Pengamat Bahas Fenomena Flare di Super League, Antara Tradisi dan Pelanggaran Regulasi
- Penyalaan flare terjadi di sejumlah pertandingan pekan ke-33 Super league 2025-2026.
Dari Kediri, Solo, Bali hingga Parepare, tribune stadion dipenuhi nyala merah yang menyala bersamaan setelah peluit panjang dibunyikan.
Fenomena tersebut terjadi hampir merata di berbagai stadion, baik saat tim tuan rumah meraih kemenangan, bermain imbang, maupun menelan kekalahan.
Baca juga: Update Klasemen Super League 2025-2026 Usai Hasil PSM Vs Persib 1-2
Di satu sisi, momen itu menjadi simbol euforia dan kecintaan suporter terhadap klubnya. Tetapi, regulasi pertandingan dengan jelas melarang penyalaan flare alias cerawat di dalam stadion.
Pengamat sepak bola nasional, Akmal Marhali, menilai fenomena penyalaan flare di pengujung musim ini merupakan bagian dari antusiasme fan sepak bola Indonesia.
“Ya ini bagian dari antusiasme sepak bola kita kepada kompetisi yang digelar sekaligus juga mungkin sebagai bentuk tradisi yang dilakukan."
"Walaupun tradisi ini akan mendapatkan sanksi dari Komite Disiplin PSSI menyalakan flare saat pertandingan,” ujar pengamat yang biasa disapa Akmal itu kepada Kompas.com.
“Sepak bola punya tradisi-tradisi sangat unik dan menarik yang masing-masing punya ciri khas. Jadi kalau kemudian banyak klub yang akhir musim melakukan pembakaran flare itu merupakan bagian dari salah satu tradisi yang dilakukan suporternya,” imbuhnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sepak bola di Indonesia tidak hanya soal pertandingan di lapangan, tetapi juga tentang ikatan emosional antara suporter dengan klub kebanggaannya.
Baca juga: Persis Solo Dibayangi Sanksi Ratusan Juta akibat Flare di Manahan, Direktur: Tim yang Kena Imbasnya
Apalagi, laga kandang terakhir selalu memiliki suasana berbeda. Banyak suporter memanfaatkannya untuk memberikan penghormatan kepada tim setelah berjuang selama satu musim penuh.
“Walaupun saya tidak menyarankan tapi itulah bentuk euforia kecintaan suporter terhadap sepak bola Indonesia,” katanya soal penyalaan flare.
Kritik untuk Kompetisi
Di balik nyala flare yang memenuhi tribun stadion, pengamat yang juga kordinator Save Our Soccer itu melihat ada pesan yang ingin disampaikan suporter kepada federasi dan pengelola kompetisi.
Menurutnya, aksi tersebut bukan sekadar selebrasi, tetapi juga bentuk kritik tidak tertulis terhadap kondisi sepak bola Indonesia yang masih perlu banyak pembenahan.
“Yang juga bisa menjadi pesan moral bahwa musim depan banyak juga hal-hal yang harus di benahi dan diperbaiki dari sistem kompetisi sepak bola kita. Baik dari sisi regulasi dan lain sebagainya,” ujar Akmal Marhali.
“Bagaimanapun ke depan sepak bola kita harus dibenahi baik dari level grassroot sampai kompetisi profesional agar bisa berprestasi ke depannya,” sambungnya.
Sebab, suporter sebenarnya ingin melihat sepak bola Indonesia berkembang menjadi lebih baik, aman, dan nyaman untuk semua pihak.
Meskipun, Akmal Marhali mengakui penggunaan flare memang memiliki dua sisi yang berbeda. Dari sisi regulasi, aksi tersebut jelas melanggar aturan dan dapat memicu sanksi bagi klub.
"Terjemahan dari pembakaran flare yang dilakukan suporter dan ini bagian dari kecintaan publik sepak bola kita terhadap olahraga yang disenangi di jagat raya ini,” tuturnya.
Momen pemain kunci Persib Bandung Beckham Putra melewati dua pemain PSM Makassar pada laga pekan ke-33 Super League 2025-2026, Minggu (17/5/2026) di Stadion BJ Habibie, Parepare Sulawesi Selatan.
Harapan Suporter Away Kembali Dibuka
Selain itu, Akmal Marhali juga menyinggung masih diberlakukannya larangan suporter tandang pasca-Tragedi Kanjuruhan.
Ia berharap musim depan sepak bola Indonesia sudah bisa kembali dinikmati dua kelompok suporter yang bertanding.
Baca juga: Kronologi Kericuhan Suporter Usai Laga PSM vs Persib
“Tapi yang paling penting adalah bahwa tidak terjadi hal-hal kerusuhan atau anarkis dan vandalisme serta yang paling penting juga mungkin ini menjadi sebuah pesan kepada federasi,” ujar pengamat yang tergabung dalam anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan itu.
Tag: #pengamat #bahas #fenomena #flare #super #league #antara #tradisi #pelanggaran #regulasi