FAO: Harga Pangan Dunia Melonjak, Dipicu Konflik Timur Tengah dan Biofuel
Ilustrasi pangan.(KOMPAS.com/SRI LESTARI)
13:16
11 Mei 2026

FAO: Harga Pangan Dunia Melonjak, Dipicu Konflik Timur Tengah dan Biofuel

Harga pangan dunia kembali menanjak pada April 2026.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat, indeks harga pangan global naik untuk bulan ketiga berturut-turut, didorong lonjakan harga minyak nabati di tengah meningkatnya biaya energi dan permintaan biofuel.

FAO dalam laporan terbarunya menyebutkan, Food Price Index (FFPI) atau Indeks Harga Pangan rata-rata mencapai 130,7 poin pada April 2026. Angka ini naik 1,6 persen dibandingkan Maret 2026 dan menjadi level tertinggi sejak Februari 2023.

Baca juga: Kesepakatan KTT ASEAN, Menlu RI: Fokus Ketersediaan Energi dan Pangan

Ilustrasi pangan hasil petani.Dok.Shutterstock/Yulia Grigoryeva Ilustrasi pangan hasil petani.

Kenaikan tersebut melanjutkan tren peningkatan harga pangan dunia sejak Februari 2026.

Sebelumnya, indeks harga pangan global tercatat berada di level 125,3 poin pada Februari 2026 dan naik menjadi 128,5 poin pada Maret 2026.

Secara tahunan, harga pangan global memang masih berada di bawah puncak yang terjadi pada Maret 2022.

Namun demikian, tren kenaikan sejak awal tahun ini menunjukkan tekanan harga komoditas pangan internasional kembali meningkat.

Baca juga: KTT ASEAN di Filipina, Prabowo Dorong Ketahanan Energi dan Pangan 

Level indeks harga pangan April 2026 masih sekitar 18,4 persen di bawah rekor tertinggi pada Maret 2022.

FAO Food Price Index sendiri merupakan indikator yang mengukur perubahan bulanan harga internasional dari sekeranjang komoditas pangan utama dunia.

Indeks tersebut mencakup lima kelompok komoditas utama, yakni serealia, minyak nabati, produk susu, daging, dan gula.

Pergerakan indeks ini kerap menjadi acuan untuk melihat arah harga pangan global sekaligus mencerminkan dinamika perdagangan komoditas internasional.

Baca juga: Prabowo ke Filipina Hadiri KTT ASEAN, Bahas Isu Pangan dan Energi

Lonjakan harga minyak nabati jadi pendorong utama

FAO menyebut, kenaikan harga pangan global pada April terutama dipicu melonjaknya harga minyak nabati dunia.

Ilustrasi minyak kelapa sawitBPDP Ilustrasi minyak kelapa sawit

Indeks harga minyak nabati FAO tercatat naik 5,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2022.

“Harga minyak sawit internasional naik untuk bulan kelima berturut-turut pada bulan April,” tulis FAO dalam laporannya, dikutip pada Senin (11/5/2026).

Menurut FAO, kenaikan harga minyak sawit dipengaruhi prospek peningkatan permintaan dari sektor biofuel yang didorong insentif kebijakan di sejumlah negara produsen serta kenaikan harga minyak mentah global.

Baca juga: Dunia Panik Krisis Energi dan Pangan, Prabowo: Kita Masih Aman

Harga minyak kedelai, bunga matahari, dan rapeseed juga meningkat sepanjang April.

Kepala Ekonom FAO Maximo Torero mengatakan, lonjakan harga minyak nabati berkaitan erat dengan tingginya biaya energi dunia yang meningkatkan permintaan bahan baku biofuel.

“Harga minyak sawit internasional naik untuk bulan kelima berturut-turut pada bulan April,” kata Torero.

Reuters melaporkan, konflik di Timur Tengah dan terganggunya jalur perdagangan energi global turut memperbesar tekanan pada harga energi dunia.

Baca juga: ASEAN Siaga Dampak Krisis Timur Tengah, Ini Strategi Jaga Energi dan Pangan

Kondisi itu kemudian mendorong permintaan komoditas berbasis minyak nabati untuk kebutuhan bahan bakar alternatif.

FAO juga mencatat, kenaikan harga minyak nabati sudah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Pada Maret 2026, indeks harga minyak nabati FAO melonjak 7,4 persen dibandingkan Februari.

Kenaikan saat itu dipicu meningkatnya harga minyak sawit, kedelai, dan bunga matahari akibat kuatnya permintaan impor global dan terbatasnya pasokan dari negara produsen utama.

Selain itu, harga minyak mentah dunia yang tinggi membuat penggunaan minyak nabati sebagai bahan baku biofuel menjadi lebih menarik secara ekonomi.

Baca juga: Amran Bawa Pengkritiknya Lihat Gudang Beras, Cerita Lawan Middleman Mafia Pangan

Harga gandum dan beras ikut naik

Ilustrasi beras.  PIXABAY/MOHD SYAHIDEEN OSMAN Ilustrasi beras.

Selain minyak nabati, harga serealia juga mengalami kenaikan pada April 2026. Indeks harga serealia FAO naik tipis 0,8 persen dibandingkan Maret 2026.

Kenaikan terutama terjadi pada harga gandum dan beras dunia.

FAO menjelaskan, harga gandum meningkat akibat kekhawatiran terhadap kondisi produksi di sejumlah negara produsen utama.

Sebelumnya pada Maret 2026, harga gandum dunia naik 4,3 persen dipicu memburuknya prospek panen di Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi berkurangnya area tanam di Australia karena mahalnya harga pupuk.

