Tepis Isu Intimidasi, Dudung Sebut Presiden Prabowo Terbuka pada Kritik: Jangan Dipelintir!
Kepala Kantor Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman di Istana Negara, Jakarta. [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S]
10:20
14 Mei 2026

Tepis Isu Intimidasi, Dudung Sebut Presiden Prabowo Terbuka pada Kritik: Jangan Dipelintir!

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman menepis keras isu adanya tekanan atau intimidasi dari pemerintah terhadap masyarakat sipil yang kritis.

Dudung menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto justru sangat menghargai setiap masukan dari rakyat.

Hal ini disampaikan Dudung menanggapi hasil survei terkait iklim demokrasi di pelataran Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (13/5).

Menurutnya, pemerintah tidak pernah menutup pintu bagi kritik yang membangun.

"Bapak Presiden (Prabowo Subianto, red.) mau setiap saat minta masukan. Beliau menyampaikan: Kita harus berani bicara, kita harus berani berpendapat, tetapi kita harus berani mendengarkan pendapat orang lain," ujar Dudung mengungkapkan sikap sang Presiden.

Jangan Membuat Kesan Menakutkan

Mantan Kasad ini menyayangkan adanya narasi yang seolah-olah menggambarkan pemerintah anti-koreksi. Ia meminta semua pihak untuk tidak menciptakan kesan adanya intimidasi yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

"Jangan kemudian seakan-akan ada intimidasi. Kalau ada intimidasi berarti juga mengklaim bahwa pemerintah ini tidak mau dikoreksi. Janganlah dibuat-buat seperti itu," tegasnya.

Ia juga memperingatkan agar tidak ada pihak-pihak yang mencoba memutarbalikkan fakta demi kepentingan tertentu.

"Jangan kemudian dipelintir seakan-akan (Presiden, red.) tidak mau menerima masukan," sambung Dudung.

Pesan Persatuan dan Warisan Gus Dur

Dalam kesempatan tersebut, Dudung mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah.

Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) didampingi Mensesneg Prasetyo Hadi (kedua kiri), Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea (kiri), dan Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat (kanan) menyapa massa buruh dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/app/nz]Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) menyapa massa buruh dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S]

Ia pun mengutip pesan bijak dari Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Gus Dur pernah menyampaikan bahwa sebenar apa pun yang kamu lakukan, sebaik apa pun yang kamu kerjakan, pasti ada kebencian orang lain," ungkapnya.

Sikap keterbukaan ini sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan. Dalam pidatonya di acara Puncak Perayaan Natal awal tahun 2026 lalu, Prabowo menyatakan bahwa kritik adalah bantuan berharga bagi kepemimpinannya.

"Kalau kritik, malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, tidak suka dikoreksi, tetapi sesungguhnya itu mengamankan," kata Presiden Prabowo.

Prabowo bahkan memberikan perumpamaan sederhana namun mendalam lewat interaksinya dengan ajudan atau anak buahnya.

"Contoh paling sederhana, kadang-kadang kita lupa ada kancing yang tidak terpasang. Kemudian, anak buah kita lari: Pak, seragam Bapak, Pak. Bapak kancingnya.... Lho, ini anak buah kok berani koreksi. Tetapi, dia koreksi untuk mengamankan saya. Bayangkan Presiden muncul kancingnya tidak (lengkap, red.). Jadi, kadang-kadang saya dongkol juga sama ajudan saya, cerewet banget nih. Tetapi dia menjaga saya. Dia menjaga saya. Berapa kali saya diselamatkan," tutup Presiden.

Editor: Dwi Bowo Raharjo

Tag:  #tepis #intimidasi #dudung #sebut #presiden #prabowo #terbuka #pada #kritik #jangan #dipelintir

KOMENTAR