Ambulans Khusus Bayi Lahir Kritis Bisa Turunkan Angka Kematian
Tidak semua bayi terlahir sehat, sebagian bayi lahir dalam kondisi kritis, baik karena lahir terlalu dini (prematur), memiliki kelainan bawaan, atau kelainan jantung.
Bayi dengan kondisi lahir kritis ini membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai, seperti ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) maupun tenaga medis terlatih. Hal ini penting agar angka kematian bayi di Indonesia dapat terus ditekan.
Meski begitu, tidak semua rumah sakit memiliki ruang NICU yang cukup sehingga bayi harus dirujuk ke rumah sakit besar yang memiliki ruangan perawatan dan tim dokter berkompeten.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Neonatologi IDAI Dr. dr. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A Subsp. Neo (K) mengatakan, keselamatan bayi baru lahir kritis tidak hanya ditentukan oleh kualitas perawatan di ruang NICU, tetapi juga oleh kesiapan tenaga kesehatan sejak menit pertama.
Baca juga: Apa Perbedaan NICU dan PICU? Berikut Penjelasannya...
"Biasanya bayi-bayi dengan kegawatan itu tidak selalu lahir di rumah sakit rujukan, tapi bisa juga di fasilitas primer, entah di puskesmas atau rumah bersalin. Jadi sebelum dipindahkan ke rumah sakit vertikal, perlu ditangani dulu, distabilkan dulu bayinya," kata dr.Adhi di Jakarta (10/5/2026).
Ia menambahkan, jika bayi berada dalam kondisi stabil saat sampai di rumah sakit rujukan, maka penanganan dan perawatannya pun akan lebih baik. Harapan hidup bayi pun bisa lebih besar.
RSIA Bunda Jakarta mengembangkan layanan Emergency Response (ER) Neonatal, sebuah sistem transportasi intensif untuk bayi baru lahir kritis yang menghadirkan standar penanganan setara NICU selama proses transfer pasien.
"ER ini adalah ambulans yang didedikasikan untuk menolong pasien-pasien kritis, termasuk bayi baru lahir, jadi ada yang khusus untuk bayi," kata dr.Adhi yang juga menjabat sebagai Kepala divisi NICU RSIA Bunda Jakarta ini.
Baca juga: Indonesia Kekurangan Tenaga Kesehatan Terlatih di Fasilitas NICU
Ambulans khusus ini bukan hanya menjemput bayi lahir kritis, tapi juga melakukan stabilisasi.
“Dalam kasus neonatal kritis, proses transportasi bukan sekadar memindahkan pasien. Bayi tetap membutuhkan stabilisasi, monitoring ketat, serta penanganan intensif selama perjalanan. Karena itu, kami membangun sistem transport yang memungkinkan kualitas perawatan tetap terjaga sejak penjemputan hingga tiba di NICU,” ujarnya.
Kehamilan dan persalinan yang terencana
Saat ini belum semua rumah sakit, mampu menangani bayi prematur dan bayi dengan kondisi kritis. Oleh karena itu ibu hamil yang sudah mengetahui kondisi kesehatan bayinya disarankan memilih rumah sakit rujukan dengan fasilitas lengkap.
"Jadi kalau bisa dirujuk, sejak masih di dalam kandungan. Apalagi kalau sudah tahu bayinya bermasalah berdasarkan pemeriksaan dalam dokter kandungan. Maka jangan dilahirkan di fasilitas kesehatan yang fasilitasnya terbatas," kata dr.Adhi.
Kemenkes mengimbau, seorang ibu hamil harus menjalani kontrol pemeriksaan kandungan minimal enam kali sebelum melahirkan.
Ada sejumlah faktor penyebab bayi prematur atau pun kritis, mulai dari faktor si calon ibu, seperti mengidap berbagai penyakit, seperti hipertensi, diabetes, infeksi, riwayat persalinan prematur sebelumnya, serviks, malanutrisi, jarak antarkehamilan terlalu dekat, dan kehamilan pada usia di atas 35 tahun atau di bawah usia 19 tahun.
Baca juga: Cegah Pneumonia pada Bayi Prematur, Pentingnya Perlindungan dari Virus RSV
Tag: #ambulans #khusus #bayi #lahir #kritis #bisa #turunkan #angka #kematian