IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (1/4/3026). Indeks naik 136,216 poin atau 1,93 persen ke level 7.184,438.
IHSG dibuka di posisi 7.149,253 dan sempat menyentuh angka tertinggi intraday di 7.207,166. Sementara itu, level terendah di 7.136,249.
Dari sisi likuiditas, aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan volume transaksi mencapai 31,504 miliar saham dan nilai transaksi (turnover) sebesar Rp 16,472 triliun. Frekuensi transaksi juga tercatat tinggi, mencapai lebih dari 2 juta kali.
Mayoritas saham berada di zona hijau, dengan 475 saham menguat, dibandingkan 209 saham melemah, dan 135 saham stagnan. Kapitalisasi pasar BEI juga meningkat, mencapai Rp 12.675,508 triliun.
Baca juga: IHSG Dibuka di Zona Hijau, Menguat 1,31 Persen ke Level 7.140,44
Secara teknikal, IHSG menunjukkan momentum rebound yang solid dan berhasil kembali mendekati area resistance psikologis di kisaran 7.200. Jika momentum ini berlanjut, peluang untuk menguji resistance lanjutan tetap terbuka, dengan support terdekat berada di area 7.100.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan pergerakan IHSG masih dipengaruhi oleh sentimen geopolitik di Timur Tengah dan tidak semata-mata ditentukan oleh kinerja fundamental perusahaan.
“Pergerakan pasar saham tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kinerja fundamental perusahaan, tetapi lebih banyak ditentukan oleh faktor eksternal yaitu geopolitik Timur Tengah, harga minyak dunia, dan arah suku bunga global,” ujar Hendra kepada Kompas.com.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mendorong harga minyak dunia tetap tinggi di atas 100 dollar AS per barrel. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi global kembali naik, sehingga bank sentral seperti The Fed berpotensi menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama.
Ketika suku bunga global tinggi, likuiditas menjadi ketat, dollar AS menguat, dan dana asing keluar dari emerging market seperti Indonesia. Inilah yang menyebabkan IHSG mengalami tekanan dan bergerak sangat volatil sepanjang Maret 2026.
Lebih jauh, Kenaikan Dow Jones 2,49 persen juga memberikan sentimen positif jangka pendek, sehingga IHSG berpotensi rebound dan menguji level 7.200, meskipun volatilitas masih akan tetap tinggi.
Ia menilai selama harga minyak masih tinggi dan suku bunga global belum turun, maka IHSG akan bergerak volatil di kisaran 7.000 sampai 7.200. Namun jika tensi geopolitik mereda, harga minyak turun, inflasi turun, dan suku bunga mulai turun, maka likuiditas global akan kembali masuk ke emerging market dan IHSG berpotensi mengalami kenaikan yang lebih kuat.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ihsg #ditutup #menguat #persen #sentimen #geopolitik #timur #tengah #meredah