Hutan “Bisa Bicara”, Inovasi Digital Angkat Wisata Bukit Peramun
Pemandu Bukit Peramun membeberkan cara menggunakan virtual assistant berbasis android melalui aplikasi khusus. Pengunjung dapat memindai titik-titik putih di batang pohon, lalu informasi mengenai pohon akan ditampilkan dalam bentuk visual dan audio.(KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU)
09:28
27 April 2026

Hutan “Bisa Bicara”, Inovasi Digital Angkat Wisata Bukit Peramun

- Destinasi wisata Belitung tidak hanya soal pantai. Pengunjung bisa mencoba pengalaman berbeda di Desa Wisata Bukit Peramun.

Lokasi ini berada di Desa Air Selumar, Kepulauan Bangka Belitung. Pengunjung bisa menyusuri hutan alami, makan di puncak bukit, hingga melihat Tarsius.

Pengalaman di Bukit Peramun tidak sekadar trekking. Setiap pohon menyimpan informasi yang bisa diakses secara interaktif.

Baca juga: Dari “Cuma Dapat Asap”, Desa Terong Bangun Wisata Sendiri

Informasi tidak disampaikan lewat papan panjang atau penjelasan lisan. Pengelola menghadirkan teknologi agar hutan “berbicara” langsung kepada pengunjung.

Masyarakat mulai mengelola kawasan ini secara mandiri sejak 2006. Transformasi digital dilakukan pada 2023 untuk menarik minat wisatawan.

Perubahan ini berangkat dari kendala di lapangan. Pemandu sering kesulitan menjelaskan informasi secara berulang kepada pengunjung.

"Mereka tahu ini batang apa, ini pohon apa, tanaman apa. Tapi pada saat dia mendampingi para tamu, agak kesulitan secara verba. Dan juga kalau sudah mengantar tamu 1, 2, 3 kali, dia akan menjelaskan agak susah lagi," ujar IT Support Bukit Peramun Wahyu Ramadhan saat ditemui, Sabtu (25/4/2026).Pemandu Bukit Peramun membeberkan cara menggunakan virtual assistant berbasis android melalui aplikasi khusus. Pengunjung dapat memindai titik-titik putih di batang pohon, lalu informasi mengenai pohon akan ditampilkan dalam bentuk visual dan audio.KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU Pemandu Bukit Peramun membeberkan cara menggunakan virtual assistant berbasis android melalui aplikasi khusus. Pengunjung dapat memindai titik-titik putih di batang pohon, lalu informasi mengenai pohon akan ditampilkan dalam bentuk visual dan audio.

Dari situ lahir inovasi hutan digital. Bukit Peramun kemudian mendapat pengakuan sebagai Hutan Digital Pertama Berbasis Masyarakat oleh Museum Rekor Dunia Indonesia pada 2023.

Pengelola sempat menggunakan sistem barcode. Pengunjung memindai kode untuk membaca informasi pohon.

Metode ini dinilai kurang efektif. Banyak pengunjung enggan membaca teks panjang.

Baca juga: Pulau Penyengat Dipoles Jadi Destinasi Wisata Budaya Melayu

Pengelola lalu mengembangkan aplikasi berbasis Android bernama Kepo atau kenali pohon. Sistem ini lebih interaktif.

Pengunjung cukup memindai penanda pada pohon. Informasi muncul dalam bentuk visual dan audio dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

"Jadi kita mengenalkan secara interaktif, ini batang ini lho dengan ada gambar robot, ada pembacaan audionya, ada pembacaan latinnya. Sehingga informasi yang ingin kita sampaikan itu masuk dibandingkan dengan kita pakai yang barcode," jelasnya.Saat trekking di Bukit Peramun, pengunjung dapat melihat dua batu granit raksasa yang dinamakan batu kembar. Batu granit banyak ditemui di sepanjang jalur trekking di Bukit Peramun dan menjadi salah satu daya tarik destinasi wisata ini.KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU Saat trekking di Bukit Peramun, pengunjung dapat melihat dua batu granit raksasa yang dinamakan batu kembar. Batu granit banyak ditemui di sepanjang jalur trekking di Bukit Peramun dan menjadi salah satu daya tarik destinasi wisata ini.

Primata kecil bernama Tarsius yang dapat ditemui di Bukit Peramun Belitung. Namun Tarsius hanya dapat dilihat di malam hari.KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU Primata kecil bernama Tarsius yang dapat ditemui di Bukit Peramun Belitung. Namun Tarsius hanya dapat dilihat di malam hari.Penggunaan teknologi tetap memperhatikan konservasi. Penanda pohon tidak menggunakan paku atau kawat.

Pengelola hanya menggunakan cat sederhana. Penanda bisa diperbarui tanpa merusak pohon.

Pendekatan ini sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan. Bukit Peramun pernah meraih penghargaan Green Gold kategori Pelestarian Lingkungan dalam Indonesian Sustainable Tourism Awards 2019.

Pengembangan tidak berhenti pada teknologi. Pengelola juga mengubah strategi wisata.

Ketua Air Selumar Community Fahri Rizaldi menyebut arah pengembangan kini berbasis komunitas. Strategi ini menggantikan model kunjungan massal.

Perubahan dipicu penurunan pengunjung sejak pandemi Covid-19. Jumlah wisatawan turun, tetapi pendapatan justru naik.

Fahri menyebut kenaikan pendapatan mencapai 60 hingga 70 persen. Hal ini terjadi karena paket wisata lebih bernilai.

Pengelola menawarkan berbagai paket. Harga mulai Rp 50.000 untuk trekking hingga Rp 625.000 untuk pengalaman lengkap.

"Waktu pariwisata massal dulu 2018-2019 ketika Bukit Peramun naik, itu sekitar 200.000 dalam satu tahun. Nah kalau sekarang kita cuma perlu 1.000 orang, 2.000 orang, itu sudah cukup," ungkapnya.Setelah lelah trekking, pengunjung dapat menikmati makanan lezat dengan pemandangan puncak Bukit Peramun. Ini menjadi salah satu paket wisata yang ditawarkan dengan harga yang cukup terjangkau, yakni Rp 150.000 per orang.KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU Setelah lelah trekking, pengunjung dapat menikmati makanan lezat dengan pemandangan puncak Bukit Peramun. Ini menjadi salah satu paket wisata yang ditawarkan dengan harga yang cukup terjangkau, yakni Rp 150.000 per orang.

Profil wisatawan juga berubah. Mayoritas pengunjung kini berasal dari mancanegara.

Sekitar 60 hingga 70 persen wisatawan datang dari luar negeri. Mereka berasal dari Eropa dan Asia.

"Mancanegara itu kita ada yang dari Eropa sama Asia. Kalau Eropa itu kita tahun kemarin itu Italia yang megang (jumlah terbanyak). Dilanjutin sama Perancis, yang terakhir itu sama Belanda. Nah kalau untuk Asia, kita tahun kemarin itu China, Jepang, dan Korea," ungkapnya.

Pengembangan Bukit Peramun juga mendapat dukungan sektor swasta. Sejak 2018, PT Bank Central Asia Tbk terlibat dalam penguatan infrastruktur digital.

Dukungan mencakup server dan domain aplikasi. Meski begitu, pengelolaan tetap bertumpu pada masyarakat.

Kekuatan utama Bukit Peramun terletak pada keseimbangan inovasi dan alam. Teknologi digunakan untuk memperjelas informasi tanpa merusak lingkungan.

Tag:  #hutan #bisa #bicara #inovasi #digital #angkat #wisata #bukit #peramun

KOMENTAR