Politikus PAN: Partai Punya Menteri di Kabinet tapi Tak Masuk Parlemen Kurang Dianggap
- Politikus senior PAN Dradjad Wibowo menilai, meskipun partai politik memiliki anggota yang duduk sebagai menteri di kabinet, namun partai itu tidak lolos parlemen, akan kurang diperhitungkan oleh publik.
Ia pun menekankan pentingnya kekuatan partai politik di parlemen, terutama melalui perolehan kursi di DPR, dibandingkan sekadar memiliki posisi di eksekutif.
“Jadi, itu jauh lebih penting. Partai bahkan katakanlah dia punya menteri di kabinet segala macam, dia enggak punya kursi di DPR, kurang dianggap. Saya enggak usah sebutin, tapi sudah banyak kan contohnya kan," kata Dradjad dikutip dari tayangan YouTube Gaspol Kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Baca juga: Tanggapi Usul KPK, Pimpinan Baleg DPR Nilai Revisi UU Parpol Mendesak
Ia menjelaskan, posisi di eksekutif seperti presiden, wakil presiden, maupun menteri memang penting.
Namun, bagi partai politik, kekuatan utama tetap terletak pada jumlah kursi di legislatif.
“Jadi, kursi di DPR itu sangat krusial, sangat menentukan bukan hanya drajat dan wibowo-nya partai, tapi juga menentukan bargaining position dari partai. Ya, dan itu harus kekuatannya di parlemen," ungkapnya.
Baca juga: KPK Soroti Belum Ada Lembaga Pengawas Kaderisasi dan Pengelolaan Keuangan Parpol
Dradjad menambahkan, kekuatan di parlemen tidak hanya berpengaruh terhadap citra partai, tetapi juga menentukan daya tawar dalam pembentukan kebijakan maupun pembagian kekuasaan di pemerintahan.
Selain itu, perolehan kursi legislatif juga berdampak pada posisi partai dalam kontestasi politik berikutnya, termasuk dalam pemilihan kepala daerah dan pembentukan koalisi.
Ia mencontohkan, terdapat partai-partai yang sejak lama berada dalam barisan pendukung Presiden Prabowo Subianto, namun tidak memiliki kursi di parlemen.
Pada akhirnya partai tersebut hanya menempati posisi wakil menteri.
“Kan banyak nih teman-teman partai yang sejak 2014 selalu sama Pak Prabowo kan, tapi partainya enggak lulus threshold, enggak ada kursi di parlemen. Ya, namanya wamen. Wamen itu namanya one parliament. Maaf, teman-teman wamen," kata Dradjad.
Baca juga: Politikus PAN Sebut Bakal Banyak Figur Berebut Jadi Pendamping Prabowo di Pilpres 2029
Dalam konteks Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029, Dradjad juga menyinggung bahwa keputusan partai untuk mengusung calon presiden atau wakil presiden tidak bisa dilepaskan dari perhitungan elektoral, termasuk efek ekor jas (coattail effect) terhadap suara legislatif.
Ia menilai, tidak menutup kemungkinan ada partai yang tetap mengajukan kadernya sebagai capres demi mendongkrak suara partai, meskipun harus menghadapi konsekuensi politik.
Misalnya, lanjut Dradjad, tidak diajak bergabung dalam koalisi pemerintah pemenang Pilpres.
Namun, Dradjad menekankan bahwa pada akhirnya partai-partai akan bersikap realistis menjelang pendaftaran resmi di Komisi Pemilihan Umum (KPU), dengan mempertimbangkan peluang kemenangan dan posisi strategis yang bisa diraih.
"Partai-partai itu sangat realistis kok. Dan hitung-hitungannya biasanya mereka sudah sangat, sudah relatif lebih akurat dari mereka yang tidak berpartai. Karena memang bisa menghitung langsung, bisa merasakan langsung," pungkasnya.
Tag: #politikus #partai #punya #menteri #kabinet #tapi #masuk #parlemen #kurang #dianggap