Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan mengerahkan Bond Stabilization Fund (BSF) untuk memperkuat rupiah. Menahan lonjakan imbal hasil obligasi, mencegah pelarian modal asing.. [Suara.com/Dicky Prastya]
17:40
9 Mei 2026

Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada pekan ini mengatakan akan mengerahkan Dana Stabilisasi Obligasi atau Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga nilai tukar rupiah yang terus anjlok.

"Di Pemerintah saya punya bond stabilization fund sendiri yang ada beberapa pihak, tetapi kita juga bisa mencukupi dengan saya sendiri untuk sementara. Jadi cukup," katanya saat ditemui di Hachi Grill Kebon Jeruk, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan BSF adalah dana cadangan khusus yang disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) saat terjadi tekanan masif, seperti pelarian modal asing (capital outflow) yang berisiko memicu krisis.

Bendahara Negara memastikan BSF berbeda dengan Bond Stabilization Framework yang dimiliki Komite Stabilitas Sistem Keuangan, di mana ini dijlalankan apabila dalam keadaan krisis.

Lalu apa itu BSF? Dari mana sumber dananya? Bagaimana caranya bekerja?

Apa itu BSF?

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan Bond Stabilization Fund pada dasarnya bagian dari Bond Stabilization Framework yang pernah digunakan pemerintah saat terjadi tekanan besar di pasar obligasi negara.

“Pada kondisi di mana tekanannya tinggi terhadap pasar bond kita atau pasar SBN kita, maka ada mekanisme melakukan pembelian terhadap SBN yang kita miliki,” terang Juda.

BSF dibentuk untuk menjaga stabilitas Surat Berharga Negara (SBN) dan nilai tukar rupiah. Pendanaan BSF dapat berasal dari cadangan fiskal pemerintah, termasuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan dana cadangan lainnya.

Besaran dana bersifat fleksibel, ditentukan oleh tingkat tekanan pasar, tanpa batas baku atau alokasi khusus yang telah ditetapkan.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung saat konferensi pers APBN KiTa edisi Februari 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/2/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung saat konferensi pers APBN KiTa edisi Februari 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/2/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]

Dari mana sumber dana BSF?

Menurut Purbaya BSF adalah dana cadangan khusus yang disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar SBN saat terjadi tekanan masif, seperti pelarian modal asing (capital outflow) yang berisiko memicu krisis.

Ia menerangkan saat ini dana BSF berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) milik pemerintah yang juga akan dikoordinasikan dengan Bank Indonesia. Tak cuma itu, dia juga melibatkan special mission vehicle (SMV) atau lembaga di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

"Nanti kerjanya juga pasti koordinasi dengan barang sentral. Tapi dananya ada. Kalau fund betulan kan desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain (Kementerian) Keuangan dan seluruh SMV yang di bawah Keuangan. Itu bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond. Itu jadi bukan SAL saja," kata Purbaya.

Bagaimana BSF bekerja?

Pemerintah bisa menggunakan BSF untuk membeli SBN di pasar sekunder, mengendalikan suku bunga, menahan kenaikan imbal hasil (yield) agar tidak melonjak signifikan, serta menurunkan tekanan pada pasar obligasi negara.

“Tujuannya untuk menjaga agar yield tidak berdongkrak naik terlalu signifikan,” beber Juda.

Juda menambahkan, besaran dana yang digunakan bersifat fleksibel dan tergantung tekanan pasar yang terjadi. Pemerintah juga tidak menetapkan batas baku terkait jumlah pembelian obligasi.

Meski demikian, Juda menegaskan kewenangan aktivasi mekanisme tersebut berada di tangan Kementerian Keuangan, bukan melalui keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK.

Pemerintah sebelumnya pernah menggunakan skema serupa pada periode krisis keuangan global 2008 dan tekanan pasar keuangan pada 2018. Indikator utama yang menentukan kapan BSF dikerahkan adalah volatilitas.

“Yang dilihat volatility-nya,” kata Juda

Nilai tukar rupiah melemah pada Selasa (5/5/2026), ketika BPS baru saja mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen. [Antara]Pemerintah akan mengerahkan BSF untuk menjaga nilai tukar rupiah yang terus melemah. [Antara]

.

Bagaimana BSF memperkuat rupiah?

Menurut Purbaya BSF dihidupkan lantaran adanya kenaikan yield obligasi pemerintah sejak awal 2026. Saat dirinya menyuntik dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan, yield (imbal hasil) obligasi sempat ada di angka 5,9 persen.

Namun setelahnya yield terus naik, mulai dari 6,1 persen dan sekarang 6,7 persen. Akibat imbal hasil terus naik maka harga bond bisa jatuh.

"Kalau bond jatuh apa? Asing yang punya bond di sini kan ada capital loss. Ada aturan di lembaga investasi, kalau loss sekian, musti potong sekian. Jadi itu memicu pelemahan nilai tukar," papar dia.

Maka dari itu Purbaya ingin menahan pelemahan tersebut dengan menjaga harga obligasi. Dengan demikian tidak ada modal asing yang keluar dari instrumen tersebut.

Lebih lanjut ia juga bakal koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) terkait wacana buyback obligasi melalui BSF yang akan dijalankan dalam waktu dekat.

"Belum tahu, tapi kita akan koordinasi dengan bank sentral. Saya akan coba bantu rupiah dengan cara saya sendiri," tutup Purbaya.

Editor: Liberty Jemadu

Tag:  #bond #stabilization #fund #yang #dikerahkan #untuk #stabilkan #rupiah

KOMENTAR