9 Komoditas Selain Minyak yang Terguncang Krisis Selat Hormuz dan Dampaknya
— Ancaman gangguan di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar global. Namun dampaknya tidak berhenti pada minyak mentah.
Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) menyoroti sedikitnya sembilan komoditas strategis selain minyak yang berisiko terguncang jika jalur itu terganggu, mulai dari LNG, pupuk, logam industri, hingga bahan baku penting untuk transisi energi.
Tekanannya bahkan dinilai lebih luas dari gangguan jangka pendek.
Baca juga: Blokade Memanas, Lalu Lintas di Selat Hormuz Nyaris Lumpuh
Personel Angkatan Laut Amerika Serikat saat berjaga di kapal USS Monterey (CG 61) yang sedang transit di Selat Hormuz pada 3 Juni 2021.
International Energy Agency (IEA) mencatat krisis di kawasan telah memangkas sekitar 20 persen pasokan gas alam cair atau LNG global dan mengganggu keseimbangan pasar gas internasional.
Gangguan ini, menurut IEA, juga berpotensi menunda gelombang tambahan pasokan LNG global yang sebelumnya diharapkan meredakan pasar.
CNN melaporkan, gejolak ini juga telah menyeret pasar keuangan global, menekan kontrak saham berjangka dan memperbesar kekhawatiran inflasi baru akibat kenaikan biaya energi serta logistik.
Berikut beberapa komoditas penting selain minyak yang terdampak krisis di Selat Hormuz menurut laporan WEF.
Baca juga: Krisis Selat Hormuz Berlarut, Permintaan Minyak Global Terancam Turun
1. LNG
Selain minyak mentah, LNG menjadi komoditas pertama yang paling terpapar.
Qatar sebagai salah satu eksportir LNG terbesar dunia menyalurkan sebagian besar ekspornya melalui Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan Asia dan Eropa.
Ilustrasi kapal tanker LNG.
WEF menilai gangguan pasokan LNG berpotensi menunda penyeimbangan pasar gas global yang sebelumnya diperkirakan mulai mereda.
Gangguan di Selat Hormuz bahkan dinilai lebih berat bagi LNG dibanding minyak. Minyak masih memiliki sebagian jalur alternatif melalui pipa, sedangkan ekspor LNG Qatar sangat bergantung pada Selat Hormuz.
Baca juga: Eksportir Minyak Berebut Jalur Alternatif Selain Selat Hormuz, Tapi Opsi Terbatas
Selain itu, pasar LNG dinilai lebih kaku dibanding minyak karena keterbatasan kapal, terminal regasifikasi, dan dominasi kontrak jangka panjang, sehingga pengalihan pasokan tidak mudah dilakukan.
IEA mencatat produksi LNG global pada Maret 2026 berbalik dari pertumbuhan dua digit menjadi turun 8 persen secara tahunan, dengan penurunan ekspor dari Qatar dan Uni Emirat Arab hanya sebagian tertutup kenaikan produksi dari wilayah lain.
Di Asia, pembeli disebut mulai merespons dengan pembelian di pasar spot hingga langkah penghematan energi.
IEA menilai dampak konflik bukan hanya mengganggu pasokan saat ini, tetapi juga menunda gelombang pasokan LNG baru yang sebelumnya diperkirakan menambah suplai global pada paruh kedua dekade ini.
Baca juga: Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus 100 Dollar AS
Kerusakan infrastruktur LNG di kawasan disebut berpotensi menunda tambahan kapasitas hingga dua tahun, membuat pasar gas global berpotensi tetap ketat sampai 2027.
IEA bahkan memperkirakan kombinasi gangguan jangka pendek dan tertundanya proyek baru dapat menyebabkan kehilangan kumulatif sekitar 120 miliar meter kubik pasokan LNG global pada periode 2026–2030.
