Harga Emas Turun 11 Persen Sepekan, Konflik Iran Ubah Arah Pasar Global
Ilustrasi emas, emas batangan. Harga emas Antam mencapai rekor tertinggi sepanjang masa hari ini, Jumat (11/4/2025).(PIXABAY/LINDA HAMILTON)
10:32
21 Maret 2026

Harga Emas Turun 11 Persen Sepekan, Konflik Iran Ubah Arah Pasar Global

Gejolak geopolitik akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran memicu gangguan aliran minyak global, merusak infrastruktur energi, serta meningkatkan kekhawatiran akan konflik berkepanjangan.

Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi tersebut, harga emas dunia yang biasanya menjadi aset safe haven justru mengalami penurunan tajam.

Dikutip dari CNN, Sabtu (21/3/2026), logam mulia itu tercatat turun 11 persen dalam sepekan, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak 1983.

Baca juga: Harga Emas di Pegadaian 21 Maret 2026, Galeri 24 dan UBS Stabil

Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.DOK. Pixabay/Global_Intergold. Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.

Secara keseluruhan, harga emas dunia telah merosot lebih dari 14 persen sejak konflik dimulai.

Dalam kondisi gejolak global, investor umumnya beralih ke emas dengan keyakinan bahwa aset ini dapat mempertahankan nilainya ketika inflasi meningkat, mata uang melemah, atau krisis ekonomi terjadi.

Akan tetapi, lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah kini mendorong bank sentral di berbagai negara meninjau kembali prospek suku bunga, yang berdampak signifikan terhadap pergerakan harga emas.

Situasi pasar yang bergejolak juga memicu penguatan kembali dollar AS serta mendorong investor meninjau ulang komposisi portofolio mereka.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 21 Maret 2026, Cek Rinciannya

Ekspektasi suku bunga The Fed tekan daya tarik emas

Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang tahun ini.

Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik instrumen investasi yang memberikan imbal hasil seperti obligasi, sekaligus menekan minat terhadap emas yang tidak menghasilkan pendapatan.

Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.

Suku bunga The Fed memiliki pengaruh besar terhadap pasar keuangan global. Bank sentral AS itu baru saja mempertahankan suku bunga untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga tambahan sepanjang tahun ini.

Baca juga: Harga Emas dan Perak Dunia Anjlok di Tengah Lonjakan Minyak dan Risiko Inflasi Global

Sebelumnya, harga emas sempat melonjak tajam pada musim gugur ketika The Fed memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut. Kini, dengan ekspektasi suku bunga akan bertahan stabil selama beberapa bulan ke depan, imbal hasil obligasi meningkat.

Hal ini meningkatkan opportunity cost atau biaya peluang memegang emas.

“Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar,” ujar Hardika Singh, economic strategist di Fundstrat.

Menurutnya, kenaikan imbal hasil menjadi faktor utama yang menjelaskan penurunan harga emas belakangan ini.

Baca juga: Go Show Emas Antam Lebaran 2026, Catat Tanggal dan Lokasinya

Kebijakan bank sentral global ikut berubah

Tak hanya di AS, bank sentral di berbagai negara juga mulai menyesuaikan kebijakan suku bunga sebagai respons terhadap lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi.

Ketidakpastian terkait inflasi mendorong sejumlah bank sentral mempertahankan suku bunga tetap tinggi. Bahkan, beberapa otoritas moneter mengambil langkah pengetatan tambahan.

Reserve Bank of Australia, misalnya, justru menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang dipicu gejolak energi.

Perubahan kebijakan moneter secara global ini turut memperlemah daya tarik emas di mata investor, terutama ketika alternatif investasi dengan imbal hasil lebih tinggi tersedia.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun 7 Persen dalam Sepekan, Ini Penyebabnya

Penguatan dollar AS jadi faktor penting

Ilustrasi uang dollar AS. FREEPIK/PVPRODUCTIONS Ilustrasi uang dollar AS.

