Ada Jalur Lingkar Kaldera Tengger di Gunung Bromo, Apa Itu?
Rencana pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di wilayah Gunung Bromo tengah diperbincangkan. Hal tersebut dinilai jadi upaya pemerintah untuk mendorong pengembangan kawasan wisata unggulan di Jawa Timur ini.
Melalui akun Instagram resmi @bbtnbromotenggersemeru, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjelaskan alasan pembangunan JLKT.
- Liburan ke Bromo? Ini 6 Aktivitas yang Wajib Dicoba
- Ke Bromo Kini Bisa Naik DAMRI dari Malang dan Surabaya, Ini Jadwalnya
"Penataan ini bertujuan untuk melindungi ekosistem, menjaga nilai budaya Tengger, dan meningkatkan kenyamanan wisata," demikian keterangan unggahan tersebut pada Selasa (14/4/2026).
Pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger di Gunung Bromo
Bantu kendalikan wisata massal
Rencana pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di wilayah Gunung Bromo tengah diperbincangkan. Apa itu?
JLKT digadang-gadang menjadi solusi pengendalian wisata massal, sekaligus menjaga kelestarian alam dan budaya masyarakat Tengger.
Jalur ini disebut dibuat dengan penataan jalan yang sudah ada agar lebih terarah, tanpa membangun jalur baru.
JLKT dirancang sepanjang 13 kilometer dengan lebar 18 meter dan akan dilengkapi dengan tiga titik rest area, empat titik kantong parkir, 9.725 patok dengan stiker reflektor untuk meningkatkan visibilitas pada malam hari, dan 17 area sakral.
Penataan ini dilakukan menyusul tingginya aktivitas wisata di wilayah Gunung Bromo, tapi tidak didukung oleh jalur kendaraan wisata yang masih belum sepenuhnya tertata dalam satu arah yang jelas.
Hal tersebut memicu jalur-jalur yang tidak terarah dan dapat berdampak pada sabana, habitat alami, dan kondisi tanah di beberapa titik.
Lewat penataan JLKT, pihak TNBTS berharap dapat menertibkan pergerakan wisata di Bromo, sekaligus menjaga kenyamanan pengunjung tanpa meninggalkan nilai budaya Tengger.
- Pendakian Semeru Ditutup karena Cuaca Ekstrem, Bagaimana Kondisi Wisata Bromo?
- Viral Video Paralayang di Gunung Bromo, Pelaku Terancam Sanksi Adat
Anggaran Rp 11 miliar
Groundbreaking JLKT di Bromo dimulai. Jalur ini membatasi kendaraan wisata dan menjaga kesakralan kawasan Tengger.
Pembangunan JLKT resmi dimulai oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi pada Senin (13/4/2026), seperti dilaporkan Kompas.com, Senin (13/4/2026).
Adapun anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 11,1 miliar dengan waktu pelaksanaan selama 210 hari kalender.
Groundbreaking dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS), Perhutani, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta Forkopimda dari Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.
Khofifah menuturkan, pembangunan JLKT tidak sekadar infrastruktur, tapi juga bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara alam, budaya, dan ekonomi.
“Kalau kita ingin alam menjaga kita maka kita harus menjaga alam. Jadi jaga alam, alam akan jaga kita,” kata Khofifah.
Baca juga: TN Komodo Batasi Kunjungan Wisata 1.000 Orang Per Hari, Dibagi 3 Sesi
Target pertumbuhan wisata di Bromo
Rencana pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di wilayah Gunung Bromo tengah diperbincangkan. Apa itu?
Khofifah menargetkan peningkatan lama tinggal wisatawan (length of stay) di kawasan Bromo menjadi dua malam. Menurutnya, hal ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal.
“Kalau stay-nya bisa dua malam maka gerakan ekonomi masyarakat bisa tumbuh seiring dengan penguatan ekspresi budaya lokal,” ujar Khofifah.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sejumlah fasilitas penunjang, mulai dari tiga rest area lengkap dengan restroom, empat titik parkir untuk spot foto wisatawan, hingga dua sumber air baru di Widodaren dan Jontur dengan kapasitas masing-masing 12.000 liter.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Rudijanta Tjahja Nugraha menjelaskan, JLKT dirancang sebagai instrumen pengendalian mobilitas wisatawan di tengah meningkatnya tekanan pariwisata massal.
Baca juga: 50 Tempat Terbaik untuk Dikunjungi 2026 Versi Time, Ada dari Indonesia
Wisatawan di kawasan Bromo menggunakan jasa transportasi kuda di kawasan Gunung Bromo. Rencana pembangunan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di wilayah Gunung Bromo tengah diperbincangkan. Apa itu?
“Pembangunan jalur lingkar ini menjadi kebutuhan dalam pengendalian mobilitas pengunjung dan instrumen penting dalam pelestarian alam,” kata Rudi.
Ia menambahkan, proyek ini telah melalui tahapan panjang sejak 2016, mulai dari kajian biofisik, daya dukung lingkungan, hingga desain teknis berbasis budaya lokal. Pembangunan ditargetkan rampung pada Oktober 2026.
Ketua Paruman Pandita Tengger Sutomo turut mendukung rencana ini. Ia menilai, proyek JLKT bermanfaat bagi pariwisata dan konservasi, asalkan tetap menghormati nilai adat.
"Kami sangat mendukung, tetapi titik-titik sakral sdan kawasan spiritual harus tetap dijaga,” kata Sutomo.
Baca juga: Tragedi di Benteng Laferriere Haiti, 30 Orang Tewas karena Desak-desakan