Industri Mebel Tertekan, Pasar Domestik Lesu dan Ekspor Bergantung AS
Industri mebel dan kerajinan Indonesia menghadapi tekanan dari dua sisi. Pasar domestik belum pulih. Ketergantungan ekspor ke Amerika Serikat masih tinggi.
Kondisi ini membuat sektor rentan terhadap gejolak global dan perubahan daya beli. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia Abdul Sobur menyebut perlambatan ekonomi nasional menekan permintaan dalam negeri.
“Pasar dalam negeri ini sebenarnya belum pulih. Ekonomi kita belum naik. Untuk menuju negara makmur itu minimal pertumbuhan 8 persen, sementara kita masih di kisaran 4–5 persen,” ujar Sobur kepada Kompas.com, di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Baca juga: Industri Mebel Terjepit, Ekspor Bergantung AS, Pasar Domestik Diserbu Impor
Daya beli masyarakat masih terbatas. Produk mebel lokal sulit terserap optimal di pasar domestik.
Tekanan bertambah dari produk impor. Barang murah masuk masif melalui platform digital dan marketplace.
Harga lebih rendah dan akses mudah membuat produk impor lebih menarik. Kualitas sering lebih rendah dibanding produk lokal.
“Pasar jadi terbanjiri produk luar. Masyarakat memilih yang paling mudah dijangkau, walaupun kualitasnya lebih rendah dan tidak tahan lama,” jelas Sobur.
Ia mencontohkan kafe dan restoran banyak memakai furnitur impor berbahan non-solid. Harga lebih murah, namun daya tahan terbatas. Produk lokal kehilangan pangsa pasar, terutama di segmen menengah ke bawah.
Baca juga: Dampak Konflik Timur Tengah, Bahan Baku Mebel di Kota Pasuruan Melonjak Hingga 80 Persen
Ketergantungan ekspor juga tinggi. Sekitar 54 persen ekspor mebel Indonesia mengarah ke Amerika Serikat.
Risiko langsung terasa saat pasar Amerika terganggu. Kinerja ekspor ikut tertekan.
“Saat ini sudah ada ketergantungan. Kalau pasar Amerika terganggu, kita langsung terasa dampaknya,” kata Sobur.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur
Fluktuasi permintaan di Amerika membuat target pertumbuhan tidak stabil. HIMKI menargetkan ekspor mencapai 6 miliar dollar AS pada 2030. Posisi saat ini sekitar 3 miliar dollar AS.
Diversifikasi pasar menjadi kebutuhan. HIMKI mendorong ekspansi ke Eropa, Timur Tengah, India, dan negara BRICS.
Kerja sama Indonesia dengan Uni Eropa melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) membuka peluang penurunan tarif ekspor.
“Diversifikasi harus dijalankan. Kita tidak bisa hanya bergantung pada satu pasar,” tegas Sobur.
Ekspansi menghadapi tantangan. Geopolitik, daya beli, dan preferensi konsumen berbeda di tiap negara.
Masalah lain muncul dari sisi internal industri. Branding dan pemasaran masih lemah.
Pelaku industri masih berperan sebagai produsen. Posisi sebagai pemilik merek global belum kuat.
“Kita ini masih tukang produksi, belum kuat di branding. Padahal nilai tambah terbesar ada di brand,” ujarnya.
Produk yang sama bisa bernilai lebih tinggi jika memiliki merek kuat. Tanpa brand, nilai jual lebih rendah.
HIMKI mendorong perbaikan regulasi dan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri. Perlindungan pasar domestik juga dinilai penting.
“Pasar dalam negeri harus jadi fondasi. Ini ibarat sarapan pagi, sementara ekspor itu makan siangnya,” kata dia.
Belanja pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dinilai perlu mengutamakan produk lokal.
Sobur menilai industri mebel masih memiliki prospek kuat. Indonesia memiliki bahan baku, tenaga kerja, dan pasar.
“Kita punya semua: bahan baku, tenaga kerja, dan pasar. Tinggal bagaimana daya saingnya diperbaiki,” tegas dia.
Tag: #industri #mebel #tertekan #pasar #domestik #lesu #ekspor #bergantung