Ikhtiar Mbah Kibar Melawan Sita Bank dengan Goresan Kuas, Bukan Belas Kasihan
Di usia 76 tahun, Suhardiyono Kibar—atau yang akrab disapa Mbah Kibar—seharusnya tengah menikmati masa senja dengan tenang. Namun, takdir memaksanya untuk kembali berpacu dengan waktu. Perupa realis asal Yogyakarta ini kini sedang berjuang menyelamatkan tanah warisan keluarganya yang terancam disita bank akibat utang ratusan juta rupiah.
Menariknya, Mbah Kibar memilih jalan ksatria. Alih-alih mengemis atau meminta donasi, ia memilih tetap berdiri tegak sebagai seniman profesional: menjual karya-karya lukisannya untuk melunasi utang tersebut.
Tanggung Jawab di Atas Kanvas
Masalah ini bermula ketika pihak keluarga meminjam uang ke bank menggunakan nama Mbah Kibar beberapa waktu lalu. Nominalnya tak main-main, mencapai sekitar Rp500 juta. Ironisnya, Mbah Kibar mengaku tidak menikmati sepeser pun dari uang tersebut. Namun, ketika pembayaran tersendat dan pihak bank mulai menagih, ia memilih pasang badan.
"Saya tidak pakai uangnya, saudara yang pakai. Saya sempat kaget, tapi daripada diramaikan nanti malah wagu (tidak pantas), ya sudah, ini saya jadikan tanggung jawab saya. Saya selesaikan," ujar Mbah Kibar dengan nada legawa, Rabu (15/4/2026).
Motivasi terbesarnya adalah sebidang tanah warisan di Banguntapan, Bantul. Baginya, tanah tersebut bukan sekadar aset, melainkan identitas dan sejarah keluarga yang tak ternilai harganya.
Suhardiyono Kibar atau Mbah Kibar menjual lukisan karyanya untuk menyelamatkan tanah warisan yang terancam disita oleh bank. (Suara.com/Hiskia)Profesionalisme di Tengah Kondisi Terjepit
Meski kini tinggal sendiri di sebuah rumah di wilayah Ngemplak, Sleman—setelah sebelumnya rumahnya di Banguntapan rusak parah—Mbah Kibar tetap memegang teguh prinsipnya. Ia menawarkan deretan lukisan tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno, Pangeran Diponegoro, hingga Gibran Rakabuming Raka yang dikerjakan dengan detail luar biasa.
"Saya ingin profesional menjual lukisan, tidak ingin dikasihani. Hidup saya dan anak-anak semuanya dari lukisan," tegasnya. Baginya, setiap rupiah yang dibayarkan ke bank haruslah berasal dari nilai estetika dan kerja kerasnya di atas kanvas.
Perjalanan ini tidaklah mudah. Kondisi kesehatan Mbah Kibar sempat menurun drastis akibat vertigo. Beruntung, ia dibantu oleh Guru Besar UGM, Prof. Ali Agus, yang memberinya tempat tinggal sementara selama dua bulan terakhir untuk fokus berkarya dan pulih.
Pahitnya Kehilangan Karya
Sebelum perjuangan ini viral, Mbah Kibar sempat mengalami kejadian pahit. Sebanyak 21 lukisannya dibawa pergi oleh oknum tak bertanggung jawab dan tidak pernah kembali. Namun, alih-alih mendendam, ia memilih fokus pada masa depan.
"Nggak apa-apa, besok kapan-kapan mesti ketemu. Saya selalu berdoa minta yang terbaik pada Tuhan. Yang penting berkarya terus," ucapnya optimistis.
Batas Waktu Empat Bulan
Atsir Mahatma Adam, perwakilan tim pendamping Mbah Kibar, menjelaskan bahwa total kewajiban ke bank saat ini telah mencapai sekitar Rp556 juta karena akumulasi bunga. Pihak bank memberikan tenggat waktu hingga Juni 2026 (empat bulan sejak Februari) untuk pelunasan.
"Kami sudah berupaya selama dua bulan melalui relasi pribadi tapi belum ada titik terang. Akhirnya kami inisiatif membuat video di media sosial dan ternyata viral," ungkap Adam.
Hingga saat ini, dukungan mulai mengalir. Beberapa tawaran mulai masuk, mulai dari kolektor hingga ajudan tokoh nasional. Tim pendamping pun tengah mempertimbangkan opsi lelang untuk mencapai angka pelunasan. Adam menegaskan bahwa timnya bergerak murni secara sukarela.
"Kami tidak akan mengambil sepeser pun dari hasil penjualan lukisan Pak Kibar. Semuanya untuk membantu beliau," tegas Adam.
Kini, Mbah Kibar terus menanti "jodoh" bagi lukisan-lukisannya. Di sela-sela goresan kuasnya, terselip doa sederhana: agar tanah warisannya kembali aman dan ia bisa melewati masa senjanya dengan damai melalui karya yang ia cintai.
Tag: #ikhtiar #mbah #kibar #melawan #sita #bank #dengan #goresan #kuas #bukan #belas #kasihan