Raja Ampat Bersiap Jalani Proses Revalidasi Status UNESCO Global Geopark
Keindahan gugusan Pulau Piaynemo diabadikan dalam desain uang pecahan Rp 100.000.(DOK KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF)
20:14
14 Mei 2026

Raja Ampat Bersiap Jalani Proses Revalidasi Status UNESCO Global Geopark

Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, bersiap menghadapi momen penting pada Agustus 2026.

Kawasan ini dijadwalkan menjalani proses revalidasi status UNESCO Global Geopark (UGGp), sebuah penilaian komprehensif dari UNESCO untuk menentukan kelayakan kelanjutan status geopark dunia, pengakuan prestisius yang dimiliki Raja Ampat sejak pertama kali ditetapkan.

Untuk memastikan kesiapan itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana melanjutkan agenda kunjungan kerja hari keduanya di Raja Ampat dengan fokus pada penguatan tata kelola destinasi kelas dunia, serta pengecekan langsung kondisi geosite dan desa wisata unggulan.

Komitmen jaga status geopark dunia

Saat meninjau Geosite Piaynemo pada Selasa (12/5/2026), Menpar Widiyanti menekankan bahwa status UNESCO Global Geopark bukan sekadar label internasional, melainkan wujud komitmen jangka panjang.

“Status geopark dunia harus dijaga melalui tata kelola yang kuat, konservasi yang nyata, dan pelibatan masyarakat lokal,” ujar Menpar Widiyanti.

Baca juga: Raja Ampat Masuk 7 Keajaiban Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveller

Ia menegaskan bahwa sinergi antara konservasi lingkungan, penguatan tata kelola, dan pemberdayaan masyarakat adalah kunci agar pariwisata Raja Ampat berjalan secara sustainable.

Proses revalidasi UNESCO sendiri meliputi penilaian terhadap manajemen geopark, keberhasilan konservasi geologi, pelibatan masyarakat, edukasi lingkungan, hingga dampak pariwisata terhadap ekonomi lokal.

Arborek, bukti nyata keberhasilan ekowisata

Kunjungan dilanjutkan ke Desa Wisata Arborek, desa yang pernah meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Arborek dinilai UNESCO dan pemerintah sebagai contoh ekowisata yang berhasil mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan pelestarian ekosistem laut dan budaya lokal.

“Desa Arborek adalah bukti nyata bahwa ekowisata bukan hanya konsep di atas kertas. Di sini kita melihat bagaimana masyarakat mampu berdaya secara ekonomi tanpa mengabaikan warisan leluhur dan kelestarian laut.”

Ia menambahkan, keberhasilan Arborek harus menjadi inspirasi bagi desa wisata lain di Indonesia yang ingin mengembangkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Penguatan pesan konservasi dari Pulau Kri

Menutup rangkaian kunjungan, Menpar Widiyanti meninjau program konservasi hiu zebra di Sorido Bay Resort, Pulau Kri, Distrik Meos Mansar

Dalam kegiatan tersebut, Menpar memberikan nama “Putri” pada salah satu telur hiu zebra yang sedang diinkubasi dan menunggu waktu menetas.

Pemberian nama simbolis itu menjadi pesan kuat mengenai pentingnya melestarikan kehidupan laut Raja Ampat. Hiu zebra merupakan spesies yang kini terancam dan tengah menjadi fokus upaya konservasi di kawasan tersebut.

Baca juga: Bukan Cuma Pemandangan, Ini Alasan Ilmiah Raja Ampat Disebut Surga Terakhir di Bumi

“Tugas kita bersama untuk Raja Ampat adalah memastikan keindahan ini tetap hidup, lestari, dan memberi manfaat bagi generasi hari ini maupun masa depan,” tegas Menpar.

Dengan berbagai penguatan tata kelola, komitmen konservasi, serta keterlibatan aktif masyarakat, Raja Ampat menunjukkan kesiapan untuk menyambut tim asesor UNESCO pada Agustus 2026.

Jika proses revalidasi berjalan baik, Raja Ampat akan kembali mempertahankan statusnya sebagai UNESCO Global Geopark, sekaligus mengukuhkan diri sebagai salah satu destinasi ekowisata paling penting dan indah di dunia.

Tag:  #raja #ampat #bersiap #jalani #proses #revalidasi #status #unesco #global #geopark

KOMENTAR