Selain kebijakan suku bunga, pergerakan dollar AS juga menjadi faktor kunci dalam menentukan arah harga emas.

Mata uang AS tercatat menguat sepanjang bulan ini, membuat emas, yang diperdagangkan dalam denominasi dollar AS, menjadi relatif lebih mahal bagi investor internasional.

Secara historis, emas cenderung diuntungkan dalam kondisi dollar AS melemah karena harga logam mulia tersebut menjadi lebih terjangkau bagi investor global.

Namun, sejak konflik Iran dimulai, indeks dollar AS naik hampir 2 persen, mengakhiri tren pelemahan yang berlangsung selama beberapa bulan sebelumnya.

Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 4 Persen, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi

Penguatan dollar didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, kekhawatiran inflasi, serta prospek suku bunga yang lebih tinggi.

Pergerakan ini menjadi sinyal pelaku pasar semakin cemas terhadap dampak konflik Iran terhadap perekonomian global.

Reli besar harga emas mulai kehilangan momentum

Penurunan harga emas juga terjadi setelah reli besar dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga yang sangat cepat membuat sebagian investor mulai mengambil keuntungan atau menjual emas untuk menutup kerugian pada aset lain.

Momentum kenaikan yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir kini mulai melemah.

Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah Lebih dari Sebulan

Sepanjang 2025, harga emas melonjak hingga 64 persen dan mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 1979.

Logam mulia tersebut bahkan menembus level 5.000 dollar AS per troy ounce untuk pertama kalinya pada Januari 2026. Namun, euforia tersebut tampaknya mulai mereda.

Pada perdagangan Jumat (20/3/2026), harga emas turun di bawah 4.500 dollar AS per troy ounce, menghapus seluruh kenaikan yang terjadi dalam dua bulan terakhir.

Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.Shutterstock/VladKK Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.

Kenaikan tajam sebelumnya sebagian didorong oleh investor ritel yang ikut memburu reli harga. Dalam beberapa pekan terakhir, emas bahkan diperdagangkan lebih menyerupai saham meme dibandingkan aset safe haven tradisional.

Baca juga: Harga Emas Dunia Bangkit Usai Turun 6 Hari Beruntun

“Momentum kenaikan (harga emas) telah memudar,” tulis para strategist bank Belanda ING dalam sebuah catatan riset.

“Sebagian investor menjual emas untuk mendapatkan uang tunai atau menyeimbangkan kembali portofolio mereka,” imbuh mereka.

Menurut mereka, aksi jual yang dilakukan investor untuk mengumpulkan likuiditas maupun menyeimbangkan kembali portofolio turut menekan harga emas.

Prospek jangka panjang masih dipandang positif

Meski mengalami koreksi tajam, sejumlah analis masih mempertahankan pandangan optimistis terhadap prospek harga emas.

Baca juga: Tertahan di Level Kunci, Harga Emas Tunggu Suku Bunga The Fed

Penguatan dollar AS dinilai berpotensi mereda seiring berlanjutnya ketidakpastian geopolitik dan dinamika ekonomi global.

Veteran Wall Street Ed Yardeni bahkan masih mempertahankan target harga emas di level 6.000 dollar AS per troy ounce pada akhir tahun.

“Namun, kami sedang mempertimbangkan untuk menurunkan target akhir tahun kami kembali ke 5.000 dollar AS jika harga emas terus menentang ekspektasi kami bahwa seharusnya harganya naik di tengah perkembangan geopolitik yang mengkhawatirkan, inflasi yang meningkat, dan utang pemerintah AS yang terus bertambah,” kata Yardeni dalam sebuah catatan.

Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa meskipun tekanan jangka pendek masih membayangi, pelaku pasar tetap mencermati sejumlah faktor yang berpotensi mendorong harga emas kembali menguat, termasuk perkembangan konflik geopolitik, inflasi global, serta kondisi fiskal AS.

Tag:  #harga #emas #turun #persen #sepekan #konflik #iran #ubah #arah #pasar #global

KOMENTAR