Ekonomi RI 5,61 Persen, Apindo: Belum Sepenuhnya Terasa di Dunia Usaha
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY )
10:08
6 Mei 2026

Ekonomi RI 5,61 Persen, Apindo: Belum Sepenuhnya Terasa di Dunia Usaha

- Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I-2026 menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat, namun dampaknya belum sepenuhnya dirasakan oleh pelaku usaha di tingkat riil.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani mengatakan, pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi untuk kuartal pertama sejak 2013 dan menjadi capaian kuartalan tertinggi dalam 14 kuartal terakhir.

“Ini menunjukkan secara headline growth ekonomi Indonesia masih cukup resilien, terutama ditopang oleh permintaan domestik,” ujarnya dalam keterangan pada Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong oleh konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81 persen secara tahunan, terutama akibat realisasi belanja pegawai seperti pembayaran THR.

Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen: Purbaya Singgung Kutukan, Airlangga Sebut Lampaui Ekspektasi

Sementara itu, konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 54 persen terhadap PDB tumbuh 5,52 persen berkat faktor musiman seperti Tahun Baru, Imlek, Ramadhan, dan Idulfitri.

Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga tumbuh 5,96 persen, dengan realisasi investasi meningkat 7,2 persen secara tahunan.

Namun demikian, Shinta menyoroti bahwa transmisi pertumbuhan tersebut ke aktivitas bisnis belum merata.

Secara kuartalan, ekonomi justru mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen sementara sektor manufaktur terkontraksi lebih dalam sebesar 1,01 persen.

Di saat yang sama, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tekanan tambahan bagi dunia usaha.

“Dunia usaha menghadapi situasi asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan tetap terjadi tetapi manfaatnya belum terdistribusi merata, sementara tekanan biaya meningkat,” kata dia.

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dari kisaran Rp 16.800 per dollar AS di awal tahun hingga sekitar Rp 17.400 saat ini telah meningkatkan biaya produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor.

Kondisi ini menyebabkan margin usaha tertekan dan membatasi ekspansi.

Dari sisi sektoral, Apindo mencatat sektor berbasis konsumsi domestik menjadi pihak yang paling diuntungkan dari pertumbuhan ini.

Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14 persen, transportasi dan pergudangan 8,04 persen, jasa kesehatan 7,62 persen serta perdagangan besar dan eceran 6,26 persen, didorong oleh meningkatnya mobilitas dan konsumsi masyarakat.

Sebaliknya, sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung industri nasional menunjukkan kinerja yang lebih lemah.

Secara tahunan, sektor ini hanya tumbuh 5,04 persen atau di bawah rata-rata nasional, bahkan terkontraksi secara kuartalan.

Sejumlah subsektor mengalami tekanan signifikan, termasuk industri karet dan plastik yang terkontraksi 9,01 persen, alat angkutan 5,02 persen, pengolahan tembakau 4,05 persen, serta industri kayu.

Khusus industri plastik, tekanan biaya disebut sangat berat akibat lonjakan harga bahan baku.

Harga naphtha naik lebih dari 90 persen sejak awal tahun, yang mendorong kenaikan harga bahan baku plastik hingga sekitar 80 persen, bahkan menyebabkan harga produk tertentu melonjak hingga dua kali lipat.

Meski demikian, terdapat juga subsektor manufaktur yang tumbuh tinggi, seperti industri mesin dan perlengkapan serta industri barang logam dan elektronik, yang mencerminkan pemulihan yang tidak merata di dalam sektor tersebut.

Lebih lanjut, Apindo menilai kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan pelemahan rupiah mencerminkan kondisi ekonomi yang ditopang fundamental domestik, namun menghadapi tekanan eksternal yang signifikan.

Faktor global seperti ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi, dan dinamika pasar keuangan internasional menjadi sumber tekanan terhadap stabilitas nilai tukar.

“Ini bisa dikategorikan sebagai externally driven pressure on an otherwise resilient economy,” ujar Shinta.

Menurut dia, ke depan pemerintah perlu menjaga momentum pertumbuhan dengan memperkuat stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta meningkatkan daya saing industri nasional, khususnya sektor manufaktur dan industri padat karya.

Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, Airlangga: Di Atas China hingga Singapura...

Tag:  #ekonomi #persen #apindo #belum #sepenuhnya #terasa #dunia #usaha

KOMENTAR