Laporan Kinerja ISAT Kuartal I 2026, Buy atau Sell?
Seiring dengan pergeseran fokus dari sekadar penyedia konektivitas menjadi pemain kunci dalam ekosistem kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur digital, emiten PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) menjadi salah satu emiten yang mencuri perhatian.
Berdasarkan laporan kinerja kuartal pertama tahun 2026 (1Q26), perusahaan berhasil mencatatkan pertumbuhan yang selaras dengan ekspektasi pasar, didukung oleh pilar bisnis baru yang inovatif dan pengelolaan aset yang strategis.
Langkah ISAT dalam merambah bisnis Graphics Processing Unit as a Service (GPUaaS) melalui AI Neocloud mulai memberikan dampak nyata terhadap struktur pendapatan perusahaan.
Transformasi ini tidak hanya memperkuat posisi ISAT di mata investor tetapi juga memberikan dimensi baru dalam persaingan operator seluler di tanah air yang kini semakin fokus pada monetisasi data dan layanan bernilai tambah.
Analisis Kinerja Keuangan: Pendapatan Inti dan EBITDA
Pada periode tiga bulan pertama tahun 2026, Indosat Ooredoo Hutchison melaporkan pendapatan inti sebesar Rp1,5 triliun.
Angka ini menunjukkan pertumbuhan tahunan (year-on-year/yoy) yang sangat kuat sebesar 26,2%, meskipun secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq) mengalami koreksi sebesar 27,8%. Penurunan kuartalan tersebut dinilai wajar oleh para analis karena faktor musiman dan normalisasi pasca-puncak belanja di akhir tahun sebelumnya.
Total pendapatan perusahaan mencapai Rp15,2 triliun pada 1Q26, atau meningkat 12,1% dibandingkan periode yang sama di tahun 2025.
Pertumbuhan ini utamanya didorong oleh performa segmen seluler yang tetap tangguh dan kontribusi dari segmen MIDI (Multimedia, Komunikasi Data, dan Internet) yang terus berekspansi.
Dari sisi profitabilitas operasional, EBITDA tercatat mencapai Rp7,2 triliun, tumbuh 12,9% secara tahunan dengan adanya sedikit ekspansi margin yang menggembirakan bagi pemegang saham.
Salah satu sorotan utama dalam laporan keuangan ISAT kali ini adalah kontribusi dari unit bisnis AI Neocloud. Layanan GPUaaS ini berhasil menyumbangkan pendapatan sebesar US$16 juta pada kuartal pertama saja.
Pencapaian ini menempatkan perusahaan pada jalur yang tepat untuk mencapai target tahunan (*Full Year* 2026) yang dipatok pada kisaran US$65 juta hingga US$70 juta.
Permintaan akan infrastruktur AI yang terus menguat secara global, diiringi dengan kenaikan harga unit GPU, memberikan keuntungan strategis bagi ISAT yang telah lebih awal mengamankan kapasitas infrastruktur.
Metrik Operasional: ARPU dan Trafik Data
Indosat juga mencatatkan kenaikan pada rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU). ARPU ISAT kini berada di angka Rp45.200, melonjak 15,3% jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Kenaikan ini dipicu oleh pertumbuhan trafik data yang berkelanjutan serta strategi manajemen dalam melakukan kurasi paket layanan yang lebih menguntungkan.
Namun, para pelaku pasar perlu mencermati bahwa pertumbuhan ARPU di masa depan kemungkinan akan bergerak lebih moderat.
Hal ini disebabkan oleh tingkat ARPU kompetitor utama seperti Telkomsel yang sudah cukup tinggi serta adanya potensi normalisasi pola konsumsi masyarakat pasca-momen Lebaran.
Kendati demikian, manajemen optimis bahwa integrasi layanan AI ke dalam paket konsumen dan perluasan cakupan 5G akan mampu menjaga loyalitas pelanggan sekaligus menarik segmen pengguna bernilai tinggi.
Langkah besar lainnya yang tengah dinanti oleh pasar adalah proses monetisasi Fiberco (perusahaan serat optik) yang dijadwalkan akan selesai pada kuartal ketiga tahun 2026 (3Q26).
Proses ini diprediksi akan menghasilkan dana segar hingga kurang lebih US$700 juta bagi kas perusahaan. Dana hasil monetisasi aset ini sangat krusial bagi ISAT untuk mendanai investasi spektrum di masa mendatang, yang menjadi aset vital dalam persaingan teknologi 5G.
Efisiensi aset melalui skema monetisasi ini dipandang sebagai langkah cerdas untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan tanpa harus menambah beban utang yang signifikan.
Dengan likuiditas yang kuat, ISAT memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk melakukan belanja modal (CapEx) pada infrastruktur digital masa depan yang memiliki margin keuntungan lebih tebal dibandingkan layanan suara atau SMS konvensional.
Rekomendasi Saham: BNI Sekuritas Pertahankan Rating BUY
Melihat eksekusi operasional yang solid dan prospek pertumbuhan yang jelas dari lini bisnis AI, BNI Sekuritas mempertahankan rating BUY (Beli) untuk saham ISAT.
Target harga (TP) yang dipatok berada pada level Rp2.900 per lembar saham. Optimisme ini didasarkan pada beberapa faktor kunci:
- Eksekusi kinerja kuartal pertama yang konsisten dan sesuai dengan ekspektasi analis.
- Prospek suntikan dana segar dari monetisasi Fiberco yang diproyeksikan cair pada semester kedua tahun ini.
- Posisi ISAT sebagai pemimpin dalam adopsi teknologi AI (GPUaaS) di sektor telekomunikasi Indonesia yang memberikan keunggulan kompetitif.
- Katalis pertumbuhan jangka panjang dari penetrasi 5G dan layanan berbasis data lainnya.
Secara keseluruhan, Indosat Ooredoo Hutchison berhasil membuktikan bahwa sinergi pasca-merger telah membuahkan hasil nyata dalam bentuk efisiensi operasional dan inovasi produk.