Rupiah Tembus Rp 17.100, BI Sampai Begadang Jaga Stabilitas Rupiah
- Bank Indonesia (BI) mengintensifkan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan memantau pasar selama 24 jam. Langkah ini diambil merespons dinamika konflik Timur Tengah yang sulit diprediksi.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, pemantauan dilakukan melalui Kantor Perwakilan BI di London, Inggris, dan New York, Amerika Serikat (AS). Pemantauan mengikuti jam perdagangan global, mulai dari Asia, Eropa, hingga AS.
"Jadi BI sekarang buka 24 jam. Jadi di Singapura buka 1 jam di Hongkong kita udah buka juga. Kemudian nanti kita tutup, jam 3 tutup, Eropanya masih jalan. Kemudian teman-teman istirahat sebentar, nanti jam 9 di Amerika, kita kan sekitar jam 8 atau 9 malam, Amerika ini buka. Jadi kita tetap melek," ujarnya dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Baca juga: Rupiah Melemah 0,12 Persen ke Rp 17.124 Per Dollar AS, Terseret Lonjakan Inflasi Global
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi tekanan nilai tukar yang dipicu sentimen global. Risiko geopolitik meningkat. Arus modal keluar dari pasar domestik juga terjadi.
Data BI mencatat, sejak konflik di Timur Tengah pada akhir Februari 2026, rupiah melemah 1,91 persen. Secara year to date, pelemahan mencapai 2,39 persen.
Perdagangan siang hari menunjukkan rupiah berada di level Rp 17.130 per dollar AS. Nilai ini melemah 26 poin atau 0,15 persen dibanding penutupan sebelumnya.
Destry menjelaskan, tekanan tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara berkembang seperti Korea Selatan, Thailand, dan Filipina mengalami kondisi serupa.
Peningkatan premi risiko global mendorong investor menarik dana dari emerging markets.
"Jadi pergerakan nilai tukar, ini kita enggak sendirian. Beberapa negara mengalami yang sama karena juga beberapa mengalami outflow yang cukup signifikan termasuk peningkatan adanya risiko premium yang cukup besar," ucapnya.
Baca juga: Rupiah Diprediksi Tertahan di Atas Rp 17.000 per Dollar AS, Imbas AS-Iran Batal Damai
BI mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter untuk menjaga stabilitas. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
"Kita juga akan memperluas basis pelaku nanti untuk NDF di luar. Karena kadang kayak hari ini, rupiah masih aman tiba-tiba NDF kita terbang langsung lari di atas Rp 17.100. Itu NDF, belum ada transaksi riil. Jadi kalau kita gak bisa intervensi di sana, pagi-pagi sudah langsung lihat spot kita udah langsung terbang ke sana," ungkapnya.
BI juga menjaga kecukupan likuiditas di pasar. Target pertumbuhan uang primer atau base money (M0) dijaga di atas 10 persen sebagai bagian dari kebijakan moneter akomodatif.
Koordinasi dengan pemerintah terus diperkuat. Pengelolaan surat berharga negara (SBN) dilakukan melalui pembelian dan penjualan di pasar sekunder sesuai kebutuhan.
Destry menyebut konsistensi kebijakan mulai terlihat hasilnya. Aliran dana asing kembali masuk ke instrumen domestik seperti SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Tentunya itu dibutuhkan kan konsistensi dari kebijakan yang kita lakukan. Dan alhamdulillah kita punya koordinasi yang sangat baik sekali, fiskal, moneter, dan juga dengan sektor riil," tuturnya.
Tag: #rupiah #tembus #17100 #sampai #begadang #jaga #stabilitas #rupiah