Bond Stabilization Fund (BSF) Dinilai Bisa Jadi Penyangga Kepercayaan Pasar
Pemerintah buyback Surat Utang Negara (SUN) ()
14:20
8 Mei 2026

Bond Stabilization Fund (BSF) Dinilai Bisa Jadi Penyangga Kepercayaan Pasar

- Bond Stabilization Fund (BSF) dinilai dapat menjadi penyangga stabilitas pasar obligasi, terutama untuk mencegah lonjakan yield akibat kepanikan jangka pendek.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, BSF efektif digunakan ketika tekanan pasar berasal dari aksi jual teknis, kekeringan likuiditas, atau kepanikan portofolio jangka pendek.

“BSF dapat hadir sebagai pembeli penyangga ketika harga SBN turun, sehingga yield tidak melonjak liar,” ujar Syafruddin kepada Kompas.com, Jumat (8/5/2026).

 Baca juga: Bond Stabilization Fund Dinilai Bisa Redam Gejolak SBN, tapi Bukan Obat Masalah Struktural

Ia menjelaskan, kondisi pasar per 7 Mei 2026 masih memberi ruang bagi pendekatan stabilisasi tersebut.

Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat stabil di level 6,701 persen. Sementara yield tenor tiga tahun turun tipis ke 6,542 persen dan tenor lima tahun naik tipis ke 6,781 persen.

Pada saat yang sama, credit default swap (CDS) Indonesia juga mengalami penurunan di berbagai tenor.

CDS tenor lima tahun turun 2,978 basis poin, sedangkan CDS tenor 10 tahun turun 2,344 basis poin.

Menurut Syafruddin, kondisi tersebut menunjukkan pasar belum memandang risiko kredit Indonesia memburuk secara signifikan.

Karena itu, keberadaan BSF dinilai berpotensi meningkatkan rasa aman investor selama pemerintah mampu menjelaskan fungsi instrumen tersebut secara jelas.

“Investor akan lebih percaya jika BSF memiliki mandat jelas: menjaga likuiditas SBN, mencegah dislokasi harga, dan menahan arus keluar modal yang dipicu capital loss,” katanya.

Baca juga: Bond Stabilization Fund Dinilai Bisa Redam Gejolak SBN, tapi Bukan Obat Masalah Struktural

Meski demikian, ia menilai BSF belum cukup untuk sendirian menjaga stabilitas pasar obligasi.

Investor masih akan mencermati arah rupiah, inflasi, kondisi fiskal, hingga perkembangan suku bunga global.

Rupiah saat ini masih berada di kisaran Rp 17.370 per dollar AS. Pasar derivatif juga masih mencerminkan premi depresiasi rupiah ke depan.

"Forward USD/IDR tercatat berada di level 17.386 untuk tenor satu bulan dan 17.435 untuk tenor tiga bulan," katanya.

Syafruddin menilai, pergerakan yield SBN hingga akhir 2026 akan sangat dipengaruhi kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas fiskal dan kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar.

Dalam skenario konstruktif, yield SBN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak di kisaran 6,6 persen hingga 6,9 persen.

Proyeksi itu bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas BSF, mengelola lelang SBN secara hati-hati, dan mempertahankan inflasi tetap rendah.

“Yield akan ditentukan oleh kepercayaan pasar bahwa pemerintah dapat menjaga APBN tetap kredibel dan BI dapat menjaga rupiah tanpa menekan pertumbuhan secara berlebihan,” ujarnya.

Syafruddin juga menilai level yield saat ini mulai membuka peluang investasi di pasar obligasi.

Inflasi tahunan yang masih terkendali di kisaran 2,42 persen dan inflasi inti 2,44 persen dinilai membuat investor masih memperoleh real yield positif dari kepemilikan SBN.

Menurut dia, yield tinggi memang menekan harga obligasi yang sudah beredar. Namun, kondisi itu sekaligus meningkatkan daya tarik bagi investor baru karena menawarkan kupon lebih tinggi dan peluang capital gain jika yield turun pada masa mendatang.

Ia menyarankan investor masuk secara bertahap dan menyesuaikan tenor obligasi dengan profil risiko masing-masing.

Investor konservatif dinilai lebih cocok memilih tenor pendek hingga menengah untuk menekan risiko durasi. Sementara investor yang siap menghadapi volatilitas dinilai mulai dapat mengakumulasi obligasi tenor lima hingga 10 tahun.

“Yield tinggi memang dapat menjadi peluang, tetapi peluang itu hanya layak diambil dengan disiplin risiko, horizon investasi jelas, dan keyakinan bahwa stabilitas makro tetap terjaga,” kata Syafruddin.

Tag:  #bond #stabilization #fund #dinilai #bisa #jadi #penyangga #kepercayaan #pasar

KOMENTAR