Hari Ibu Sedunia 10 Mei: Sejarah, Makna, dan Bedanya dengan Indonesia
Ilustrasi ibu dan anak usia dini.(Dok. Tanoto Foundation)
16:25
10 Mei 2026

Hari Ibu Sedunia 10 Mei: Sejarah, Makna, dan Bedanya dengan Indonesia

- Hari ini, Minggu (10/5/2026), masyarakat di berbagai belahan dunia merayakan Hari Ibu Sedunia. Peringatan ini merupakan sebuah momen istimewa yang rutin dirayakan untuk menghormati dan mengapresiasi sosok ibu dalam kehidupan kita.

Walaupun dirayakan secara serentak, setiap negara pada dasarnya memiliki latar belakang sejarah, penentuan tanggal pelaksanaan, serta pemaknaan perayaan yang sangat berbeda-beda.

Di kawasan Amerika Serikat dan banyak negara lainnya, perayaan jatuh pada hari Minggu kedua di bulan Mei.

Banyaknya negara yang merayakan secara bersamaan inilah yang menjadikannya sebagai Hari Ibu (Mother's Day) Sedunia. Sementara di Indonesia, peringatan ini sangat lekat dengan perayaan di bulan Desember.

Baca juga: 50 Ucapan Happy Mother’s Day 2026 dan Artinya, Cocok untuk Ibu Tercinta

Sejarah dan makna Hari Ibu

Awal Mula di Amerika Serikat

Bentuk modern dari perayaan ini berawal di Amerika Serikat (AS), dipelopori oleh aktivis sosial Anna Jarvis.

Ia ingin memberikan penghormatan kepada mendiang ibunya, Ann Jarvis, yang dulunya aktif mengorganisasi kelompok perempuan demi mempromosikan persahabatan, serta memulihkan kesehatan masyarakat pasca-Perang Saudara.

Sebelum wafat, sang ibu sempat memanjatkan doa yang berharap suatu saat nanti akan ada hari khusus untuk mengenang jasa para ibu bagi kemanusiaan.

Untuk mewujudkan harapan tersebut, Anna mulai mengampanyekan peringatan khusus ini secara luas.

Baca juga: Contek, Ragam Ide Menarik untuk Merayakan Hari Ibu

Ilustrasi orangtua. Psikolog menjelaskan bahwa perasaan sedih melihat perubahan sikap orantua bisa berkaitan dengan pengalaman emosional masa kecil yang belum selesai.Unsplash/Jonathan Borba Ilustrasi orangtua. Psikolog menjelaskan bahwa perasaan sedih melihat perubahan sikap orantua bisa berkaitan dengan pengalaman emosional masa kecil yang belum selesai.

Ibadah peringatan pertama akhirnya digelar pada minggu kedua bulan Mei tahun 1908 di gereja mendiang ibunya di Virginia Barat.

Gerakan ini dengan sangat cepat menyebar ke seluruh penjuru negeri, hingga Presiden AS ke-28 Woodrow Wilson, menjadikannya sebagai hari libur nasional pada tahun 1914.

Baca juga: Meneladani Kartini, Pentingnya Perempuan Terus Belajar dan Mandiri

Adaptasi tradisi di Inggris

Jauh sebelum kampanye Hari Ibu bergaung di AS, masyarakat Inggris pada abad ke-16 sebenarnya sudah memiliki tradisi kembali ke gereja utama (mother church) atau gereja tempat mereka dibaptis, pada hari Minggu keempat masa prapaskah (Minggu Laetare).

Bagi masyarakat pada masa tersebut, siapa pun yang melakukan perjalanan religius ini biasa disebut sedang menjalankan tradisi a-mothering atau Mothering Sunday.

Sayangnya, kebiasaan lawas ini lambat laun mulai memudar hingga nyaris menghilang sepenuhnya di sebagian besar daratan Eropa pada era 1920-an.

Kepopuleran gerakan Anna Jarvis di AS lalu menginspirasi Constance Penswick-Smith untuk kembali menghidupkan tradisi tersebut di Inggris pada tahun 1921.

Meskipun tanggal pelaksanaannya tetap teguh mengikuti tradisi lama, penyelenggaraannya kini melebur dengan kebiasaan modern yang banyak diadaptasi dari para prajurit selama masa Perang Dunia Kedua.

Baca juga: Sejarah Hari Ibu 22 Desember dan Bedanya dengan Mothers Day

Gerakan perempuan di Indonesia

Ilustrasi ibu dan anak sedang berinteraksi.Dok. ECED Council Ilustrasi ibu dan anak sedang berinteraksi.

Peringatan yang jatuh setiap tanggal 22 Desember di Indonesia memiliki akar yang erat dari pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia Pertama pada tahun 1928 di Yogyakarta.

Fokus utama pertemuan mereka mencakup perbaikan di bidang pendidikan, penolakan perkawinan anak usia dini, perlindungan hukum dalam ikatan pernikahan, serta tekad bulat untuk menyokong pergerakan merebut kemerdekaan nasional.

Penetapan tanggal bersejarah tersebut sebagai perayaan nasional kemudian secara resmi disahkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959.

Baca juga: Cara Merayakan Hari Ibu Bagi yang Sudah Tidak Punya Ibu

Esensi dan makna yang mendalam

Setiap negara memegang esensi perayaan yang sangat berbeda. Di AS, Anna Jarvis awalnya merancang momen tersebut murni sebagai perayaan ikatan personal antara seorang anak dan ibunya di ranah keluarga.

Seiring waktu, kebiasaan beribadah bersama berkembang menjadi tradisi saling bertukar kartu ucapan maupun hadiah.

Bunga anyelir muncul sebagai simbol resmi terpopuler, dengan anyelir merah muda melambangkan ibu yang masih hidup dan anyelir putih untuk mengenang ibu yang telah berpulang.

Baca juga: 5 Lagu Bertema Ibu yang Cocok Didengarkan Saat Hari Ibu

Ilustrasi ibu dan anakPexels/Ivan Samkov Ilustrasi ibu dan anak

Maknanya pun perlahan meluas demi menghormati sosok nenek dan bibi yang turut mengambil peran pengasuhan.

Di kawasan Inggris, makna peringatan ini melampaui batas keagamaan karena sempat bertransformasi menjadi momen langka bagi para asisten rumah tangga untuk mengunjungi gereja asal.

Baca juga: Jawaban Tegas Agnes Rahajeng soal Pilihan Merawat Ibu di Final Puteri Indonesia 2026

Lantaran jam kerja domestik yang sangat ketat, momen tersebut menjadi satu-satunya waktu kebebasan bagi kaum pekerja untuk berkumpul secara utuh bersama sanak saudara kandung mereka.

Dalam perjalanan pulang, anak-anak yang menikmati jatah libur biasanya memetik bunga liar untuk menghiasi gereja atau dipersembahkan langsung sebagai wujud cinta kepada ibu mereka.

Sementara itu, pemaknaan perayaan Hari Ibu di Indonesia murni lahir dari semangat perjuangan, persatuan, serta nasionalisme kaum perempuan, bukan sekadar penghormatan di ranah keluarga.

Makna Hari Ibu di Tanah Air terbilang jauh lebih tangguh dan luas dari sekadar apresiasi urusan domestik. Perayaan ini menjadi pengingat mengenai rekam jejak perjuangan pergerakan perempuan Indonesia, yang turut serta membangun kemajuan bangsa.

Baca juga: Tekan Angka Kematian Ibu, POGI Luncurkan Gerakan SPRIN

Tag:  #hari #sedunia #sejarah #makna #bedanya #dengan #indonesia

KOMENTAR