DPR Minta Pemerintah Tak Tunggu Lonjakan Kasus Hantavirus Baru Bertindak
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto. [Suara.com/Lilis Varwati]
15:04
11 Mei 2026

DPR Minta Pemerintah Tak Tunggu Lonjakan Kasus Hantavirus Baru Bertindak

Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan dini terhadap ancaman hantavirus melalui pendekatan sistem kesehatan terpadu atau one health system.

Menurut Edy, penanganan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit karena penyakit tersebut berkaitan erat dengan kondisi lingkungan dan sanitasi masyarakat sehari-hari.

“Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” kata Edy dalam keterangannya, Senin (11/5/2026), nengutip dari ANTARA.

Ia menilai ada sejumlah langkah penting yang perlu segera diperkuat pemerintah untuk mencegah penyebaran penyakit zoonosis tersebut.

Langkah pertama adalah memperluas pengawasan terhadap kasus demam akut yang belum terdiagnosis agar potensi hantavirus tidak luput dari pemantauan.

Selain itu, Edy meminta kapasitas diagnosis laboratorium ditingkatkan, termasuk pemeriksaan PCR dan serologi di rumah sakit rujukan.

Politikus bidang kesehatan itu juga menyoroti pentingnya pengendalian hewan pengerat atau tikus serta perbaikan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat.

Menurutnya, pengelolaan sampah, kebersihan permukiman, dan pengendalian populasi tikus harus menjadi bagian penting dalam kebijakan kesehatan publik.

“Hantavirus ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus. Penularan bisa terjadi ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus,” ujarnya.

Edy mengingatkan masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang, rumah kosong, atau area penuh kotoran tikus tanpa perlindungan diri yang memadai.

Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi jalur penularan hantavirus.

“Ini yang harus diedukasi secara serius kepada masyarakat,” katanya.

Karena itu, ia meminta edukasi publik diperluas agar masyarakat memahami cara mencegah penularan penyakit tersebut.

Edy juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor mengingat ancaman zoonosis seperti hantavirus berkaitan erat dengan perubahan lingkungan, urbanisasi, hingga perubahan iklim.

“Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan lebih penting dibanding penanganan saat situasi memburuk,” tegasnya.

Menurut Edy, hantavirus sering kali luput dari perhatian karena tidak selalu menimbulkan pandemi besar. Padahal, beberapa jenis hantavirus memiliki tingkat kematian cukup tinggi, salah satunya Andes virus yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat.

“Justru karena sifatnya silent threat atau ancaman tersembunyi, kita tidak boleh lengah,” ujarnya.

Sorotan terhadap hantavirus meningkat setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memantau wabah yang terjadi di kapal pesiar berbendera Belanda, MV Hondius, yang berlayar dari Argentina.

WHO menerima laporan wabah tersebut pada 2 Mei 2026. Dari total 147 penumpang dan awak kapal, tujuh orang dilaporkan sakit dan tiga di antaranya meninggal dunia.

WHO menyebut para korban kemungkinan telah terinfeksi sebelum naik ke kapal pesiar, namun kemungkinan penularan antarmanusia di atas kapal masih belum dapat dikesampingkan.

Editor: Vania Rossa

Tag:  #minta #pemerintah #tunggu #lonjakan #kasus #hantavirus #baru #bertindak

KOMENTAR