Lima Negara Asean Bertemu Bahas Tren Keselamatan Penerbangan Regional dan Global
Ilustrasi penerbangan terlama di dunia, salah satunya menggunakan Qantas Airlines dari New York (JFK) ke Auckland (AKL).(PIXABAY/ Holgi)
19:40
21 April 2026

Lima Negara Asean Bertemu Bahas Tren Keselamatan Penerbangan Regional dan Global

- Lima negara ASEAN, Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia sebagai tuan rumah bersama International Air Transport Association (IATA) dan European Union Aviation Safety Agency (EASA)melakukan pertemuan 5th In-Person Meeting on Regional Data Sharing Initiative, di Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, Bali.

Pertemuain ini merupakan tindak lanjut komitmen bersama melalui Memorandum of Understanding (MoU) Regional Aviation Safety Data and Information Sharing Initiative yang disepakati pada tahun 2024, sekaligus memperkuat harmonisasi proses dan standardisasi data keselamatan antarnegara.

“Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan negara-negara di kawasan dalam mengimplementasikan pertukaran data keselamatan guna memperkuat pengawasan berbasis data (data-driven safety oversight) di kawasan Asia Pasifik,” kata Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub Sokhib Al Rokhman, dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2026).

Dalam kesempatan itu, Sokhib juga menegaskan pentingnya kolaborasi regional dalam meningkatkan keselamatan penerbangan. Dia menjelaskan, seiring perkembangan industri penerbangan, data menjadi instrumen penting dalam mendukung pengawasan yang efektif.

“Melalui inisiatif ini, kita mengambil langkah konkret menuju pendekatan keselamatan yang lebih terkoordinasi dan berbasis data,” ujar Sokhib.

Baca juga: 445 Jemaah Haji Indramayu Mulai Masuk Asrama, Penerbangan Perdana via Bandara Kertajati

Sokhib menambahkan bahwa kolaborasi antarnegara dalam pengumpulan dan pertukaran data keselamatan, termasuk pengembangan dashboard yang menampilkan tren keselamatan regional dan global.

“Kolaborasi ini menunjukkan apa yang dapat kita capai ketika bekerja bersama,” jelas dia.

“Upaya kolektif dalam pengelolaan dan analisis data telah menghasilkan wawasan bermakna untuk mendukung peningkatan keselamatan penerbangan,” lanjutnya.

Pertemuan juga membahas berbagai isu strategis keselamatan penerbangan yang termuat dalam laporan wajib (Mandatory Occurrence Report/MOR), termasuk analisis kejadian Ground Proximity Warning System (GPWS), pertukaran metodologi pemantauan Safety Performance Indicators (SPI), serta pengembangan dashboard analisis data keselamatan.

“Kami juga menyambut baik semakin luasnya partisipasi dalam inisiatif ini, yang memperkaya perspektif serta memperkuat kapasitas kolektif dalam meningkatkan keselamatan penerbangan,” ujar Sokhib.

Melalui penyelenggaraan pertemuan ini, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kolaborasi regional dan membangun sistem keselamatan penerbangan yang lebih kuat, terintegrasi, dan proaktif.

“Pertemuan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga kesempatan untuk saling belajar dan merumuskan langkah konkret ke depan dalam meningkatkan keselamatan penerbangan,” tutupnya.

Sokib berharap kegiatan ini semakin memperkuat sinergi antarnegara dan pemangku kepentingan, serta mendukung terciptanya sistem keselamatan penerbangan yang berkelanjutan di tingkat regional maupun global.

Tren keselamatan penerbangan global dalam periode 2025–2026 menunjukkan dinamika yang cukup kompleks. Di satu sisi, komunitas penerbangan internasional terus mendorong peningkatan standar keselamatan melalui visi ambisius dari International Civil Aviation Organization yang menargetkan nol korban jiwa dalam operasi penerbangan komersial pada 2030 dan seterusnya.

Visi ini dituangkan dalam Global Aviation Safety Plan (GASP), yang menjadi acuan bagi negara-negara dalam memperkuat sistem keselamatan penerbangan.

Namun di sisi lain, data terbaru menunjukkan adanya tantangan yang masih perlu diatasi. Berdasarkan catatan Aviation Safety Network, jumlah korban jiwa akibat kecelakaan pesawat pada 2025 mencapai 548 orang, meningkat signifikan lebih dari 30 persen dibandingkan 404 korban pada 2024.

Meski demikian, laporan dari International Air Transport Association mencatat jumlah kecelakaan justru menurun menjadi 51 kejadian dari total 38,7 juta penerbangan, dibandingkan 54 kecelakaan pada tahun sebelumnya.

Untuk menjaga konsistensi standar keselamatan, ICAO terus menjalankan program audit global melalui Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP).

Program ini bertujuan memastikan setiap negara mematuhi standar internasional yang tercantum dalam berbagai Annex ICAO, sekaligus mendorong peningkatan kualitas pengawasan keselamatan penerbangan di tingkat nasional.

Di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, perkembangan keselamatan penerbangan menunjukkan tren yang relatif positif. Indonesia mencatat tingkat Effective Implementation (EI) navigasi penerbangan sebesar 80,91 persen per November 2024, melampaui rata-rata regional yang berada di kisaran 63,44 persen.

Penguatan sistem keselamatan juga dilakukan melalui penyelarasan kebijakan nasional dengan standar global. Pemerintah Indonesia mengimplementasikan National Aviation Safety Plan (NASP) yang sejalan dengan GASP ICAO, dengan fokus pada pendekatan pengawasan berbasis risiko.

Selain itu, modernisasi sektor navigasi terus dilakukan, termasuk melalui kerja sama AirNav Indonesia dengan ICAO dalam penerapan Fatigue Risk Management System (FRMS) untuk meningkatkan keselamatan operasional penerbangan.

Tag:  #lima #negara #asean #bertemu #bahas #tren #keselamatan #penerbangan #regional #global

KOMENTAR