2. Bahan baku pupuk (urea dan ammonia)
Komoditas kedua yang terdampak ialah urea. WEF menempatkan pupuk sebagai salah satu titik rawan karena ketergantungan besar pada perdagangan dari kawasan Teluk.
Ilustrasi pupuk urea dari ammonium
Gangguan pasokan urea berpotensi menaikkan biaya input pertanian global dan menambah tekanan pada harga pangan.
Baca juga: Negosiasi Kapal Pertamina di Selat Hormuz Alot, Ini Kendala yang Dihadapi RI
Selain urea, ammonia juga termasuk komoditas yang disorot.
Ammonia merupakan bahan penting untuk pupuk dan industri kimia. Gangguan distribusinya dinilai dapat menimbulkan efek berantai pada produksi pangan dan manufaktur.
WEF melaporkan, Teluk Arab merupakan pusat utama bahan baku pertanian global, menyumbang setidaknya 20 persen dari seluruh ekspor pupuk melalui jalur laut.
Ketergantungan ini bahkan lebih akut untuk urea, pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan di dunia, dengan 46 persen perdagangan global berasal dari wilayah tersebut.
Baca juga: ESDM-Pertamina Bantah Ada Kapal Angkut LPG Keluar dari Selat Hormuz ke RI
Pasokan ini sangat penting bagi perekonomian pertanian utama, termasuk India (18 persen), Brasil (10 persen), dan China (8 persen).
Para analis memperingatkan, gangguan yang berkepanjangan akan secara signifikan memperketat ketersediaan di wilayah-wilayah yang bergantung pada impor ini, berpotensi meningkatkan biaya produksi pangan global, serta tekanan inflasi.
3. Sulfur
Sulfur menjadi komoditas strategis berikutnya. Negara-negara Teluk merupakan pemasok besar sulfur global, bahan baku utama pupuk fosfat.
Gangguan pada komoditas ini dapat memicu kenaikan biaya produksi pupuk dan memperbesar tekanan pangan dunia.
Baca juga: Purbaya Buka Wacana Pajak Kapal di Selat Malaka, Terinspirasi Skema Selat Hormuz
Sulfur, bahan energi yang sangat penting, adalah produk sampingan utama dari proses penyulingan minyak dan gas di wilayah tersebut, yang saat ini sedang terhenti.
Hampir setengah dari seluruh perdagangan sulfur melalui laut global melewati Selat Hormuz, menjadikan wilayah ini sebagai penentu harga' global untuk komoditas tersebut.
Selat Hormuz. Daftar Jalur Distribusi Minyak Paling Penting di Dunia, Nomor 1 Bukan Selat Hormuz
Sulfur merupakan bahan baku untuk asam sulfat, bahan kimia yang dibutuhkan untuk dua alur kerja global.
Pertama, kimia baterai, yang digunakan dalam proses pelindian asam bertekanan tinggi (HPAL) yang diperlukan untuk memurnikan nikel, kobalt, dan tembaga untuk baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi terbarukan.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Lumpuhkan Selat Hormuz, Jalur Alternatif Belum Siap
Kedua, fosfor industri, yang bertindak sebagai reagen utama dalam produksi pupuk fosfat beranalisis tinggi, yang sangat penting untuk menjaga kesuburan tanah.
"Kurangnya ketersediaan memaksa perlambatan industri di pusat-pusat seperti Indonesia dan sabuk tembaga di Afrika. Seiring dengan melonjaknya harga, gangguan mengancam transportasi berkelanjutan dan pertanian komersial skala besar," tulis WEF dalam laporannya.
4. Methanol
Komoditas berikutnya adalah methanol.
Methanol digunakan dalam produksi plastik, resin, tekstil, hingga bahan bakar alternatif. Kawasan Teluk merupakan salah satu pusat pasokan utamanya.
Baca juga: BPOM Antisipasi Kenaikan Harga Obat Akibat Konflik di Selat Hormuz
Gangguan ekspor methanol berpotensi menimbulkan tekanan pada industri hilir manufaktur global.
