China Mulai Ancang-ancang Saingi Starlink
- China meluncurkan roket Smart Dragon-3 (SD-3) dari laut pada 11 April lalu untuk mengirim satelit uji ke orbit yang telah ditentukan.
Peluncuran ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pengembangan teknologi internet satelit, yang belakangan menjadi arena persaingan global.
Roket tersebut lepas landas pukul 19.32 waktu Beijing dari perairan lepas pantai Yangjiang, Provinsi Guangdong, dan misi ini dijalankan oleh Taiyuan Satellite Launch Center, sebagaiman dilaporkan media asal China Xinhua.
Satelit yang dibawa disebut akan mendukung pengujian teknologi komunikasi berbasis satelit.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap internet satelit, termasuk dominasi layanan seperti Starlink milik SpaceX, perusahaan antariksa milik konglomerat Elon Musk.
Baca juga: Ini Bukti China Ingin Unggul Dalam Robot Humanoid
China kini tampak mempercepat pengembangan teknologinya untuk mengejar ketertinggalan sekaligus menawarkan alternatif.
Sejumlah pengujian terbaru juga menunjukkan ambisi tersebut. Dalam eksperimen terpisah, peneliti China berhasil mendemonstrasikan koneksi laser dari satelit geostasioner dengan kecepatan tinggi, yang disebut melampaui performa Starlink dalam kondisi tertentu.
Dalam uji coba yang dilakukan di observatorium Lijiang di barat daya China Maret lalu, sinyal dikirim dari satelit di ketinggian sekitar 36.000 km ke Bumi menggunakan laser berdaya rendah, hanya 2 watt.
Meski berasal dari jarak yang jauh, sistem diklaim mampu menghasilkan kecepatan downlink hingga 1 Gbps, sekitar lima kali lebih cepat dibandingkan Starlink dalam perbandingan yang digunakan dalam studi tersebut.
Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan teknis yang digunakan di stasiun penerima di Bumi.
Sistem tersebut menggabungkan adaptive optics dan pemrosesan multi-kanal untuk mengatasi distorsi atmosfer, yang selama ini menjadi tantangan utama dalam komunikasi optik dari orbit tinggi.
Baca juga: Elon Musk Blak-blakan soal HP Starlink
Alih-alih mengandalkan satu jalur sinyal, teknologi ini memecah sinyal yang terdistorsi menjadi beberapa kanal, lalu memilih yang paling kuat untuk menjaga kualitas data.
Hasilnya, tingkat sinyal yang dapat digunakan meningkat signifikan, menunjukkan peningkatan tidak hanya pada kecepatan tetapi juga keandalan.
Eksperimen ini dinilai penting karena dilakukan dari orbit geostasioner, yang memiliki jarak jauh lebih besar dibanding orbit rendah tempat satelit Starlink beroperasi. Artinya, tantangan transmisi lebih berat, terutama saat sinyal melewati atmosfer Bumi, dirangkum KompasTekno dari Daily Galaxy.
Meski demikian, teknologi yang diuji masih berfokus pada sistem penerima skala besar, bukan perangkat konsumen. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan awal kemungkinan akan diarahkan untuk kebutuhan backbone jaringan atau transmisi data berkapasitas tinggi.
Dengan peluncuran satelit uji terbaru dan kemajuan dalam teknologi komunikasi optik, China menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan internet satelit.
Meski belum jelas kapan layanan ini akan tersedia secara luas, langkah-langkah tersebut memperlihatkan arah yang berpotensi menyaingi pemain yang sudah lebih dulu hadir seperti Starlink.