Setelah Ada Kecelakaan KRL, KAI Baru Benahi Perlintasan Sebidang
KAI mulai Menutup perlintasan sebidang. [Suara.com/Angga Budhiyanto]
10:34
10 Mei 2026

Setelah Ada Kecelakaan KRL, KAI Baru Benahi Perlintasan Sebidang

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai mempercepat penutupan dan penyempitan perlintasan sebidang liar usai kecelakaan maut KRL di Bekasi Timur yang menelan banyak korban. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menekan angka kecelakaan di jalur kereta yang selama ini banyak terjadi di perlintasan tidak terjaga.

Dalam periode 27 April hingga 9 Mei 2026, KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan dan sejumlah pemangku kepentingan telah melakukan 24 penutupan perlintasan serta 5 penyempitan akses di berbagai wilayah Indonesia.

Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia Anne Purba mengatakan percepatan penanganan perlintasan dilakukan agar insiden serupa tidak kembali terulang.

PT KAI Daop 1 Jakarta menutup perlintasan sebidang liar di petak jalan antara Stasiun Batuceper (BPR) – Stasiun Tanah Tinggi (THI) pada kilometer 17+3/4, tepatnya di Jalan Kikil, RT 04/04, Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Senin (10/2/2025). ANTARA/HO-PT KAI Daop 1 Jakarta.PT KAI Daop 1 Jakarta menutup perlintasan sebidang.  ANTARA/HO-PT KAI Daop 1 Jakarta.

"Keselamatan di perlintasan menjadi perhatian serius karena kereta api memiliki jarak pengereman yang panjang dan tidak dapat berhenti mendadak saat terdapat hambatan di jalur," ujar Anne di Jakarta, Minggu (10/5/2026).

Penanganan dilakukan di berbagai daerah, mulai dari Jakarta dan sekitarnya, Jawa Barat, Yogyakarta, Solo Raya, Jawa Timur, hingga Sumatera. Sejumlah titik perlintasan liar dan tidak terjaga ditutup karena dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan masyarakat.

Di wilayah Jakarta dan sekitarnya misalnya, penutupan dilakukan di sejumlah titik seperti lintas Tigaraksa–Cikoya di Banten, Parung Panjang–Cilejit di Jawa Barat, hingga Sukabumi–Gandasoli. Sementara di Jawa Barat dilakukan penyempitan perlintasan di jalur Cicalengka–Nagreg dan penutupan akses di lintas Cireungas–Lampegan.

KAI juga menutup sejumlah perlintasan di wilayah Yogyakarta dan Solo Raya, termasuk lintas Purwosari–Wonogiri, Brambanan–Yogyakarta, hingga Wates–Rewulu. Langkah serupa dilakukan di Madiun, Blitar, Jombang, Jember, Banyuwangi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.

Berdasarkan data KAI, saat ini terdapat 3.674 perlintasan sebidang di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.810 titik menjadi fokus penanganan. Sebanyak 172 perlintasan diarahkan untuk ditutup karena kondisi jalan yang terbatas, sedangkan 1.638 titik lainnya membutuhkan peningkatan fasilitas keselamatan secara bertahap.

Data evaluasi keselamatan juga menunjukkan dalam periode 2023 hingga 2026 terdapat 948 korban akibat kecelakaan di perlintasan sebidang. Sekitar 80 persen kecelakaan terjadi di perlintasan yang belum terjaga.

Selain penutupan dan penyempitan akses, KAI bersama DJKA terus melakukan pendataan perlintasan, koordinasi dengan pemerintah daerah, sosialisasi keselamatan kepada masyarakat, hingga pengembangan fasilitas keselamatan di titik prioritas.

Anne pun meminta masyarakat tidak kembali membuka akses liar yang sudah ditutup demi keselamatan bersama.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keselamatan di sekitar jalur rel. Perlintasan liar yang telah ditutup diharapkan tidak dibuka kembali karena penutupan dilakukan berdasarkan evaluasi keselamatan dan potensi risikonya," pungkas Anne.

Editor: Achmad Fauzi

Tag:  #setelah #kecelakaan #baru #benahi #perlintasan #sebidang

KOMENTAR