Pesta Babi, Simbol Perjuangan Mempertahankan Eksistensi di Tengah Wajah Beringas Pembangunan
SEKITAR tahun 2010 saya pernah melakukan penelitian di Distrik Okaba, Merauke, salah satu wilayah paling selatan Papua yang menjadi ruang hidup masyarakat Marind.
Karena itu, ketika menonton film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, saya tidak merasa sedang menyaksikan sesuatu yang sepenuhnya asing.
Ingatan saya kembali pada bentang hutan, sungai, rawa, kebun sagu dan kelapa, serta kehidupan masyarakat yang tumbuh sangat dekat dengan ruang ekologisnya.
Namun film ini tidak berbicara tentang satu wilayah tertentu.
Film ini memperlihatkan persoalan yang lebih besar tentang bagaimana perubahan dapat datang begitu cepat dan mengubah kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama tanah dan ruang ekologisnya.
Selama satu setengah jam, film ini memperlihatkan pembangunan melalui sudut yang berbeda.
Baca juga: Politik Bengkel Bandara Kertajati, Membaca Tawaran Amerika
Bukan hanya melalui angka pertumbuhan, besarnya investasi, atau luas pembukaan lahan, tetapi juga melalui wajah-wajah yang terdesak, ruang hidup yang menyempit, dan kegelisahan masyarakat yang perlahan tercerabut dari tanah serta cara hidup yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Yang terdesak bukan sekadar bentang alam. Yang ikut dipertaruhkan adalah eksistensi masyarakat yang telah hidup turun-temurun di ruang tersebut.
Film ini memperlihatkan kehidupan masyarakat yang berhadapan dengan proyek pembangunan skala besar, mulai dari pencetakan sawah, perkebunan sawit, perkebunan tebu, hingga agenda bioetanol dan biodiesel.
Semua hadir membawa janji kesejahteraan dan kemajuan.
Namun dalam waktu yang sama, perubahan tersebut juga menghadirkan kecemasan mengenai ruang hidup yang semakin sempit dan masa depan yang semakin sulit diprediksi.
Dalam banyak bagian, pembangunan tampak hadir sebagai kekuatan besar yang bergerak terlalu cepat.
Jalan dibuka, alat berat bekerja, dan lahan dibersihkan dengan energi yang seolah tidak mengenal jeda.
Masyarakat tentu membutuhkan pembangunan, tetapi pembangunan yang dibutuhkan adalah pembangunan yang tidak kehilangan kesabaran sosial untuk berjalan bersama masyarakat dan menempatkan mereka sebagai subyek sekaligus aktor utamanya.
Yang ikut tercerabut bukan hanya tanah, tetapi juga sumber mata pencaharian, memori kolektif, serta hubungan dengan leluhur yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
Hutan, sungai, rawa, dan tanah bukan sekadar aset ekonomi yang diukur melalui angka produksi, melainkan ruang tempat identitas sosial dibentuk dan diwariskan.
Kaum perempuan dan anak-anak terlihat menerima dampak yang tidak kecil.
Di balik berbagai janji kemajuan, terdapat kecemasan tentang masa depan yang harus mereka hadapi.
Pembangunan yang datang melalui bahasa investasi ternyata juga menghadirkan biaya sosial yang harus ditanggung oleh mereka yang hidup paling dekat dengan perubahan itu.
Namun Pesta Babi tidak berhenti pada kisah penderitaan. Film ini memperlihatkan bahwa masyarakat tidak tinggal diam.
Baca juga: Pesta Babi Tanpa Babi
Mereka terus berjuang mempertahankan eksistensinya melalui cara-cara sosiokultural yang mereka miliki.
Salib merah dipasang sebagai penanda perlawanan, sasi dihadirkan sebagai bentuk otoritas adat, dan berbagai jejaring serta aliansi dibangun sebagai upaya mempertahankan ruang hidup yang semakin menyempit.
Di situlah kekuatan film ini. Masyarakat tidak ditempatkan sebagai korban pasif.
Film ini menunjukkan bahwa dalam keterbatasan sekalipun masyarakat tetap memiliki kemampuan menjaga martabat dan mempertahankan keberadaannya.
Film ini juga patut diapresiasi karena keberaniannya menghadirkan persoalan secara terbuka.
Tanpa banyak tedeng aling-aling, film ini memperlihatkan berbagai aktor pembangunan, pengambil kebijakan, serta jejaring kepentingan yang hadir dalam perubahan tersebut.
Di balik keberanian itu tampak kepedulian dan keprihatinan yang kuat terhadap kehidupan masyarakat yang sedang menghadapi tekanan besar atas ruang hidupnya.
Film ini tidak berbicara dengan cara yang kasar, tetapi menghadirkan kenyataan yang keras dan pedih melalui kekuatan data yang memadai.
Setelah menonton film ini secara utuh, saya mulai memahami mengapa di beberapa tempat muncul penolakan bahkan pembubaran kegiatan nonton bersama.
Film dokumenter yang kuat sering kali menghadirkan kenyataan yang selama ini lebih nyaman disembunyikan.
Ketika film ini mengangkat sisi pembangunan yang dilihat dari sudut pandang mereka yang menanggung biaya sosial paling besar, ketidaknyamanan muncul dari berbagai arah.
Namun respons yang muncul terhadap judul film ini memperlihatkan bahwa simbol sering kali memiliki kekuatan yang melampaui maksud awalnya.
Ia menyita perhatian, memancing emosi, dan pada saat tertentu bahkan dapat menelan pesan yang hendak diantarkannya.
Baca juga: Kita Bukan Pelayan di Meja Sendiri
Namun setelah menonton keseluruhan film, saya justru melihat bahwa film ini jauh dari upaya memainkan wilayah sensitif tersebut.
Film ini berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar: penderitaan, kegelisahan, dan perjuangan masyarakat Papua mempertahankan kehidupannya.
Dalam konteks itu, Pesta Babi tampaknya tidak berhenti sebagai istilah atau simbol budaya semata.
Ia tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat sebagai bagian dari relasi manusia dengan tanah, alam, dan cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah kecemasan dan tekanan besar yang sedang dihadapi, simbol tersebut seperti hadir untuk mewadahi sekaligus menyuarakan perjuangan mereka mempertahankan eksistensi.
Tugas kita masih panjang. Mereka yang mendukung, mengkritik, bahkan menolak film ini sesungguhnya sama-sama memikul tanggung jawab kolektif untuk terus merawat ruang dialog secara kritis.
Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kemenangan pendapat, melainkan masa depan manusia dan kehidupan bersama yang lebih besar.
Pada akhirnya, Pesta Babi bukan terutama tentang babi.
Film ini berbicara tentang manusia yang sedang berjuang mempertahankan eksistensinya di tengah pembangunan yang bergerak terlalu cepat dan kehilangan kesabaran sosial.
Dan pertanyaan yang tertinggal sangat sederhana: pembangunan ini untuk siapa, dan siapa yang harus membayar harganya?
Tag: #pesta #babi #simbol #perjuangan #mempertahankan #eksistensi #tengah #wajah #beringas #pembangunan