Gejolak Global Dorong Bitcoin (BTC) Ungguli Emas dan Saham
Ilustrasi Bitcoin.(DOK. Shutterstock.)
20:44
24 Maret 2026

Gejolak Global Dorong Bitcoin (BTC) Ungguli Emas dan Saham

Meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian di pasar keuangan global.

Di tengah kondisi tersebut, Bitcoin (BTC) justru menunjukkan ketahanan dengan kenaikan sekitar 12 persen dalam 60 hari terakhir dan diperdagangkan di kisaran 70.000 dollar AS hingga 71.000 dollar AS per Selasa (24/3/2026).

Sebaliknya, indeks S&P 500 tercatat turun sekitar 4 persen. Pada saat yang sama, harga emas juga mengalami koreksi hingga 16 persen dan mencatatkan penurunan terbesar sejak 1983 dengan menyentuh level sekitar 4.400 dollar AS per ons troi.

Baca juga: Harga Bitcoin Melemah ke Posisi 68.784,76, Imbas Ultimatum Trump ke Iran Terkait Selat Hormuz?

Ilustrasi bitcoin. WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin.

Kondisi ini mendorong meningkatnya perhatian investor terhadap Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai di tengah gejolak pasar.

Vice President INDODAX Antony Kusuma mengatakan, kinerja kuat Bitcoin pada masa krisis bukanlah fenomena baru.

Menurut dia, pola serupa telah terjadi dalam sejumlah periode ketidakpastian global sebelumnya.

“Karakteristik Bitcoin yang terdesentralisasi, dapat diperdagangkan 24 jam, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional menjadikannya relevan di tengah terganggunya stabilitas sistem keuangan akibat konflik geopolitik. Hal ini membuat Bitcoin memiliki fungsi praktis sekaligus potensi sebagai alternatif lindung nilai,” ujar Antony dalam keterangan resmi, Selasa.

Ia menambahkan, situasi geopolitik yang memicu gangguan pada sistem keuangan global sering kali mendorong investor mencari aset alternatif.

Baca juga: Citigroup Pangkas Target Harga Bitcoin Jadi 112.000 Dollar AS

Dalam konteks tersebut, Bitcoin dinilai memiliki keunggulan dari sisi aksesibilitas dan fleksibilitas perdagangan.

Emas tertekan sell-off dan penguatan dollar AS

Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.Shutterstock/VladKK Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.

Sementara itu, Kepala Strategi Logam JPMorgan Greg Shearer menyebutkan bahwa penurunan harga emas dipicu oleh aksi jual (sell-off) di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Menurut Shearer, tekanan pada harga emas juga didorong oleh penguatan dolar AS serta meningkatnya keuntungan dari obligasi.

Kondisi ini membuat emas menjadi kurang menarik dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil.

Baca juga: Robert Kiyosaki Prediksi Harga Bitcoin Bisa Tembus 750.000 Dollar AS

Ia juga menilai dinamika tersebut berpotensi mengubah pola pembelian emas oleh bank sentral, yang selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam menopang permintaan logam mulia di pasar global.

Ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz, turut meningkatkan risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak.

Gangguan pada distribusi energi global dinilai dapat memperbesar tekanan harga komoditas dan biaya produksi di berbagai sektor.

Situasi ini kemudian mendorong ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas yang tidak memberikan imbal hasil rutin cenderung kehilangan daya tarik, terutama di kalangan investor institusional yang mempertimbangkan peluang keuntungan dari instrumen berbasis bunga.

Baca juga: Harga Bitcoin Turun ke 69.200 Dollar AS, Ultimatum Trump ke Iran Picu Volatilitas

Kripto masih dihadapkan pada volatilitas

Meski menunjukkan kinerja yang relatif kuat dalam beberapa waktu terakhir, pasar kripto masih berada dalam fase volatil.

Sentimen investor juga dinilai cenderung berhati-hati seiring ketidakpastian arah kebijakan moneter global.

Ilustrasi aset kripto. PEXELS/RDNE STOCK PROJECT Ilustrasi aset kripto.

Faktor makroekonomi seperti inflasi dan kebijakan suku bunga masih akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga aset kripto ke depan.

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral global dapat memicu fluktuasi harga yang signifikan di pasar aset digital.

Baca juga: Harga Bitcoin Bertahan di 70.000 Dollar AS, Analis Soroti Sinyal Reset Siklus

Dalam kondisi tersebut, investor disarankan untuk tetap memperhatikan manajemen risiko serta memahami dinamika pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

Pendekatan yang lebih selektif dan berbasis analisis dinilai penting untuk menghadapi ketidakpastian yang masih membayangi pasar keuangan global.

Antony menegaskan, pemahaman terhadap karakteristik aset kripto menjadi hal krusial, terutama bagi investor yang baru memasuki pasar.

Ia menilai literasi keuangan dan edukasi investasi berperan penting dalam membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih bijak.

Baca juga: Bitcoin Melemah ke 70.000 Dollar AS, Investor Respons Kebijakan Ketat The Fed

INDODAX dorong transparansi dan literasi kripto

Sebagai platform perdagangan aset kripto di Indonesia, INDODAX menyatakan terus berkomitmen menghadirkan layanan yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat.

Perusahaan juga secara rutin mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) yang dapat diakses publik melalui CoinMarketCap.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi serta membangun kepercayaan pengguna terhadap ekosistem perdagangan aset kripto.

Selain itu, INDODAX menyebut aktif mendorong literasi dan edukasi terkait investasi aset digital. Upaya tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat memahami risiko, peluang, serta dinamika pasar kripto yang cenderung berubah cepat.

Vice President Indodax Antony Kusuma.DOK. INDODAX Vice President Indodax Antony Kusuma.

Baca juga: Bitcoin Tembus 75.600 Dollar AS di Tengah Perang Timur Tengah, Kripto Jadi Safe Haven?

Menurut Antony, edukasi yang berkelanjutan menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan industri kripto yang sehat.

Dengan pemahaman yang lebih baik, investor diharapkan dapat berpartisipasi secara bertanggung jawab dan tidak hanya berfokus pada potensi keuntungan jangka pendek.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai, dinamika pasar global masih menjadi faktor penting yang akan memengaruhi pergerakan berbagai kelas aset, termasuk kripto, saham, dan komoditas seperti emas.

Investor pun terus memantau perkembangan geopolitik, kebijakan moneter, serta indikator ekonomi lainnya dalam menentukan strategi investasi ke depan.

Tag:  #gejolak #global #dorong #bitcoin #ungguli #emas #saham

KOMENTAR