BREN dan DSSA Masuk Daftar HSC, Investor Ritel Harus Jual atau Hold?
Ilustrasi saham. (PIXABAY)
11:12
9 April 2026

BREN dan DSSA Masuk Daftar HSC, Investor Ritel Harus Jual atau Hold?

 Sebanyak dua saham besar, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dilirik pelaku pasar setelah masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Hal tersebut memunculkan kekhawatiran terkait risiko likuiditas hingga potensi dikeluarkan dari indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), tingkat kepemilikan terpusat pada saham BREN mencapai 97,31 persen, sementara DSSA berada di level 95,76 persen.

Tingginya konsentrasi ini menandakan porsi saham yang beredar di publik relatif kecil, sehingga pergerakan harga cenderung lebih volatil.

Baca juga: Prajogo Pangestu Lepas Ratusan Juta Saham CUAN, Porsi Kepemilikan Turun ke 83,41 Persen

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai pergerakan kedua saham tersebut dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek.

Menurutnya, BREN sebelumnya sempat mengalami euforia kenaikan harga yang dipicu dinamika geopolitik global, khususnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Namun, saat ini saham tersebut mulai memasuki fase profit taking dan berpotensi menguji level support.

Saham BREN pada penutupan perdagangan Rabu (8/4/2026) menguat 350 poin atau 7,53 persen ke level 5.000.

Pada awal sesi, harga sempat melonjak tajam hingga menyentuh 5.650, sebelum mengalami tekanan jual yang cukup dalam hingga turun ke area 4.650.

“Kalau untuk BREN memang kan downtrend ya, dia sempat mengalami euforia, penguatan karena dinamika Amerika Serikat dengan Iran ya, lebih ke euforia itu,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam.

Sementara itu, pergerakan DSSA dinilai masih memiliki ruang penguatan.

Salah satu katalisnya adalah kebijakan stock split dengan rasio 1:25 yang diharapkan dapat meningkatkan likuiditas serta menarik minat investor ritel.

Langkah tersebut dinilai membuat valuasi DSSA menjadi lebih menarik di mata pasar, seiring meningkatnya aksesibilitas harga saham bagi investor.

“Kalau DSSA ini kan karena faktor stock split 1 banding 25. Jadi itu juga supaya bisa meningkatkan likuiditas daripada pergerakan harga saham DSSA. Dan meningkatkan minat daripada para pelaku investor retail untuk membeli. Untuk mengakuisisi atau mengakumulasi saham DSSA,” paparnya.

Saham DSSA ditutup menguat tipis 1,13 persen atau naik 750 poin ke level 67.000 pada perdagangan Rabu.

Meski kenaikan relatif terbatas, pergerakan intraday menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi sebelum akhirnya stabil di akhir sesi.

Pada awal perdagangan, DSSA sempat bergerak kuat hingga menyentuh posisi tertinggi di sekitar 67.975.

Namun, tekanan jual mendominasi dan mendorong harga turun tajam ke level terendah di 64.950.

Lebih jauh, Nafan menegaskan kedua saham tersebut masih layak dipertahankan (hold), terutama bagi investor ritel yang mempertimbangkan fundamental jangka panjang.

Baca juga: Fundamental Kuat, Saham BBCA Diproyeksi Bangkit Usai Koreksi Dalam

Dari sisi bisnis, BREN merupakan salah satu pemain utama di sektor energi baru terbarukan, khususnya panas bumi (geothermal). Sementara DSSA berperan sebagai holding investasi energi dan teknologi dengan ekspansi yang cukup agresif.

Namun, status HSC tetap menjadi risiko yang perlu dicermati.

Tingginya konsentrasi kepemilikan dapat berdampak pada likuiditas saham, serta meningkatkan potensi volatilitas harga, termasuk risiko keluar dari indeks global jika tidak memenuhi kriteria free float.

Untuk itu, Nafan menyarankan agar investor mencermati pergerakan volume dan harga kedua saham.

Jika terjadi peningkatan volume disertai penurunan harga, hal tersebut bisa menjadi indikasi distribusi besar oleh pelaku pasar.

Secara rekomendasi, DSSA masih memiliki potensi kenaikan dengan target harga di kisaran Rp 72.800, sementara BREN berada di target Rp 4.680 dengan catatan mampu bertahan di area support.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #bren #dssa #masuk #daftar #investor #ritel #harus #jual #atau #hold

KOMENTAR