Kapal Perang Trump Akan Pakai Tenaga Nuklir, Menteri AL Dicopot Usai Ragukan Proyek
Angkatan Laut Amerika Serikat pada Senin (11/5/2026) resmi memutuskan bahwa kapal perang baru bernama Trump-class battleship akan menggunakan tenaga nuklir.
Keputusan penggunaan reaktor nuklir dimasukkan dalam dokumen rencana pembangunan kapal 30 tahun yang dikirim Angkatan Laut AS ke Kongres.
Sebelumnya, kapal perang itu dirancang menggunakan turbin gas atau mesin diesel seperti yang lazim dipakai kapal perusak, penjelajah, dan fregat.
Baca juga: Dikritik Trump, Inggris Kerahkan Kapal Perang HMS Dragon ke Timur Tengah
Kapal perang raksasa Trump
Kapal perang baru yang diumumkan Donald Trump di Mar-a-Lago, Florida, pada Desember lalu itu diperkirakan memiliki bobot 30.000-40.000 ton, atau hingga empat kali lebih besar dibanding kapal perusak modern.
Angkatan Laut AS mengatakan, penggunaan tenaga nuklir akan memungkinkan kapal melaju lebih cepat dan menempuh jarak lebih jauh.
“Kapal perang bertenaga nuklir ini dirancang untuk memberikan peningkatan signifikan terhadap daya tempur armada melalui daya tahan lebih lama, kecepatan lebih tinggi, serta kemampuan mengakomodasi sistem persenjataan canggih yang dibutuhkan dalam perang modern,” tulis Angkatan Laut AS dalam dokumen pembangunan kapal tersebut.
Pejabat Angkatan Laut AS juga mengatakan, kapal itu akan dipersenjatai teknologi generasi baru seperti laser dan railgun elektromagnetik, yakni senjata yang menggunakan energi listrik untuk meluncurkan proyektil tanpa bubuk mesiu.
Trump juga menyebut kapal tersebut akan membawa rudal jelajah nuklir.
Biaya dan risiko operasional
Menurut dokumen anggaran Angkatan Laut AS yang dikirim ke Kongres bulan lalu, tiga kapal pertama diperkirakan menelan biaya 43,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 761 triliun).
Pakar angkatan laut dari Hudson Institute, Bryan Clark, mengatakan, penggunaan reaktor nuklir kemungkinan akan membuat biaya proyek semakin besar.
“Tidak ada penghematan biaya yang benar-benar bisa diperoleh dengan menggunakan tenaga nuklir—kalaupun ada, justru akan sedikit lebih mahal,” kata Clark.
“Dampak yang lebih besar justru pada sisi operasional.”
Meski demikian, Clark mengatakan, tenaga nuklir memberi keuntungan karena kapal tidak perlu rutin mengisi bahan bakar seperti kapal perang konvensional yang membutuhkan pengisian ulang setiap empat hingga tujuh hari.
Ia juga menyebut kapal bertenaga nuklir lebih cocok untuk mengoperasikan railgun elektromagnetik dan senjata laser yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar.
“Kapal bertenaga konvensional mungkin harus mengurangi kecepatannya untuk menggunakan jenis senjata seperti ini,” ujarnya.
Namun, Clark menambahkan kapal nuklir memiliki biaya perawatan lebih tinggi. Angkatan Laut AS saat ini hanya memiliki empat galangan kapal untuk melayani armada nuklirnya, sementara dua galangan yang menangani kapal induk disebut sudah kewalahan.
Baca juga: AS Akan Minta Korsel-Jepang Buatkan Kapal Perang, Trump Tak Puas Produk Lokal
Menteri AL dicopot
Mantan Menteri Angkatan Laut AS, John Phelan (kiri), berfoto setelah rapat dengan Kepala Angkatan Laut Singapura, RADM Sean Wat (kanan).
Menurut seorang pejabat Angkatan Laut AS, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal, keputusan menjadikan armada Trump-class sebagai kapal bertenaga nuklir baru diambil dalam beberapa pekan terakhir.
Pada konferensi pers 21 April lalu, Menteri Angkatan Laut AS saat itu, John Phelan, mengatakan, opsi penggunaan tenaga nuklir masih dipelajari dan belum menjadi keputusan final.
“Itu sesuatu yang sedang kami pelajari,” kata Phelan sehari sebelum ia dicopot Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
“Saya pikir kami sedang mencoba memahami seluruh untung-rugi dari proyek tersebut, lalu memikirkannya dalam konteks kelompok tempur kapal perang dan kelompok tempur kapal induk,” ujarnya.
The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa Phelan dipecat sebagian karena dianggap tidak bergerak cukup cepat dalam menjalankan prioritas pembangunan kapal Trump.
Trump sendiri mengatakan, kapal pertama bisa selesai dibangun dalam waktu dua setengah tahun.
Namun hingga kini Angkatan Laut AS masih belum menetapkan desain final maupun memilih kontraktor pembangun kapal tersebut.
Program dipertanyakan
Rencana pembangunan kapal perang raksasa itu juga memunculkan keraguan di kalangan pakar pertahanan dan anggota Kongres AS.
Anggota DPR AS Jared Golden mengatakan, proyek tersebut bergerak terlalu cepat dan berisiko tinggi.
“Mungkin yang paling mengkhawatirkan bagi saya adalah rencana kapal perang ini bergerak dengan kecepatan yang menurut saya sangat berbahaya, atau sekadar berisiko tinggi dengan hasil rendah,” kata Golden dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata DPR AS pada 29 April lalu.
Hudson Institute sebelumnya juga diminta Angkatan Laut AS melakukan simulasi perang untuk menentukan jenis kapal yang dibutuhkan armada AS di masa depan.
Clark mengatakan, studi itu justru menyimpulkan kapal perang 40.000 ton tidak diperlukan dalam armada AS. Studi tersebut menilai kapal berbobot 15.000-20.000 ton yang lebih besar dari kapal perusak masih memiliki nilai strategis.
“Saya pikir kapal perang ini semacam tambahan dari luar yang mencerminkan apa yang ingin dilakukan Menteri Phelan dan presiden, bukan berdasarkan hasil analisis,” kata Clark.
Baca juga: 3 Kapal Perang AS Diserang Iran di Selat Hormuz, Rudal dan Drone Diluncurkan
Tag: #kapal #perang #trump #akan #pakai #tenaga #nuklir #menteri #dicopot #usai #ragukan #proyek