IHSG Terkoreksi, Dana Asing Keluar Rp 3,8 Triliun Saat Harga Minyak Melonjak
Ilustrasi saham. (PIXABAY/SERGEI TOKMAKOV)
10:44
30 Maret 2026

IHSG Terkoreksi, Dana Asing Keluar Rp 3,8 Triliun Saat Harga Minyak Melonjak

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi tipis sebesar 0,14 persen pada pekan lalu yang hanya berlangsung tiga hari perdagangan, usai libur panjang Idul Fitri.

Pergerakan indeks yang relatif terbatas tersebut terjadi di tengah tekanan jual investor asing yang cukup signifikan.

Berdasarkan Bursa Efek Indonesia (BEI), arus keluar dana asing (outflow) tercatat mencapai Rp 3,8 triliun. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sentimen global masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan pasar saham domestik.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berada dalam kondisi deadlock turut memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi gangguan pasokan energi di Selat Hormuz. Situasi ini mendorong harga minyak mentah naik hingga di atas 100 dollar AS per barrel.

Baca juga: Prediksi IHSG Pekan Ini: Volatilitas Tinggi, Sektor Energi Jadi Penyelamat?

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan lonjakan harga minyak tersebut memicu efek domino terhadap komoditas energi lainnya, termasuk batu bara yang menembus level 140 dollar AS per ton.

Menurutnya, kenaikan itu didorong oleh pergeseran konsumsi global, di mana negara-negara seperti Jepang mulai beralih ke batu bara sebagai alternatif energi domestik yang lebih stabil.

Di sektor agrikultur, sentimen positif menyertai harga CPO Malaysia yang bertahan di level MYR 4.600 per ton, didukung oleh lonjakan ekspor dan meningkatnya daya tarik biofuel seiring reli harga minyak mentah.

Di sisi domestik, percepatan program B50 di Indonesia menjadi katalis kuat bagi sektor ini. Namun, pasar tetap mencermati risiko penurunan permintaan dari India serta perlambatan data ekonomi China yang dapat memengaruhi prospek komoditas ini ke depan.

Bagi pasar modal Indonesia, dinamika ini membawa implikasi kompleks berupa tekanan pada nilai tukar Rupiah dan capital outflow yang memicu aksi ambil untung oleh investor asing. Meski demikian, terdapat peluang pada emiten sektor energi (batu bara dan migas) serta CPO yang menjadi penerima manfaat utama dari kenaikan harga komoditas global.

Selain itu, emiten berbasis ekspor lainnya diuntungkan oleh pelemahan Rupiah yang meningkatkan daya saing mereka di pasar internasional.

Secara keseluruhan, pasar saat ini berada dalam fase wait and see, dengan fokus utama pada perkembangan negosiasi geopolitik dan arah harga energi global. Selama deadlock antara Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik temu, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi. Dengan demikian, pergerakan IHSG berpotensi cenderung sideways di rentang 6745-7323.

Proyeksi dan Rekomendasi Trading Saham

Memasuki pekan 30 Maret - 2 April yang akan berlangsung selama 4 hari bursa karena ada libur Jumat Agung, pelaku pasar masih akan berada dalam bayang-bayang dinamika konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi.

Deadlock negosiasi yang terjadi sebelumnya membuat setiap perkembangan, baik dalam bentuk pernyataan politik maupun pergerakan militer, berpotensi menjadi market mover utama.

Dengan harga energi yang sudah mengalami lonjakan signifikan, sensitivitas pasar terhadap headline geopolitik diperkirakan tetap tinggi, sehingga investor cenderung mempertahankan sikap wait and see sambil mencermati risiko lanjutan terhadap inflasi global dan stabilitas supply chain energi.

Di awal pekan, perhatian akan tertuju pada pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dijadwalkan pada 30 Maret. Pernyataan Powell akan menjadi krusial untuk membaca arah kebijakan moneter ke depan, terutama di tengah lonjakan harga energi.

"Pasar akan mencari sinyal apakah The Fed akan tetap pada jalur kebijakan yang hati-hati atau justru membuka ruang pengetatan lebih lanjut, yang dapat memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk emerging markets seperti Indonesia,” ujarnya Senin (30/3/2026).

Baca juga: BEI Bakal Evaluasi FCA, Sinyal Pelonggaran Aturan Saham Gorengan?

Selanjutnya, fokus akan beralih ke data ekonomi dari China melalui rilis NBS Manufacturing PMI bulan Maret pada 31 Maret. Konsensus pasar memperkirakan adanya perbaikan ke level 50 dari sebelumnya 49, yang menjadi batas antara kontraksi dan ekspansi.

Data ini menjadi penting mengingat posisi China sebagai motor utama permintaan global. Jika realisasi mampu kembali ke zona ekspansi, hal ini berpotensi menjadi katalis positif bagi harga komoditas dan pasar negara berkembang. Namun sebaliknya, jika masih berada di bawah ekspektasi, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dapat kembali meningkat.

Dari domestik Indonesia, dua data utama yang akan dirilis pada 1 April adalah S&P Global Manufacturing PMI dan inflasi bulan Maret. PMI akan memberikan gambaran mengenai aktivitas industri manufaktur di tengah tekanan global, sementara data inflasi akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan Bank Indonesia ke depan.

Baca juga: IHSG Ditutup Melemah 0,94 Persen ke 7.097, Mayoritas Saham di Zona Merah

Dengan potensi tekanan dari imported inflation akibat kenaikan harga energi, pasar akan mencermati apakah inflasi domestik masih berada dalam rentang target atau mulai menunjukkan tanda akselerasi.

Menutup pekan, perhatian global akan tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat melalui rilis Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran bulan Maret pada 3 April.

Konsensus menunjukkan pemulihan dari kontraksi sebelumnya, dengan NFP diperkirakan naik ke 48.000 dari sebelumnya minus 92.000, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan sedikit meningkat ke 4,5 persen dari 4,4 persen.

"Data ini akan menjadi indikator kunci kesehatan ekonomi AS, sekaligus penentu ekspektasi arah suku bunga The Fed ke depan. Kombinasi antara pasar tenaga kerja yang kuat dan tekanan inflasi dari energi dapat memperkuat narasi “higher for longer”, yang berpotensi menjadi sentimen negatif bagi arus dana ke pasar emerging,” paparnya.

Merespons dinamika market pekan ini, IPOT merekomendasikan trading saham pada emiten-emiten berikut ini:

1. Buy ADRO (Entry: 2.540, Target Price: 2.700, Stop Loss

Tag:  #ihsg #terkoreksi #dana #asing #keluar #triliun #saat #harga #minyak #melonjak

KOMENTAR