Ada MBG, HKTI Sebut Tak Ada Lagi Petani Buang Sayur
Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sekaligus Wakil Menteri Pertanian Sudaryono saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (27/4/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni’am)
15:04
27 April 2026

Ada MBG, HKTI Sebut Tak Ada Lagi Petani Buang Sayur

- Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sudaryono alias Mas Dar, mengeklaim saat ini tidak ada lagi petani-petani yang membuang sayurnya karena sudah terserap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Mas Dar mengatakan, sebagian besar produk pertanian kini sudah diserap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Pernyataan itu Mas Dar sampaikan dalam Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) HKTI ke-53.

“Tidak ada lagi petani kita yang buang sayur-mayur yang tidak laku di pasar, tidak ada lagi petani kita yang kemudian susah menjual produk pertaniannya, karena sebagian besar diserap oleh Badan Gizi dan SPPG dan MBG kita,” kata Mas Dar di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (27/4/2026).

Baca juga: Program MBG Dongkrak Kebutuhan Susu, Produksi Lokal Baru Penuhi 20 Persen

Menurut Mas Dar, Presiden Prabowo Subianto yang pernah menjadi Ketua Umum HKTI pada 2004 hingga 2009 tidak akan meninggalkan para petani.

Program MBG menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menyerap produk pertanian.

Meski demikian, Mas Dar juga mengakui terkadang terdapat kekurangan dalam program pemerintah.

Oleh karena itu, Mas Dar meminta anggota HKTI di berbagai daerah untuk menjadi mata dan telinga pemerintah, memantau bagaimana program itu berjalan di lapangan.

“Kalau ada dapur-dapur MBG yang brengsek, ya kita laporkan, kita tutup. Kalau ada misalnya bantuan benih, bibit tidak sesuai, laporkan,” ujar Mas Dar.

“Jadi HKTI menjadi intelnya pemerintah di level bawah,” tambahnya.

Menurut Mas Dar, kekurangan pada suatu program tidak harus menjadi alasan kebijakan itu dibatalkan.

Jika suatu rumah terdapat tiga ekor tikus misalnya, maka tidak perlu sampai menghancurkan bangunan tersebut untuk membasmi tikus.

“Kalau ada yang keliru, irigasi tidak tepat, bantuan alsintan (alat dan mesin pertanian) dari Kementerian Pertanian kok ditebus, orang disuruh bayar, laporkan, kita pidanakan,” tutur Mas Dar.

Ilustrasi: Petani membuang tomat di jalanan protes harga jual yang anjlok di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu.KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Ilustrasi: Petani membuang tomat di jalanan protes harga jual yang anjlok di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu.

Wakil Menteri Pertanian itu menegaskan, Prabowo memikirkan dan mementingkan nasib petani.

Prabowo menerbitkan 20 produk hukum untuk mendorong produktivitas dan melindungi petani.

Ia juga tetap konsisten berpegang pada sikap anti impor beras dan berbagai komoditas lain.

Sikap itu telah dipegangnya sejak 2004 saat memimpin HKTI.

“Jadi ini percayalah bahwa kita atau pemerintah dalam hal ini, Kementerian Pertanian sesuai dengan instruksi dari Pak Presiden, tidak ada petani yang kita tinggal,” tegas Mas Dar.

Baca juga: Pemerintah Evaluasi MBG, 1.789 Dapur Kena Sanksi Operasional

Tag:  #hkti #sebut #lagi #petani #buang #sayur

KOMENTAR