5. Glikol (MEG)
Monoetilena glikol (MEG), yang merupakan bahan baku utama untuk serat poliester, kemasan, dan tekstil, adalah salah satu ekspor kimia terpenting di Teluk, dengan sekitar 6,5 juta ton dikirim pada tahun 2025 saja.
China, konsumen terbesar MEG, dapat menghadapi kekurangan akut sementara importir utama lainnya termasuk India, india, Pakistan, Vietnam, dan Thailand juga kemungkinan akan merasakan dampaknya.
Sebagai respons atas kondisi di Selat Hormuz, pembeli Asia beralih ke pemasok alternatif di Amerika Serikat. Pergeseran ini mendorong harga lebih tinggi di pasar.
Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.
Baca juga: Lebih dari 20 Kapal Tembus Selat Hormuz, Satu Kapal Tanker LPG Menuju RI
6. Aluminium
WEF juga menempatkan aluminium dalam daftar komoditas rentan.
Uni Emirat Arab dan Bahrain merupakan pemasok penting aluminium primer dunia. Secara umum, Timur Tengah merupakan pemasok utama aluminium primer global di luar China, memproduksi sekitar 9 persen dari total aluminium primer global.
Pasokan dari pabrik peleburan di Teluk telah terbatas, dan lebih dari 150.000 ton logam yang terdaftar di London Metal Exchange telah ditarik dari gudang, mencerminkan gangguan yang lebih luas terhadap ekspor regional.
Aluminium banyak digunakan dalam konstruksi, transportasi, dan energi terbarukan, dan hanya sedikit pabrik peleburan yang terintegrasi penuh dengan bahan baku sendiri, sehingga pasar menjadi sensitif terhadap tekanan pasokan dari Teluk.
Baca juga: Selat Hormuz Ditutup Lagi, Kapal Pertamina Masih Tertahan
Jika distribusi terganggu, harga logam ini berpotensi melonjak dan menekan industri otomotif, konstruksi, serta teknologi rendah karbon yang sangat bergantung pada aluminium.
7. Grafit
Komoditas ketujuh adalah graphite. WEF menyoroti bahan mentah kritis ini karena perannya penting dalam baterai kendaraan listrik dan transisi energi.
Gangguan rantai pasok grafit memperlihatkan kerentanan agenda energi bersih terhadap gejolak geopolitik.
Ilustrasi Selat Hormuz.
Dampak pada harga grafit sintetis bisa lebih parah daripada bahan baterai lainnya, karena kilang minyak mungkin memilih untuk fokus pada produksi bernilai lebih tinggi sementara harga naik, memperketat ketersediaan produk sampingan kokas minyak bumi yang menjadi dasar produksi grafit sintetis.
Baca juga: Iran Segera Tutup Selat Hormuz Bila AS Melanggar Gencatan Senjata
"Dengan biaya pengiriman yang juga meningkat, harga grafit alami menghadapi tekanan kenaikan tambahan, menambah tekanan lebih lanjut pada biaya baterai kendaraan listrik yang sudah tertekan oleh gangguan pada nikel, kobalt, dan sulfur," kata WEF.
8. Helium
Komoditas kedelapan yang kerap luput dari perhatian adalah helium.
Qatar termasuk produsen helium terbesar dunia, menyumbang sepertiga dari pasokan global, sementara komoditas ini vital untuk industri semikonduktor, MRI, dan teknologi ruang angkasa.
Seiring dengan semakin ketatnya pasokan, dampaknya sudah mulai terasa di seluruh rantai pasokan teknologi global. Helium memainkan peran penting dalam manufaktur semikonduktor, mendukung proses mulai dari pendinginan suhu sangat rendah hingga fabrikasi yang sangat presisi.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok 1,9 Persen, Ketegangan Selat Hormuz Picu Gejolak Pasar
Namun, kekhawatiran yang lebih besar terletak pada sektor kesehatan.
