Empat Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Keamanan Misi Perdamaian Disorot
- Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia, prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Batalyon Mekanis XXIII-S Kontingen Garuda (Satgas Yonmek XXIII-S Konga) pada misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan, gugur, Jumat (24/4/2026).
Rico meninggal dunia pukul 10.32 waktu setempat atau 14.32 WIB setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit St. George, Beirut.
Almarhum sebelumnya mengalami luka berat setelah pos penugasan kontingen Indonesia di Kota Adshit al-Qusyar di Lebanon Selatan terkena serangan artileri.
Baca juga: Satu Prajurit TNI Tewas Akibat Tembakan Tank Israel, Indonesia Minta PBB Adili Pelaku
Dengan gugurnya Rico, total prajurit TNI yang meninggal dalam dua insiden terpisah di wilayah misi UNIFIL di Lebanon Selatan menjadi empat orang.
Mereka adalah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon, dan Praka Rico Pramudia.
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai pemerintah perlu meninjau ulang aturan pelibatan atau rules of engagement (RoE) setelah Praka Rico Pramudia menjadi prajurit TNI keempat yang gugur di Lebanon.
“Indonesia perlu mendorong peninjauan ulang aturan pelibatan atau RoE,” kata Selamat saat dihubungi Kompas.com, Minggu (26/4/2026).
Baca juga: Komisi I DPR Bakal Rapat Bareng Menhan, Bahas 3 Prajurit TNI Tewas hingga Penyiraman Air Keras
Ia menilai, dalam banyak kasus pasukan penjaga perdamaian dibatasi untuk bertindak defensif, padahal ancaman bisa datang tiba-tiba dan intens sehingga berisiko membahayakan prajurit.
“Perlindungan diri tidak boleh dikalahkan oleh kekakuan mandat,” tegas dia.
Selain itu, ia menekankan perlindungan pasukan (force protection) harus ditingkatkan melalui penggunaan perlengkapan modern, sistem peringatan dini, serta penguatan kemampuan evakuasi medis karena kecepatan respons kerap menjadi penentu keselamatan.
Selamat juga menilai penempatan pasukan harus berbasis intelijen yang adaptif dengan memahami pola ancaman secara real-time dan memperkuat koordinasi dengan kontingen negara lain, agar relokasi tidak sekadar menjadi solusi sementara.
Konsekuensi Strategis
Menurut dia, penarikan pasukan memang dapat mengurangi risiko korban dalam jangka pendek, tetapi langkah itu membawa konsekuensi strategis.
Apalagi, Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu kontributor utama pasukan perdamaian dunia.
Kehadiran tersebut dianggap bukan hanya simbol komitmen terhadap perdamaian global, tetapi juga instrumen diplomasi yang memperkuat posisi Indonesia di tingkat internasional.
Sebaliknya, menurut Selamat, bertahan tanpa perubahan justru berpotensi menempatkan prajurit dalam risiko yang tidak proporsional.
“Oleh karena itu, pilihan paling rasional bukanlah menarik diri sepenuhnya, melainkan melakukan penyesuaian strategis. Indonesia dapat tetap berkontribusi, tetapi dengan redefinisi (definisi ulang) peran,” tegas dia.
Baca juga: 3 Prajurit TNI Tewas di Lebanon, ICWA Dukung Pemerintah Desak DK PBB Gelar Pertemuan Darurat
Indonesia dapat tetap berkontribusi dengan mendefinisikan ulang peran, antara lain melalui penguatan perlindungan pasukan, penyesuaian mandat operasional, serta kemungkinan reposisi sebagian peran ke fungsi non-tempur seperti logistik, medis, dan rekonstruksi.
“Ini memungkinkan Indonesia menjaga komitmen globalnya tanpa mengabaikan keselamatan prajurit,” tegas dia.
Ia menegaskan, yang dipertaruhkan bukan hanya keberlanjutan misi, tetapi juga keadilan bagi prajurit di garis depan.
“Pasukan penjaga perdamaian tidak boleh dibiarkan menjadi ‘penonton bersenjata ringan’ di tengah konflik bersenjata berat,” jelas dia.
Jika risiko meningkat, lanjut dia, maka mandat, perlindungan, dan dukungan juga harus ditingkatkan.
Kutuk Keras
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengutuk keras gugurnya prajurit Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL, Praka Rico Pramudia, akibat serangan di Lebanon selatan pada akhir Maret 2026 lalu.
"Indonesia kembali mengutuk keras serangan Israel yang menyebabkan gugurnya peacekeeper Indonesia," tulis Kemlu dalam akun X, @Kemlu_RI, Jumat (24/4/2026).
Indonesia menegaskan serangan terhadap personel pemelihara perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Hingga kini, Indonesia terus mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan pertanggungjawaban atas insiden ini.
Bagi Indonesia, keselamatan dan keamanan peacekeepers PBB tidak dapat ditawar.
Pemerintah Republik Indonesia juga menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Praka Rico, yang sempat mengalami luka berat akibat ledakan artileri dari tank Israel pada akhir Maret lalu.
Sejak insiden tersebut, Kemlu menegaskan, pemerintah terus melakukan koordinasi erat dan intensif dengan pihak UNIFIL.
Kemlu bersama pemerintah Lebanon, serta tim medis di Beirut juga telah memastikan penanganan medis dilakukan secara cepat dan optimal.
"Berbagai langkah medis terbaik telah ditempuh, namun akibat luka berat yang dialami, nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan," ucapnya.
Kemlu menegaskan negara hadir untuk memberikan penghormatan terbaik bagi almarhum atas pengabdian dan pengorbanannya dalam menjaga perdamaian dunia.
Perlindungan Prajurit
Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono menegaskan pentingnya perlindungan bagi prajurit TNI yang bertugas di luar negeri, menyusul gugurnya Praka Rico dalam misi perdamaian di Lebanon.
“Di tengah eskalasi konflik yang semakin kompleks, keselamatan prajurit tetap menjadi prioritas utama,” kata Dave dalam keterangan tertulis, Minggu (26/4/2026).
Dave menyatakan, Komisi I DPR RI mendorong pemerintah, Kementerian Pertahanan, dan TNI untuk memperkuat sistem pengamanan bagi personel yang bertugas di wilayah konflik.
Ia juga meminta agar evaluasi menyeluruh terus dilakukan, sehingga setiap kebijakan yang diambil berorientasi pada perlindungan personel sekaligus menjaga kepentingan nasional.
Tag: #empat #prajurit #gugur #lebanon #keamanan #misi #perdamaian #disorot