Perang di Timteng, RI Bidik Pasar Amerika Latin sampai Afrika 
Menteri Perdagangan Budi Santoso alias Busan, saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (27/3/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
18:08
27 Maret 2026

Perang di Timteng, RI Bidik Pasar Amerika Latin sampai Afrika 

- Menteri Perdagangan Budi Santoso alias Busan, menyebut pemerintah membidik pasar di Amerika Latin, ASEAN hingga Afrika Selatan sebagai negara tujuan ekspor.

Tindakan itu ditempuh sebagai strategi pemerintah dalam menghadapi gejolak geopolitik akibat peperangan Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran.

Peperangan di kawasan Teluk membuat ekspor ke beberapa negara terdampak sehingga pemerintah mendorong diversifikasi pasar.

Baca juga: Perang di Timteng, Kemendag Prediksi Ekspor RI Turun Tahun Ini

Menteri Perdagangan Budi Santoso beri apresiasi ke Djarum Foundation.Doc. Alinda/Kompas.com Menteri Perdagangan Budi Santoso beri apresiasi ke Djarum Foundation.

“Seperti pasar-pasar Afrika Selatan atau negara RCEP kemudian Asia Tenggara dan juga Amerika Latin,” kata Busan saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Busan mengatakan, Kemendag memprediksi ekspor Indonesia pada 2026 berpotensi turun dari tahun lalu jika perang di kawasan Teluk berlangsung dalam jangka panjang.

Sebagai solusinya, pemerintah mencari pasar di negara-negara yang tidak terdampak perang.

Menurutnya, diversifikasi pasar biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama.

Baca juga: Ekspor RI ke Iran Capai Rp 4,2 T, Meski Perang Hantui Timur Tengah

Namun, di tengah gejolak geopolitik biasanya peta perdagangan dunia berubah dengan cepat.

Di tengah gejolak geopolitik, beberapa negara sulit mendapatkan komoditas tertentu dari negara eksportir.

“Kalau kita punya peluang di situ artinya kita bisa memanfaatkan peluang itu dengan baik,” tutur Busan.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengatakan, diversifikasi pasar ekspor ini akan didorong melalui business matching.

Ilustrasi ekspor.SHUTTERSTOCK/APCHANEL Ilustrasi ekspor.

Baca juga: Kopi Indonesia Makin Diminati, Ekspor ke Australia Tembus Rp 114 Miliar

Biasanya, melalui business matching transaksi perdagangan lintas negara tidak membutuhkan waktu sampai satu tahun.

“Salah satu yang paling efektif sebenarnya business matching,” kata Busan.

Ia lalu mencontohkan, capaian program business matching tahun 2025 sampai Januari 2026 yang digagas Kemendag dan pihak terkait sudah menghasilkan kontrak dagang senilai 4,57 juta dollar AS.

Business matching itu diikuti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Bisa Ekspor yang dibantu Kemendag mengakses pasar internasional.

Baca juga: Mewaspadai Pergeseran Struktur Ekspor China

“Ya itu kan ini kan salah satu bagian diversifikasi pasar ekspor. Yang kedua tentu ini sebenarnya kesempatan ya,” ucap Busan.

Sebagaimana diketahui, perang di kawasan Teluk pecah setelah Israel dan AS menyerang Iran dan mengakibatkan pemimpin tertinggi Negeri Persia itu, Ayatullah Ali Khamenei gugur.

Iran kemudian membalas agresi itu dengan menggempur basis militer Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Selama perang, Iran membatasi Selat Hormuz, perairan yang menjadi lalu lintas perdagangan utama negara produsen minyak terbesar di dunia seperti, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, dan Iran sendiri.

Baca juga: Mewaspadai Pergeseran Struktur Ekspor China

Akibatnya, harga minyak dunia melonjak dan membuat biaya logistik naik.

Tag:  #perang #timteng #bidik #pasar #amerika #latin #sampai #afrika

KOMENTAR