Pemindai MRI bergantung pada helium cair untuk menjaga magnet superkonduktornya pada suhu yang sangat rendah. Tanpa pasokan helium yang stabil, mesin MRI tidak dapat beroperasi.
9. Iron ore pellets
Komoditas kesembilan adalah iron ore pellets atau pelet bijih besi, bahan baku penting bagi industri baja.
Sebagai informasi, iron ore pellet adalah gumpalan berbentuk bola kecil dengan diameter 8 sampai 18 mm hasil aglomerasi konsentrat bijih besi halus yang telah dikeras melalui proses pemanasan suhu tinggi (indurasi).
Ilustrasi Selat Hormuz. Jalur Pipa Arab Saudi Hindari Selat Hormuz, Bisakah Menjadi Solusi Perdagangan Minyak Dunia?
Baca juga: Harga Minyak Melonjak Lebih dari 7 Persen Imbas Selat Hormuz Ditutup Lagi
Pelet ini digunakan sebagai bahan baku utama dalam industri baja, khususnya untuk tanur tinggi (blast furnace) dan pabrik reduksi langsung (direct reduction), guna meningkatkan efisiensi peleburan.
WEF memasukkan komoditas ini karena gangguan distribusi dari kawasan Teluk berpotensi meningkatkan tekanan pada industri baja global.
Biaya logistik dan asuransi kapal perbesar efek domino
Selain sembilan komoditas tersebut, WEF juga menyoroti dampak sistemik berupa kenaikan biaya freight dan premi asuransi maritim.
Gangguan di Selat Hormuz meningkatkan biaya logistik dan ongkos distribusi, yang pada akhirnya dapat memperbesar harga berbagai komoditas.
Baca juga: Lebih dari 20 Kapal Lintasi Selat Hormuz Saat Ketegangan Meningkat
Pasar justru semakin cemas pada efek domino dari lonjakan ongkos perdagangan ini.
Dampaknya untuk industri dan masyarakat
Tekanan di berbagai komoditas itu juga relevan bagi negara importir energi dan bahan baku seperti Indonesia. Gejolak LNG berpotensi memengaruhi harga energi regional di Asia.
Sementara kenaikan harga sulfur, ammonia, dan urea berpotensi menjadi perhatian karena terkait rantai pasok pupuk dan biaya produksi pertanian.
Di sektor industri, tekanan pada aluminium dan petrokimia juga berpotensi memengaruhi biaya input manufaktur berbasis impor.
Baca juga: Buka-Tutup Selat Hormuz, Kapan Harga Plastik Bisa Turun?
Risiko chokepoint global
Tangkapan layar dari video pemantauan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz pada Senin (2/3/2026).
Krisis ini juga menghidupkan kembali perhatian terhadap maritime chokepoints, alias jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan dunia.
Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint terpenting dunia karena dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Gangguan di Selat Hormuz juga memunculkan perhatian terhadap Selat Malaka, jalur penting lain bagi perdagangan Asia dan pasokan energi menuju China, Jepang, Korea Selatan, dan Asia Tenggara.
Bukan lagi sekadar krisis minyak
Dalam laporan WEF disebut konflik ini meningkatkan volatilitas berbagai komoditas dan menunda penyeimbangan pasar energi global.
Baca juga: Rupiah Diproyeksi Sentuh Rp 17.300-an Saat Iran Buka-Tutup Selat Hormuz
Dari LNG, pupuk, aluminium, grafit, helium, hingga bijih besi, tekanan menyentuh manufaktur, pangan, teknologi, dan transisi energi.
Dengan masuknya peringatan IEA soal pasokan LNG yang bisa tetap ketat hingga 2027, krisis Selat Hormuz kini dipandang bukan sekadar shock jangka pendek, melainkan ancaman terhadap keseimbangan komoditas global yang lebih luas.
Tag: #komoditas #selain #minyak #yang #terguncang #krisis #selat #hormuz #dampaknya