Baca juga: Nilai Bisnis Sayuran RI Diperkirakan Capai Rp120 Triliun, Sistem Pangan Jadi Tantangan Utama

Kondisi geopolitik juga disebut ikut memengaruhi pasar serealia global.

Pada Februari 2026, FAO mencatat harga gandum terdorong oleh laporan cuaca dingin ekstrem di Eropa dan AS, serta gangguan logistik di kawasan Laut Hitam dan Rusia.

Selain gandum, harga beras internasional juga meningkat pada April. FAO menyebut kenaikan dipengaruhi permintaan impor yang meningkat dan pergerakan nilai tukar di sejumlah negara eksportir utama.

Meski harga serealia meningkat, FAO menilai sistem pangan global masih menunjukkan ketahanan.

Baca juga: Zulhas: MinyaKita Naik karena Dipakai untuk Bantuan Pangan

Reuters mengutip pernyataan Torero yang menyebut kenaikan harga serealia masih relatif moderat karena pasokan global dari musim panen sebelumnya masih memadai.

“Sistem agribisnis menunjukkan ketahanan,” ujar Torero.

FAO juga memperbarui proyeksi produksi serealia dunia. Organisasi tersebut memperkirakan produksi serealia global 2025 mencapai rekor 3,04 miliar ton.

Proyeksi tersebut ditopang perkiraan peningkatan produksi jagung, gandum, dan beras di sejumlah negara produsen utama.

Baca juga: Bapanas Klaim 11 Pangan Surplus, Stok Beras Bakal Tembus 16 Juta Ton

Harga daging naik, gula turun

Ilustrasi daging sapiKompas.com Ilustrasi daging sapi

Di sisi lain, harga daging dunia juga naik pada April. Indeks harga daging FAO tercatat meningkat 1,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan harga daging dipicu berkurangnya pasokan sapi dari Brasil.

Pada Maret 2026, kenaikan harga daging juga dipengaruhi lonjakan harga daging babi di Uni Eropa menjelang peningkatan permintaan musiman, serta kenaikan harga daging sapi global akibat terbatasnya pasokan ekspor Brasil.

FAO menjelaskan, terbatasnya suplai dari negara eksportir utama membuat harga daging global bergerak naik meski permintaan dunia belum meningkat signifikan.

Baca juga: Kementan Cari Cara Simpan Kelebihan Stok Pangan Nasional, Ada Beras, Jagung, dan Daging Ayam

Sementara itu, harga gula justru bergerak berlawanan. Indeks harga gula FAO turun 4,7 persen pada April dibandingkan Maret 2026.

Penurunan terjadi seiring prospek produksi yang lebih baik di sejumlah negara produsen utama dunia.

FAO sebelumnya juga mencatat harga gula telah mengalami tekanan sejak awal tahun. Pada Januari 2026, indeks harga gula turun akibat ekspektasi peningkatan pasokan global, terutama dari India dan Thailand.

Membaiknya prospek panen tebu di negara-negara tersebut meningkatkan harapan pasar terhadap bertambahnya pasokan gula dunia pada musim mendatang.

Baca juga: Penyelundupan Pangan di Kalbar, Amran: Ini Jaringan Besar

Harga produk susu berfluktuasi

Harga produk susu juga menunjukkan pergerakan yang beragam sepanjang tahun ini.

Pada Januari 2026, indeks harga produk susu turun 5 persen karena penurunan harga keju dan mentega global.

Namun pada Maret 2026, indeks harga produk susu kembali naik 1,2 persen didorong meningkatnya harga susu bubuk akibat penurunan pasokan musiman di Oseania.

Ilustrasi susu.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi susu.

Pada April 2026, FAO mencatat penurunan harga produk susu ikut menahan laju kenaikan indeks harga pangan global secara keseluruhan.

Baca juga: Mewaspadai Dampak El Nino Godzilla terhadap Ketahanan Pangan Indonesia

Penurunan harga produk susu dan gula mengimbangi sebagian kenaikan pada minyak nabati, daging, dan serealia.

FAO menyebut, penurunan harga produk susu terutama terjadi pada mentega dan susu bubuk penuh akibat melemahnya permintaan impor global.

Meski demikian, harga keju internasional relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dinamika harga pangan global tidak bergerak seragam di seluruh kelompok komoditas.

Baca juga: Potensi Krisis Pangan Ancam Dunia Bila Selat Hormuz Terus Ditutup

Konflik dan harga energi jadi faktor penekan

FAO mengingatkan tekanan biaya energi dan meningkatnya permintaan biofuel dapat terus memengaruhi arah harga pangan dunia ke depan.

Pada Maret 2026, FAO menyebut kenaikan harga di seluruh kelompok komoditas tidak hanya dipengaruhi fundamental pasar, tetapi juga respons terhadap naiknya harga energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Indeks harga di seluruh kelompok komoditas naik dengan tingkat yang berbeda-beda, mencerminkan tidak hanya fundamental pasar yang mendasarinya tetapi juga respons terhadap harga energi yang lebih tinggi,” tulis FAO.

Menurut FAO, ketidakpastian geopolitik dan tingginya volatilitas harga energi berpotensi terus memengaruhi biaya produksi, distribusi, dan perdagangan pangan global.

Baca juga: FAO: Konflik Timur Tengah Dorong Harga Pangan Dunia Naik

Kondisi tersebut membuat pasar komoditas pangan internasional masih dibayangi risiko fluktuasi harga dalam beberapa waktu ke depan.

Meski produksi serealia global diperkirakan mencetak rekor, FAO menilai perkembangan harga energi dan permintaan biofuel tetap menjadi faktor penting yang menentukan arah harga pangan dunia sepanjang 2026.

Tag:  #harga #pangan #dunia #melonjak #dipicu #konflik #timur #tengah #biofuel

KOMENTAR