tekanan, terus dituntut untuk mencapai performa tinggi, tetapi tidak mendapatkan apresiasi, dukungan, atau sumber daya yang memadai.

"Selama kita masih manusia, waktu, energi, dan tenaga kita pasti terbatas. Akan ada batasnya dan sangat manusiawi untuk membutuhkan istirahat," kata dr. Adhitya.

Karena itu, penting bagi pekerja untuk mengenali sinyal tubuh dan kondisi emosionalnya.

Jika mulai merasa mudah lelah, sulit berkonsentrasi, kehilangan semangat, atau merasa pekerjaan tidak lagi bermakna, bisa jadi tubuh sedang memberi tanda bahwa sudah waktunya beristirahat.

Jangan Pendam Sendiri, Cobalah Curhat

Selain beristirahat, menjangkau orang-orang terdekat atau reach out juga menjadi cara yang dianjurkan untuk mengurangi tekanan psikologis akibat pekerjaan.

Bercerita kepada pasangan, keluarga, sahabat, atau orang yang dipercaya dapat membantu seseorang melepaskan beban pikiran yang selama ini dipendam.

Terkadang, perasaan lega setelah berbagi cerita dapat membantu seseorang melihat masalah dari sudut pandang yang lebih jernih.

Curhat juga dapat menjadi bentuk dukungan emosional yang penting ketika seseorang sedang merasa kewalahan menghadapi tuntutan pekerjaan.

Baca juga: Cara ASN Mengatur Waktu agar WFH Jumat Tak Bikin Burnout

Berdiskusi dengan Rekan Kerja

Tak hanya dukungan emosional, bantuan praktis juga bisa diperoleh dengan berdiskusi bersama rekan kerja.

Menurut dr. Adhitya, rekan kerja mungkin memiliki pengalaman serupa dan dapat memberikan saran mengenai cara mengelola tugas, menyusun prioritas, atau menghadapi tekanan di tempat kerja.

Melalui diskusi tersebut, seseorang tidak hanya merasa lebih didukung, tetapi juga bisa menemukan solusi konkret untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

Cari Bantuan Profesional Jika Diperlukan

Jika berbagai upaya seperti beristirahat, me time, dan berbagi cerita belum cukup membantu, berkonsultasi dengan profesional kesehatan jiwa dapat menjadi pilihan.

Psikolog maupun psikiater dapat membantu seseorang memahami penyebab burnout yang dialami serta memberikan strategi yang sesuai untuk mengelola stres dan memulihkan kondisi mental.

Menurut dr. Adhitya, mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, langkah tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri.

Tag:  #cara #mengatasi #burnout #menurut #psikiater #mulai #dari #time #hingga #curhat

KOMENTAR