Harga Minyak Naik, Industri Mobil Listrik China Diproyeksi Melesat
Ilustrasi mobil listrik. (PIXABAY/MENNO DE JONG)
12:20
26 Maret 2026

Harga Minyak Naik, Industri Mobil Listrik China Diproyeksi Melesat

Lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai memperkuat daya tarik kendaraan listrik (electric vehicle/EV), terutama bagi produsen asal China yang tengah memperluas ekspansi internasional.

Dikutip dari CNN, Kamis (26/3/2026), kombinasi harga mobil listrik China yang semakin murah dan harga bensin yang terus meningkat berpotensi mendorong pertumbuhan industri secara global.

Seiring semakin murahnya kendaraan listrik buatan China, harga bensin semakin mahal.

Baca juga: Filipina Tetapkan Darurat Energi, Siapkan Dana Rp5,6 Triliun Hadapi Lonjakan Harga Minyak

Ilustrasi mobil listrik. PIXABAY/ANDREAS160578 Ilustrasi mobil listrik.

Kombinasi tersebut kemungkinan akan mempercepat ekspansi global industri ini, kata para analis, terutama di antara negara-negara Asia yang paling terdampak oleh kekurangan bahan bakar.

Peluang ekspansi produsen kendaraan listrik China di Asia

Analis industri menilai kenaikan harga bahan bakar membuka peluang bagi merek kendaraan listrik China untuk memperkuat penetrasi pasar di kawasan Asia.

Managing director Sino Auto Insights, Tu Le, mengatakan produsen mobil listrik China berpotensi memanfaatkan momentum ini untuk memperluas pangsa pasar mereka.

“Ada potensi bagi merek-merek China untuk menembus pasar Asia secara signifikan karena tingginya biaya bensin,” ujar Tu Le.

Baca juga: Harga Minyak Turun 2 Persen, Harapan Damai Iran-AS Redakan Tekanan Pasar

“Saya berharap mereka akan memanfaatkan hal itu sepenuhnya," imbuh dia.

Kenaikan harga bensin dinilai mengubah pertimbangan konsumen dalam memilih kendaraan.

Jika sebelumnya faktor harga pembelian menjadi hambatan adopsi EV, lonjakan biaya operasional kendaraan berbahan bakar fosil membuat kendaraan listrik semakin kompetitif secara ekonomi.

Selain itu, produsen China telah mengembangkan kapasitas produksi besar dan rantai pasok baterai yang relatif terintegrasi.

Ilustrasi Mobil Listrik Pexels/Mike Ilustrasi Mobil Listrik

Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 5 Persen, Ini Penyebabnya

Hal ini memungkinkan mereka menawarkan EV dengan harga lebih terjangkau dibandingkan sejumlah pesaing global.

EV dinilai mampu menekan biaya impor energi

Laporan terbaru dari lembaga think tank energi Ember juga menyoroti dampak kendaraan listrik terhadap konsumsi minyak global.

Dalam laporannya, Ember menyebut EV sebagai pengungkit terbesar untuk memangkas biaya impor, sekaligus memperkirakan bahwa penggunaan kendaraan listrik pada tahun lalu telah menekan konsumsi minyak mentah global sebesar 1,7 juta barrel per hari (bph).

Angka tersebut setara dengan sekitar 70 persen ekspor minyak Iran pada 2025.

Baca juga: Harga Minyak Melejit di Atas 100 Dollar AS, Pasar Bingung oleh Klaim AS-Iran

Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan adopsi EV tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi keseimbangan pasar energi global serta neraca perdagangan negara-negara pengimpor minyak.

Volatilitas harga bahan bakar dorong perubahan perilaku

Lead analyst sekaligus co-founder Centre for Research on Energy and Clean Air, Lauri Myllyvirta, mengatakan lonjakan harga minyak yang berulang dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap kendaraan berbahan bakar fosil.

“Ketika terjadi lonjakan harga tunggal dalam lingkungan inflasi rendah, orang dapat mengabaikannya,” papar Myllyvirta.

