Industri Plastik China Mulai Kena Dampak Penutupan Selat Hormuz
- Perekonomian China mulai kena dampak penutupan Selat Hormuz yang berawal dari serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran sejak 28 Februari lalu.
Akibatnya, pameran dagang terbesar di negaranya, Canton Fair, sepi peminat.
Xiatao Plastic Industry yang merupakan eksportir peralatan listrik serta memproduksi beberapa pernak pernik dapur berbahan plastik dengan penjualan terbesarnya ke luar negeri mengalami kelesuan.
Baca juga: Penjualan EV Global 2026: Eropa Melejit, China dan AS Melambat
Padahal perusahaan sudah memberikan promo menarik tapi calon pembeli masih menimbang meski margin keuntungan turun 5-6 persen sejak perang meletus.
"Kami terpaksa memberikan penawaran harga baru dan klien masih mempertimbangkannya. Bagi perusahaan perdagangan luar negeri seperti kami, situasinya sulit. Kami hanya berharap perang akan segera berakhir," jelas manajer umum Xiatao Plastic, Shao, dikutip dari Reuters, Jumat (17/4/2026).
Baca juga: China Desak Iran Buka Selat Hormuz Pulihkan Kebebasan Navigasi
Sebelum perang meletus, sektor ekspor China berjaya meski menghadapi kenaikan tarif Presiden AS Donald Trump.
Namun, guncangan energi dan harga komoditas yang lebih tinggi meningkatkan biaya produksi di negara manufaktur terbesar di dunia itu, mengancam margin keuntungan yang sudah tipis di pabrik-pabrik yang secara kolektif mempekerjakan ratusan juta orang.
Baca juga: Ekonomi China Tumbuh 5 Persen di Kuartal I 2026, Lampaui Ekspektasi
Celakanya, permintaan global terus menurun.
Diketahui jika pertumbuhan ekonomi China ditopang dari pasar ekspor dari Asia, Asia Tenggara, hingga Eropa.
Menurunnya volume perekonomian China mempengaruhi perdagangan di kawasan tersebut.
"Jika pertempuran terus berlanjut, bukan hanya kita yang akan terkena dampaknya - ekonomi Eropa juga dalam kondisi buruk. Ekonomi Asia Tenggara memang sudah lemah sejak awal. Sekarang dolar AS juga telah jatuh," jelas manajer umum rice cookers and kettle-maker Weking, Liang Su.
Baca juga: Amerika atau China: Siapa Unggul pada Ekonomi Masa Depan?
China minta Iran buka Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi, mendesak Iran agar segera membuka Selat Hormuz.
Kebebasan navigasi di sana mesti dipulihkan agar lalu lintas kapal kembali normal.
"Kebebasan dan keamanan navigasi melalui selat internasional ini harus dipastikan. Memulihkan lalu lintas normal melalui selat ini adalah seruan bersama dari komunitas internasional," jelas Wang kepada Menlu Iran Abbas Araghchi melalui sambungan telepon seperti dikutip dari Middle East Monitor, Rabu (15/4/2026).
Baca juga: Belajar Disiplin dari BUMN China
Namun, Wang sekaligus menyerukan agar hak-hak Iran di celah perairan sempit itu tetap diakui.
Termasuk jaminan agar Amerika Serikat (AS) dan Israel tak lagi melancarkan agresinya kembali di masa mendatang.
"Kedaulatan, keamanan, serta hak dan kepentingan sah Iran sebagai negara pesisir Selat Hormuz harus dihormati dan dijunjung tinggi," jelasnya.
Alur kapal kargo global termasuk kapal tanker yang mengangkut minyak di Selat Hormuz terganggu sejak 28 Februari 2026 setelah AS-Israel melancarkan serangan ke Iran.
Baca juga: Minyak Mahal, Ekspor Mobil Listrik dan Hybrid China Naik 140 Persen
Tag: #industri #plastik #china #mulai #kena #dampak #penutupan #selat #hormuz