Persaingan AI Memanas, China Kini Hampir Salip Amerika
Ilustrasi pembangunan AI versi China versus Amerika Serikat.(Ilustrasi dibuat dengan AI)
19:12
25 April 2026

Persaingan AI Memanas, China Kini Hampir Salip Amerika

- Dominasi Amerika Serikat (AS) sebagai raja kecerdasan buatan (AI) global tampaknya mulai berada di ujung tanduk. Kemajuan China di sektor teknologi perlahan tapi pasti berhasil menghapus jarak ketertinggalan mereka dari Negeri Paman Sam.

Lebih mengejutkannya lagi, aliran talenta ahli teknologi dan peneliti AI yang biasanya berbondong-bondong hijrah ke AS kini dilaporkan menurun drastis.

Fakta mengejutkan ini diungkap dalam laporan tahunan AI Index 2026 yang dirilis oleh Stanford University Institute for Human-Centered Artificial Intelligence (HAI) pekan ini.

Dalam laporan tersebut, Stanford menyoroti penyusutan jarak yang sangat signifikan pada skor Arena, sebuah metrik pengukuran performa model bahasa besar (LLM).

Sebagai perbandingan, pada Mei 2023, model AI teratas milik AS yakni OpenAI GPT-4 memimpin jauh dengan skor lebih dari 1.300 poin, sementara model asal China terseok-seok di bawah 1.000 poin.

Namun, per Maret 2026, jurang pemisah itu menyusut drastis menjadi hanya 39 poin saja.

Model teratas AS saat ini, Anthropic Claude Opus 4.6, tercatat hanya unggul tipis 2,7 persen dibandingkan jawara dari China, Dola-Seed 2.0.

Meski AS masih unggul dalam jumlah model AI papan atas (50 model berbanding 30 model milik China), Negeri Tirai Bambu berhasil mendominasi di sektor lain.

Laporan mencatat China menyumbang 20,6 persen publikasi AI pada 2024, mengalahkan AS yang hanya mencapai 12,6 persen.

Baca juga: China Bikin Gudang Senjata AI yang Bikin Barat Ketar-ketir

Untuk urusan implementasi perangkat keras, China bahkan memimpin dunia dengan 295.000 instalasi robot industri, hampir sembilan kali lipat lebih banyak dibandingkan AS yang hanya memiliki 34.200 unit.

"Selama bertahun-tahun, AS mengungguli semua kawasan global dalam hal AI, baik ukuran model, performa, penelitian, sitasi, dan lainnya," tulis ringkasan laporan Stanford.

Namun China muncul sebagai penyeimbang kekuatan AI bagi AS, secara bertahap mengejar, dan tahun ini tampaknya hampir menghapus keunggulan AS.

Baca juga: Mengapa China Tak Terobsesi Bikin AI Paling Pintar?

"DeepSeek moment" dan perang listrik

Lompatan besar China ini bukannya tanpa alasan. Dipicu oleh fenomena "DeepSeek Moment" pada 2025 lalu, China jorjoran menyuntikkan dana ke berbagai startup AI mereka.

Efeknya, penawaran saham perdana (IPO) di Hong Kong pada kuartal lalu menyentuh rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir, mencapai 110 miliar dollar AS di 40 perusahaan baru.

Di balik layar, China juga diam-diam membangun infrastruktur listrik berskala raksasa.

Analis energi China dari Lantau Group, David Fishman, mengungkapkan bahwa China setiap tahunnya menambah pasokan listrik yang jumlahnya lebih besar dari total konsumsi listrik seluruh negara Jerman.

Cadangan listrik China bahkan tidak pernah turun di bawah 80 persen, memberi mereka kapasitas dua kali lipat dari yang dibutuhkan untuk menopang komputasi AI.

Baca juga: DeepSeek Buatan China Berbiaya Murah yang Mengguncang AS

Kondisi ini berbanding terbalik dengan AS, dihimpun KompasTekno dari Fortune.

Menurut analis Goldman Sachs, jaringan listrik AS saat ini tengah hancur akibat kurangnya investasi selama beberapa dekade, rentan terhadap cuaca ekstrem, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan AI di AS.

"Kami sebenarnya telah mengurangi eksposur terhadap teknologi AS," ungkap Mohit Kumar, pakar strategi makro global Jefferies.

Kumar menyakini China adalah pemenang mutlak dalam perang teknologi ini karena valuasi, adopsi AI yang lebih luas, dan unggul dalam pembangkit listrik.

Meski China melaju kencang, AS rupanya masih unggul untuk urusan pendanaan swasta.

Investasi swasta Amerika Serikat di sektor AI pada tahun 2025 menembus 285,9 miliar dollar AS, atau lebih dari 23 kali lipat dibandingkan total investasi China yang hanya menyentuh 12,4 miliar dollar AS.

AS juga tercatat mendanai 1.953 perusahaan AI baru tahun lalu, 10 kali lebih banyak dibanding negara mana pun di dunia.

Baca juga: Lulusan Kampus Bergengsi China Kini Incar Kerjaan Pabrik, Ini Alasannya

Krisis "brain drain"

Namun, tumpukan uang tersebut nyatanya tidak mampu menahan eksodus para ahli teknologi.

Laporan Stanford menemukan bahwa jumlah akademisi dan peneliti AI yang pindah ke AS telah anjlok 89 persen sejak 2017. Penurunan ini bergerak sangat cepat, di mana 80 persen  terjadi hanya dalam satu tahun terakhir.

Meskipun saat ini secara matematis masih lebih banyak peneliti yang masuk ke AS ketimbang yang keluar, tren aliran pakar ini melambat secara drastis. Para ekonom memperingatkan bahwa hilangnya ahli AI secara berkelanjutan akan mengikis keunggulan SDM yang dimiliki AS.

Laporan Hoover Institution (April 2025) yang bekerja sama dengan Stanford HAI menyoroti bahwa China kini telah sukses membangun basis talenta lokal secara mandiri.

Sebagai contoh, hampir seluruh peneliti di balik lima rancangan dasar pembuat AI DeepSeek menempuh pendidikan atau pelatihan di China.

Meskipun sekitar seperempat dari peneliti DeekSeek itu sempat menimba ilmu di berbagai institusi bergengsi di AS, mayoritas dari mereka akhirnya memilih pulang kampung ke China.

Kondisi ini menciptakan fenomena "transfer pengetahuan satu arah" yang sangat menguntungkan Beijing.

"Pola pergerakan talenta ini mewakili tantangan mendasar bagi kepemimpinan teknologi AS, yang tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan sekadar mengandalkan kontrol ekspor atau investasi komputasi semata," pungkas para penulis laporan tersebut.

Baca juga: Tren HP Murah China Berubah, Tanda-tandanya Terlihat di Indonesia

Tag:  #persaingan #memanas #china #kini #hampir #salip #amerika

KOMENTAR