Sisi Lain Kelolosan Como 1907 ke Liga Champions: Masalah Stadion hingga Ancaman FFP
Keberhasilan Como 1907 menembus papan atas kompetisi kasta tertinggi Liga Italia (Serie A) musim ini bak sebuah dongeng yang menjadi nyata.
Como 1907 kini berada di ambang sejarah besar untuk berkompetisi di panggung elite antarklub Eropa.
Langkah Como 1907 untuk mengunci tiket Liga Champions musim depan terlihat kian nyata setelah mereka berhasil merangsek ke urutan keempat klasemen sementara hingga giornata ke-30.
Keberhasilan klub yang dimiliki oleh Djarum Group tersebut tidak lepas dari performa konsisten di bawah asuhan pelatih Cesc Fabregas.
Impian untuk tampil di kompetisi Benua Biru semakin mendekati kenyataan bagi I Lariani.
Baca juga: Skor Como 1907 Vs Pisa 5-0, Fabregas: Kemenangan Ini Untuk Michael Bambang Hartono
Kemenangan telak 5-0 saat menjamu Pisa SC, yang dibarengi dengan hasil imbang 1-1 antara Juventus dan Sassuolo, mengukuhkan posisi mereka di zona empat besar klasemen.
Pencapaian ini sangat fenomenal mengingat pada musim sebelumnya mereka hanya mampu finis di peringkat ke-10.
Jika berhasil mengamankan posisi ini hingga akhir musim, ini akan menjadi kali pertama bagi mereka mencicipi atmosfer kompetisi Eropa sejak terakhir kali berpartisipasi di Piala Mitropa pada musim 1980-1981 silam.
Namun, di balik kegemilangan tersebut, terdapat rintangan administratif serius yang mengintai.
Laporan dari Sportmediaset menyebutkan bahwa kondisi markas mereka, Stadion Giuseppe Sinigaglia, belum memenuhi standar kelayakan untuk menggelar pertandingan internasional.
Diperlukan langkah rekonstruksi cepat agar stadion tersebut siap sebelum September 2026.
Sebagai langkah antisipasi, klub dikabarkan telah menjajaki komunikasi dengan Sassuolo untuk meminjam Stadion Mapei sebagai kandang sementara, serupa dengan langkah yang pernah diambil Atalanta di masa lalu.
Baca juga: Hasil Como 1907 Vs Pisa 5-0: Penghormatan Indah untuk Michael Bambang Hartono
Ancaman Financial Fair Play (FFP)
Marc-Oliver Kempf (kiri) dipeluk oleh Nico Paz dalam momen selebrasi gol pada pertandingan sepak bola Serie A Liga Italia antara Como dan AC Milan di stadion Giuseppe Sinigaglia di Como, pada 15 Januari 2026. (Foto oleh Stefano RELLANDINI / AFP)
Tantangan kedua berkaitan erat dengan aspek finansial. Sejak akuisisi oleh keluarga Hartono pada 2019, klub tercatat melakukan investasi masif untuk belanja pemain yang mencapai lebih dari 150 juta euro atau sekitar Rp 2,93 triliun.
Investasi besar ini mengakibatkan kerugian sekitar 105 juta euro pada penutupan tahun keuangan Juni 2025.
Kondisi ini membuat klub harus berhadapan dengan regulasi Financial Fair Play dari UEFA.
Meskipun kabarnya akan ada keringanan untuk musim perdana, pihak manajemen wajib menyepakati perjanjian penyelesaian agar kondisi keuangan klub kembali seimbang sesuai parameter yang telah ditetapkan oleh federasi.
Krisis Pemain Binaan Lokal dan Aturan UEFA
Isu terakhir yang tidak kalah krusial adalah komposisi pendaftaran pemain. Berbeda dengan regulasi Serie A, UEFA menerapkan aturan ketat mengenai kuota pemain binaan lokal (homegrown).
Baca juga: Mengheningkan Cipta untuk Michael Bambang Hartono di Laga Como 1907 Vs Pisa
Dalam daftar maksimal 25 pemain, setiap klub wajib menyertakan minimal delapan pemain binaan lokal, dengan empat di antaranya harus merupakan lulusan akademi klub itu sendiri.
Saat ini, komposisi skuad asuhan Fabregas dianggap masih jauh dari ideal. Skuad utama mereka tercatat hanya memiliki dua pemain asli Negeri Piza, yakni penjaga gawang Mauro Vigorito dan bek Eduardo Goldaniga.
Ironisnya, baik Mauro Vigorito maupun Eduardo Goldaniga bukanlah pemain hasil didikan asli akademi klub tersebut, sehingga pemenuhan kuota pemain binaan lokal akan menjadi tugas berat di bursa transfer mendatang.
Tag: #sisi #lain #kelolosan #como #1907 #liga #champions #masalah #stadion #hingga #ancaman