Seskab Teddy: Lawatan Luar Negeri Bukan Gagah-gagahan, Prabowo Tanggung Kelebihan Biaya
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. [Suara.com/Novian]
21:24
1 Juni 2026

Seskab Teddy: Lawatan Luar Negeri Bukan Gagah-gagahan, Prabowo Tanggung Kelebihan Biaya

Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya buka suara merespons sejumlah saran dari Dino Patti Djalal terkait kritik terhadap lawatan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu sering dan menghabiskan biaya besar.

Respons tersebut disampaikan Teddy melalui keterangan video yang diunggah di akun Instagram Sekretariat Kabinet.

"Bicara diplomasi berarti bicara hasil. Manfaat nyata bagi bangsa. Kritik dan masukan itu penting. Ruang untuk kritik dan masukan selalu terbuka," tulis Teddy dalam keterangan unggahannya, Senin (1/6/2036).

"Tetapi jangan mengaburkan fakta dari mereka yang sedang bekerja. Mereka yang tengah berjuang bersama membawa kepentingan bangsa di panggung dunia," sambung Teddy.

Sementara itu, dalam pernyataan di video, Teddy menjelaskan bahwa keterangan tersebut dibuat untuk menjawab masukan dari Dino sekaligus meluruskan sejumlah hal.

"Mohon izin menjawab masukan dari Bapak Dino. Saya mau luruskan beberapa hal. Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," tutur Teddy.

Teddy menjelaskan mengenai biaya perjalanan dinas luar negeri Prabowo yang sebelumnya dinilai menghamburkan anggaran besar. Ia menegaskan bahwa seluruh kelebihan biaya ditanggung secara pribadi oleh Prabowo.

"Jadi yang pertama, masalah biaya bila ke luar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali, jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Teddy.

Teddy kemudian menjawab soal jumlah rombongan yang mendampingi lawatan Prabowo. Ia menegaskan bahwa jumlah delegasi yang ikut jauh berkurang dibandingkan periode sebelumnya.

"Kemudian yang kedua, jumlah rombongan. Ini sangat penting, jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran, lebih dari separuh, dari periode sebelumnya," kata Teddy.

Teddy bahkan menyebut pada masa Dino menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri, jumlah rombongan dalam kunjungan luar negeri bisa mencapai lebih dari 120 orang. Sementara pada era Prabowo, jumlah delegasi yang ikut telah dipangkas.

"Jadi kalau dulu itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang, zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50-60 orang maksimal. Ini sudah banyak yang tahu, termasuk juga wartawan-wartawan pasti tahu itu semua," kata Teddy.

Sebelumnya, melalui kritiknya, Dino menyoroti lawatan Prabowo yang kerap dilakukan secara spontan. Dino meminta Seskab Teddy atau Menteri Luar Negeri Sugiono mengumumkan agenda tersebut setidaknya satu pekan sebelum keberangkatan.

Menanggapi hal itu, Teddy menjelaskan bahwa terdapat agenda-agenda yang bersifat mendesak.

"Kemudian yang ketiga, jadwal harus 1 tahun sebelumnya. Jadi gini, perkembangan dunia global itu sangat dinamis, hari per hari. Nah, jadi ada jadwal tahunan, dan ada jadwal yang mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara," kata Teddy.

Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron. (dok. BAKOM RI)Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron. (dok. BAKOM RI)

Teddy juga menjelaskan mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Prabowo selama sekitar 1,5 tahun masa pemerintahannya. Sebelumnya, Dino menyebut satu dari enam hari Prabowo dihabiskan di luar negeri sebagai gambaran intensitas lawatan tersebut.

"Kemudian yang keempat, masalah protokoler dan frekuensi ke luar negeri dalam 1,5 tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah Presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis. Sebelumnya ada konflik di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah, itu terlibat Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain sebagainya, ya," kata Teddy.

Menurut Teddy, membangun hubungan dengan para pemimpin dunia merupakan hal yang penting. Sebab, hubungan tersebut tidak bisa dibangun hanya ketika Indonesia membutuhkan bantuan saat terjadi krisis.

"Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia. Dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak, kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," kata Teddy.

"Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi," ujar Teddy.

Teddy menepis anggapan bahwa kunjungan luar negeri Prabowo hanya bertujuan untuk pencitraan atau sekadar kegiatan seremonial.

"Jadi salah besar, kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," kata Teddy.

Editor: Bella

Tag:  #seskab #teddy #lawatan #luar #negeri #bukan #gagah #gagahan #prabowo #tanggung #kelebihan #biaya

KOMENTAR