Laba Bank Tertahan, Penjualan Aset Bermasalah Tak Lagi Dominan
Ilustrasi bank. Jadwal operasional BCA, BNI, Mandiri, BSI, dan BRI selama libur Lebaran 2026.(Freepik/fanjianhua)
07:44
25 Maret 2026

Laba Bank Tertahan, Penjualan Aset Bermasalah Tak Lagi Dominan

Sejumlah bank masih mengandalkan pendapatan dari penjualan aset bermasalah atau recovery income untuk menahan tekanan laba pada 2025. Kinerja industri perbankan terlihat melambat dalam beberapa waktu terakhir.

Strategi ini tetap dijalankan, meski pelaku industri melihat prospeknya semakin menantang. Kondisi ekonomi belum pulih sepenuhnya dan stok aset bermasalah mulai menipis.

Pada tahun lalu, beberapa bank besar mencatat pertumbuhan laba yang ditopang peningkatan pendapatan dari penjualan aset.

Baca juga: Superbank Cetak Laba 2025 Rp 143,3 Miliar, Resmi Naik Kelas ke KBMI 2

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih tumbuh 4,9 persen secara tahunan. Kinerja ini didukung pendapatan dari penjualan aset keuangan sebesar Rp 2,23 triliun atau naik 46,7 persen.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatat kenaikan laba bersih 0,92 persen. Pendapatan recovery mencapai Rp 7,28 triliun atau meningkat 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai penjualan aset bermasalah masih akan digunakan tahun ini. Perannya tidak lagi menjadi pendorong utama laba.

Menurut dia, keterbatasan stok aset dan kondisi ekonomi menjadi tantangan utama. “Prospek penjualan aset bermasalah akan melambat dan akan ditawarkan di harga diskon,” ujar Trioksa.

Dari sisi perbankan, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyebut penyelesaian aset bermasalah berjalan sesuai target dan jadwal. Seluruh proses penjualan mengikuti ketentuan yang berlaku.

Baca juga: Laba Bersih Bank Jago Melonjak 115 Persen Jadi Rp 276 Miliar pada 2025

BCA juga menekankan pengelolaan risiko kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) secara hati-hati. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas kredit.

Hingga 2025, rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah atau NPL coverage BCA mencapai 183,8 persen. Level ini dinilai cukup untuk mengantisipasi risiko ke depan.

Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut kontribusi penjualan aset sangat bergantung pada ketersediaan portofolio.

Jumlah aset bermasalah di CIMB Niaga saat ini relatif terbatas. Ruang untuk mendorong recovery income menjadi tidak besar.

CIMB Niaga mengalihkan fokus ke pendapatan non-bunga atau fee based income. Langkah ini diambil di tengah permintaan kredit yang masih lemah.

Sepanjang tahun lalu, CIMB Niaga mencatat pendapatan recovery sebesar Rp 1,02 triliun. Angka ini turun 29,4 persen secara tahunan.

Meski begitu, laba bersih masih tumbuh tipis 0,53 persen menjadi Rp 6,93 triliun.

“Recovery income dari penjualan aset bermasalah bukan faktor utama capaian tersebut,” tegas Lani.

Artikel ini sudah tayang di Kontan dengan judul Penjualan Aset Bermasalah Bank Diprediksi Melambat di Tengah Tekanan Ekonomi

Tag:  #laba #bank #tertahan #penjualan #aset #bermasalah #lagi #dominan

KOMENTAR