Rupiah Dekati Rp 17.000 Per Dollar AS: Geopolitik dan Kebijakan The Fed Menekan
Nilai tukar rupiah di pasar spot nyaris sentuh level psikologis Rp 17.000 per dollar AS saat penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 76 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp 16.980 per dollar AS sore ini.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai dinamika geopolitik di Timur Tengah, serta perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS menjadi faktor utama pelemahan mata uang Indonesia.
Baca juga: Harga Sembako Berpotensi Naik Imbas Melemahnya Rupiah
Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Mata uang paling lemah di Asia 2025.
Menurutnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya pembicaraan untuk mengakhiri konflik dengan Iran berjalan positif.
Trump juga mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari.
Namun demikian, di tengah pernyataan tersebut, Amerika Serikat dilaporkan tetap mengirim ribuan pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah.
Bahkan, Trump disebut tengah mempertimbangkan opsi penggunaan pasukan darat untuk menguasai pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.
Baca juga: Pelaku Industri Khawatir Rupiah Tembus Rp 17.000, HIMKI: Alarm Keras
“Meskipun Trump mengumumkan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran, AS juga telah mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah, dengan Trump mempertimbangkan apakah akan menggunakan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg,” ujar Ibrahim.
Di sisi lain, respons Iran terhadap proposal Amerika Serikat menunjukkan ketegangan belum mereda.
Seorang pejabat Iran kepada Reuters menyebut proposal AS yang terdiri dari 15 poin, yang disampaikan melalui Pakistan, sebagai “sepihak dan tidak adil”.
Ibrahim menjelaskan, konflik ini telah memberikan dampak signifikan terhadap pasokan energi global.
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah, Turun 0,19 Persen ke Level Rp 16.936 per Dollar AS
Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.
Perang disebut telah memangkas pasokan minyak hingga 11 juta barrel per hari.
Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menilai krisis energi saat ini berpotensi lebih buruk dibandingkan dua guncangan minyak pada 1970-an serta krisis gas Rusia-Ukraina jika digabungkan.
Kondisi tersebut turut mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap inflasi dan arah suku bunga.
Jika pada awal tahun pelaku pasar memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), kini pandangan tersebut mulai bergeser.
Baca juga: Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Melemah ke Rp 16.940 per Dollar AS
Setelah konflik memanas dan keputusan kebijakan The Fed pada 18 Maret, pasar justru mulai mengurangi ekspektasi dovish. Berdasarkan data Prime Market Terminal, pelaku pasar kini memperkirakan adanya pengetatan suku bunga sebesar 12 basis poin.
“Sebaliknya, mereka memperkirakan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS, menurut Prime Market Terminal. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani Emas dengan mengurangi daya tariknya sebagai aset yang tidak menghasilkan,” paparnya.
Ekonomi RI Tumbuh Terbatas di Kuartal I-2026
Sementara itu dari dalam negeri, momentum Hari Raya Lebaran 2026 dinilai tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026, meskipun dampaknya tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.
Pemerintah sempat optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,5 persen atau lebih, didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga serta aktivitas mudik.
Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.904 per Dollar AS, IHSG Terkoreksi 1,89 Persen
Namun, realisasi pertumbuhan diperkirakan hanya berada di kisaran 5,4 persen, sedikit di bawah target.
Hal ini antara lain dipengaruhi oleh perayaan Lebaran yang dinilai tidak seramai tahun sebelumnya, sehingga dorongan terhadap konsumsi menjadi lebih terbatas.
Meski demikian, belanja pemerintah yang ekspansif, terutama pada program prioritas dan bantuan sosial, dinilai mampu menopang daya beli masyarakat dan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil.
Di sisi lain, sejumlah faktor masih menjadi penghambat.
Baca juga: Rupiah di Pasar Spot Tertekan, Sentuh Rp 16.911 Per Dollar AS
Dampak bencana di Sumatera pada akhir 2025 masih terasa hingga awal 2026, dengan aktivitas ekonomi di wilayah terdampak yang masih dalam tahap pemulihan.
Selain itu, tekanan inflasi yang relatif tinggi juga membuat konsumsi masyarakat selama periode puasa dan Lebaran tidak sekuat biasanya, sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi kurang optimal.
Tag: #rupiah #dekati #17000 #dollar #geopolitik #kebijakan #menekan