Harga Minyak Turun Usai AS Pertimbangkan Kawal Kapal di Selat Hormuz
Ilustrasi kapal tanker. Harga minyak dunia kembali melemah setelah muncul sinyal deeskalasi konflik AS-Iran. Pasar berharap pasokan dari Timur Tengah segera pulih.()
08:24
8 Mei 2026

Harga Minyak Turun Usai AS Pertimbangkan Kawal Kapal di Selat Hormuz

- Harga minyak dunia melemah pada akhir perdagangan Kamis (7/5/2026) waktu setempat atau Jumat (8/5/2026) pagi WIB, di tengah perdagangan yang bergejolak akibat perkembangan terbaru konflik Iran dan Amerika Serikat (AS).

Pelemahan terjadi setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi dan Kuwait telah mencabut pembatasan penggunaan wilayah udara serta pangkalan militer mereka oleh AS.

Langkah tersebut membuka peluang Washington kembali menjalankan operasi pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz mulai pekan ini.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 1,21 dollar AS atau 1,2 persen menjadi 100,06 dollar AS per barrel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 27 sen atau 0,28 persen menjadi 94,81 dollar AS per barrel.

Pada sesi perdagangan kemarin, kedua acuan minyak dunia itu bahkan sempat merosot hingga 5 dollar AS per barrel karena optimisme bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menuju kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Lagi, Sinyal Damai AS-Iran Tekan Harga

Wall Street Journal melaporkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan kembali operasi "Project Freedom", yakni misi pengawalan kapal komersial melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Sumber dan pejabat terkait menyebut AS dan Iran kini semakin dekat menuju kesepakatan terbatas dan sementara untuk menghentikan perang. Namun rancangan kesepakatan disebut masih menyisakan sejumlah isu paling sensitif dan belum mengarah pada perjanjian damai komprehensif.

Analis SEB Research Ole Hvalbye mengatakan, kesepakatan yang benar-benar tercapai kemungkinan besar akan menekan harga minyak lebih jauh.

"Kesepakatan yang terkonfirmasi kemungkinan akan membawa harga Brent kembali ke kisaran 80 dollar AS hingga 90 dollar AS per barrel dengan cepat," ujarnya.

Namun ia mengingatkan kegagalan negosiasi atau perubahan sikap Trump kembali ke opsi serangan militer dapat langsung mendorong harga minyak melonjak tajam.

"Jika pembicaraan gagal atau Trump kembali memilih serangan, harga bisa langsung melesat di atas 120 dollar AS per barrel," kata Hvalbye.

Ia menambahkan, meski memorandum kesepahaman dapat menurunkan premi risiko di pasar kontrak berjangka, dampaknya terhadap pasokan fisik minyak tidak akan langsung terasa. Sebab, pasar membutuhkan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk kembali normal setelah kesepakatan tercapai.

Baca juga: Konflik Iran-AS Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus 114 Dollar AS

Di sisi pasokan, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Iran telah memangkas produksi minyak sekitar 400.000 barrel per hari dan kemungkinan akan mengurangi produksi lebih lanjut karena kapasitas penyimpanan mulai penuh.

Sementara itu, media China Caixin melaporkan, sebuah kapal tanker produk minyak milik perusahaan China diserang di dekat Selat Hormuz pada Senin lalu. Insiden itu merupakan pertama kalinya kapal minyak China menjadi sasaran serangan.

Adapun dampak perang Iran juga menjadi pembahasan utama dalam pertemuan negara-negara Asia Tenggara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang berlangsung di Cebu, Filipina pada 7-8 Mei 2026.

Negara-negara ASEAN kembali menyerukan persatuan menghadapi ancaman serius terhadap ekonomi yang bergantung pada impor energi.

Dalam draf pernyataan yang diperoleh Reuters, para pemimpin ASEAN dijadwalkan menyerukan negosiasi dengan itikad baik antara AS dan Iran serta penghentian permusuhan.

Tag:  #harga #minyak #turun #usai #pertimbangkan #kawal #kapal #selat #hormuz

KOMENTAR