“Jika ada kejadian serupa lagi, itu bisa menjadi momen ‘tertipu dua kali’ yang menegaskan fakta bahwa harga itu tidak stabil dan mengendarai kendaraan berbahan bakar bensin hanya membuat Anda tetap rentan terhadap fluktuasi harga tersebut," tuturnya.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi Usai Iran Bantah Pembicaraan dengan AS

Ilustrasi kendaraan listrik, mobil listrik. SHUTTERSTOCK/GUTEKSK7 Ilustrasi kendaraan listrik, mobil listrik.

Menurut Myllyvirta, penyebaran kendaraan listrik di China telah berdampak signifikan terhadap konsumsi energi negara tersebut.

Ia memperkirakan penetrasi EV membantu menurunkan konsumsi minyak China hampir 10 persen pada tahun lalu.

“Dari perspektif China, skenario ini persis seperti yang ada di benak mereka ketika mereka mengejar strategi keamanan energi mereka,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan bagaimana volatilitas pasar energi global menjadi pertimbangan utama dalam strategi transisi energi China selama beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Imbas Perang Timur Tengah, Saudi Aramco Kurangi Ekspor Minyak ke Asia April 2026

Strategi keamanan energi dan target iklim

Pengamat juga menilai krisis minyak dapat mempercepat ambisi energi bersih China.

Executive director Institute of Middle East Studies di Peking University HSBC Business School, Zhu Zhaoyi, mengatakan ketidakstabilan pasokan energi global telah lama menjadi faktor yang mendorong kebijakan energi China.

“Kepemimpinan China sudah pernah menyaksikan skenario ini sebelumnya. Setiap kali terjadi ketidakstabilan di Timur Tengah, hal itu memperkuat pelajaran yang sama: bergantung pada impor bahan bakar fosil bukan hanya buruk bagi lingkungan, tetapi juga merupakan masalah keamanan nasional.” kata Zhu.

Ia menambahkan bahwa krisis minyak berpotensi mempercepat upaya China dalam mencapai target puncak emisi pada 2030 dan netral karbon pada 2060.

Baca juga: IEA Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Minyak Tambahan, Krisis Energi Dinilai Sangat Parah

Dorongan menuju elektrifikasi transportasi menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Dominasi industri EV China

Secara global, China telah menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik.

Ilustrasi kendaraan listrikSHUTTERSTOCK/JEERASAK BANDITRAM Ilustrasi kendaraan listrik

Negara tersebut memiliki kapasitas produksi besar serta ekosistem industri yang mencakup pengembangan baterai, manufaktur kendaraan, hingga infrastruktur pengisian daya.

Dominasi ini juga tercermin dalam penetrasi pasar domestik yang tinggi.

Baca juga: Harga Minyak Turun Usai Trump Tunda Serangan ke Fasilitas Energi Iran

Tingkat adopsi EV yang meningkat tidak hanya mengurangi konsumsi minyak, tetapi juga memperkuat posisi industri otomotif China dalam persaingan global.

Selain itu, keunggulan biaya produksi membuat kendaraan listrik China semakin kompetitif di pasar internasional, terutama di negara berkembang yang sensitif terhadap perubahan harga energi.

Dampak krisis energi terhadap transisi transportasi

Lonjakan harga minyak global menyoroti hubungan erat antara geopolitik, pasar energi, dan inovasi teknologi di sektor transportasi.

Krisis pasokan bahan bakar dapat mempercepat perubahan preferensi konsumen serta kebijakan pemerintah dalam mendorong adopsi kendaraan listrik.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Rontok, tapi Jalur Selat Hormuz Masih Rawan

Dalam konteks ini, produsen EV China dinilai berada pada posisi yang relatif siap untuk memanfaatkan momentum tersebut.

Dengan meningkatnya tekanan terhadap sistem energi berbasis fosil, elektrifikasi transportasi diperkirakan menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika pasar otomotif global dalam beberapa tahun ke depan.

Tag:  #harga #minyak #naik #industri #mobil #listrik #china #diproyeksi #melesat

KOMENTAR