Tak Cuma RI, Harga Plastik di Malaysia Juga Naik 40 Persen
- Harga plastik di Malaysia juga dilaporkan mengalami kenaikan hingga 40 persen dari kondisi normal imbas perang di Asia Barat (Timur Tengah).
Ketua Asosiasi Produsen Plastik Malaysia cabang Johor, Mike Tan, mengatakan saat ini Malaysia tengah menghadapi kelangkaan pasokan bahan baku plastik.
Pembatasan lalu lintas kapal di perairan Selat Hormuz mengganggu rantai pasok polietilen tereftalat yang menjadi bahan baku untuk memproduksi plastik dan kemasan makanan.
"Dalam dua minggu kedepan, kita hanya bisa menunggu dan melihat; jika Iran benar-benar mengizinkan semua kapal melewati Selat Hormuz, keadaan mungkin akan sedikit membaik. Harga mungkin akan sedikit turun,” kata Mike sebagaimana dikutip dari media Malaysia, New Straits Times (NST), Sabtu (11/4/2026).
"Tetapi jika Presiden AS Donald Trump memilih untuk memperpanjang perang, pasokan akan semakin terpukul," lanjutnya.
Baca juga: Babak Belur UMKM, Terpukul Lonjakan Harga Plastik
Mike menyebut jika pasokan minyak mentah dari Asia Barat tidak terhenti, maka industri plastik Malaysia menjalankan produksi.
Sebab, minyak mentah biasanya perlu dikirim untuk diolah menjadi polietilen tereftalat (PET) terlebih dahulu.
“Jadi ketika minyak mentah tidak tersedia, produsen tidak dapat memproduksi,” ujar Mike.
Menurut pengusaha itu, tidak mudah mengalihkan kemasan dari plastik ke produk kemasan alternatif seperti kaca.
Sebab, proses daur ulang lebih sulit, membutuhkan biaya yang mahal, dan massa kemasan lebih berat.
“Memperpanjang waktu pengiriman,” kata dia.
Mike mengatakan, selama puluhan tahun plastik bisa didapatkan dengan mudah dengan harga yang murah.
Hal itu membuat orang-orang terlena dan tidak menyangka bisa terdampak eskalasi di Asia Barat.
“Namun, ketegangan di Asia Barat telah menunjukkan betapa pentingnya kemasan plastik,” tuturnya.
Dampak kelangkaan dan kemahalan plastik telah dirasakan industri olahan makanan dan minuman.
Kepala operasi perusahaan susu, Farm Fresh Azmi Zainal, mengatakan perusahaannya kekurangan botol plastik. Akibatnya, proses distribusi produk terhambat.
“Farm Fresh menggunakan banyak botol plastik, jadi kami benar-benar merasakannya,” ujar Zainal.
Untuk sementara, Farm Fresh mulai menggunakan kemasan alternatif berbahan dasar karton.
Meski telah mendapatkan pengganti botol sementara, pihaknya menyatakan tidak menutup kemungkinan akan menaikkan harga produk susu.
“Kami tidak tahu berapa lama konflik ini akan berlangsung, tetapi ketika terjadi, harga akan naik dan pasokan akan sulit didapatkan,” kata dia.
Sementara itu, Indonesia juga tengah menghadapi kelangkaan dan kemahalan harga plastik.
Sebanyak 70 persen bahan baku plastik, nafta di dunia dipasok dari negara-negara Teluk. Namun, pengiriman terhenti karena perang.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan, menyebut harga plastik naik hingga 50 persen dari hari-hari sebelum perang.
Kenaikan harga plastik menekan keuntungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga 25 persen.