Kata Evan Dimas soal Tendangan Kungfu di EPA, Sepak Bola Butuh Jiwa Kesatria
- Tepat di hari jadi PSSI ke-96 tahun, insiden keras justru mencoreng wajah sepak bola usia muda Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi dalam laga Elite Pro Academy (EPA) Super League U20 20252026.
Aksi tendangan kungfu dilakukan pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC U20, Fadly Alberto kepada pemain Dewa United di Stadion Citarum Semarang, Jawa Tengah, Minggu (19/4/2026) sore.
Insiden ini langsung memantik reaksi luas masyarakat.
Bukan sekadar pelanggaran di atas lapangan, tetapi juga membuka diskusi tentang nilai, mentalitas, dan arah pembinaan sepak bola usia muda di Indonesia.
Baca juga: Nova Arianto Kecewa dengan Tindakan Fadly Alberto, Tak Bisa Dibenarkan
Dalam rekaman yang beredar di sosial media, ia terlihat berlari dari tengah lapangan sebelum mengangkat kaki tinggi dan menghantam lawannya di tepi lapangan.
Aksi tersebut memicu kericuhan yang tidak terhindarkan.
Pertandingan berjalan dalam tensi tinggi dan berakhir dengan kemenangan Dewa United 2-1.
Namun, hasil akhir laga menjadi tidak lagi relevan jika dibandingkan dengan dampak dari insiden tersebut.
Sorotan semakin tajam karena Fadly Alberto bukan pemain tanpa nama.
Ia merupakan bagian dari generasi muda yang pernah membela Indonesia di Piala Dunia U17 2025. IAlberto bahkan senantiasa tampil di semua laga Timnas U17 di Qatar ketika itu.
Harapan besar yang sebelumnya melekat kini berubah menjadi tanda tanya tentang masa depannya.
Ketika Sportivitas Dipertanyakan
Mantan pemain Timnas Indonesia, Evan Dimas Darmono, melihat kejadian ini sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar emosi di lapangan.
Baca juga: Firman Utina Kecam Pelatih Kiper Bhayangkara FC U20 Usai Ikutan Ribut di EPA U20
"Miris, jika trofi dan kemenangan di atas sportivitas dan fair play. Olah raga dan sportivitas," kata Evan Dimas kepada Kompas.com.
Pernyataan itu mencerminkan kegelisahan bahwa orientasi kemenangan perlahan menggeser nilai dasar olahraga.
Menurutnya, persoalan utama terletak pada cara pembinaan pemain yang terlalu berfokus pada aspek fisik dan kompetisi.
"Bagaimana bisa sportivitas jika yang di olah hanya raganya. Untuk bisa mencapai sportivitas harusnya yang di olah bukan cuman raga tapi olah jiwa juga," imbuhnya.
Baginya, sepak bola seharusnya menjadi ruang pembelajaran nilai, bukan sekadar soal menang atau kalah.
Tamparan untuk Sepak Bola Indonesia
Untuk itu ia menekankan pentingnya menanamkan nilai kesatria sejak dini kepada generasi muda, di mana bumi dipijak amanah dijalankan.
Nilai tersebut, menurutnya, bukan sekadar teori, tetapi sudah menjadi bagian dari pendidikan yang dijalani.
Mantan pemain timnas Indonesia Evan Dimas.
Seperti yang diterapkan dalam Sanggar Saraswati Nuswantara, tempat ia turut terlibat dalam pembinaan sepak bola. Pendekatan ini menempatkan kebersamaan di atas ego individu, sesuatu yang mulai jarang terlihat di tengah tekanan kompetisi.
"Diajarkan bagaimana berjiwa kesatria. Kami di sanggar Saraswati Nuswantara tidak diajarkan mental kompetitif tapi mental bergerak bersama," ujar Evan Dimas.
Kini ia tidak menutup mata bahwa insiden tersebut menjadi peringatan keras bagi seluruh elemen sepak bola Indonesia.
"Mari bersama sama mencari solusi, terutama untuk generasi muda," sambungnya.
Harapan di Usia 96 Tahun PSSI
Pada hari sama, Evan Dimas juga hadir dalam perayaan hari jadi PSSI ke-96 tahun di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, bersama sejumlah anggota federasi dan legenda sepak bola Jawa Timur.
Ia berharap memasuki usia yang ke-96, menjadi titik balik bagi federasi untuk lebih serius dalam membangun karakter generasi muda.
Baca juga: Aksi Kekerasan di EPA U20 Seret Fadly Alberto, Eks Timnas U17 Indonesia
“Saya berharap ke depannya PSSI memiliki program yang menanamkan nilai kepada generasi muda, khususnya bagaimana memiliki jiwa kesatria."
"Di mana bumi berpijak, amanah harus dijalankan, dan kehidupan dijalani dengan penuh tanggung jawab,” ujar mantan pemain Bhayangkara FC ini.
“Generasi muda harus dibentuk menjadi pribadi yang berjiwa kesatria menjunjung amanah dan kejujuran dalam setiap kesempatan,” imbuhnya.
Apalagi ada target besar Indonesia menuju Piala Dunia 2030, ia dukungan dan optimistis jika dengan kerja keras dan pembinaan yang tepat, mimpi tersebut bisa terwujud.
"Itu target yang bagus, dan saya juga mendoakan agar ke depannya Indonesia bisa benar-benar tampil di Piala Dunia,” pungkas Evan Dimas.
Tag: #kata #evan #dimas #soal #tendangan #kungfu #sepak #bola #butuh #jiwa #kesatria