Harga TV dan AC Mulai Naik, Rupiah Melemah Tekan Dompet Warga
Ilustrasi membeli televisi, membeli produk elektronik. (SHUTTERSTOCK/GORODENKOFF)
07:33
15 Mei 2026

Harga TV dan AC Mulai Naik, Rupiah Melemah Tekan Dompet Warga

- Kenaikan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah mulai berdampak pada industri elektronik nasional. Sejumlah produk elektronik seperti televisi hingga pendingin ruangan (AC) mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir.

Mengutip Bloomberg, pada akhir perdagangan pasar spot, Rabu (13/5/2026) rupaiah ditutup pada level Rp 17.529 per dollar AS. Secara year to date rupiah sudah mengalami pelemahan sekitar 5,1 persen dan 18,7 persen dalam 5 tahun terakhir.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik Indonesia (Apkonik), Deny Irawan mengatakan, kondisi tersebut juga mulai memengaruhi perilaku konsumen yang memilih menunda pembelian di tengah harga yang terus bergerak naik.

Dia bilang, pelemahan rupiah memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap industri elektronik nasional karena sebagian besar komponen masih bergantung pada impor.

“Sebagian besar komponen elektronik yang digunakan industri dalam negeri, seperti semikonduktor, IC, panel display, sensor, kapasitor, hingga beberapa bahan baku manufaktur masih bergantung pada impor,” ujar Deny kepada Kompas.com, Kamis (14/5/2026).

Baca juga: Menakar Daya Tahan Rupiah

Menurutnya, transaksi impor mayoritas menggunakan dolar AS sehingga ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pengadaan komponen otomatis ikut meningkat. Kondisi tersebut membuat struktur biaya produksi industri elektronik nasional mengalami kenaikan.

Meski demikian, Deny menjelaskan dampak terhadap harga jual di pasar tidak selalu terjadi secara langsung. Sejumlah faktor masih memengaruhi penyesuaian harga, mulai dari stok barang impor lama, strategi efisiensi industri, hingga tingginya persaingan pasar.

“Banyak pelaku industri masih memiliki stok impor dengan kurs lama, sehingga kenaikan harga biasanya tertahan sementara. Produsen juga berupaya melakukan efisiensi agar kenaikan biaya tidak seluruhnya dibebankan kepada konsumen,” ujarnya.

Ia menambahkan, persaingan industri elektronik yang ketat membuat produsen cenderung berhati-hati menaikkan harga demi menjaga daya beli masyarakat.

Namun, Deny mengakui dampak pelemahan rupiah kini mulai terlihat nyata di pasar elektronik nasional. Berdasarkan laporan dari pelaku ritel dan distributor, sejumlah produk telah mengalami penyesuaian harga sejak awal Mei 2026.

“Di sentra perdagangan elektronik Jakarta, harga produk seperti televisi dan AC dilaporkan sudah naik sekitar 2 persen sampai 5 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh membengkaknya biaya impor komponen dan barang jadi yang masih menggunakan dolar AS,” ujarnya.

Selain kenaikan harga, tekanan terhadap daya beli masyarakat juga mulai dirasakan pelaku usaha. Sejumlah pedagang melaporkan konsumen mulai menahan pembelian karena perubahan harga terjadi cukup cepat dibandingkan bulan sebelumnya.

“Beberapa pedagang menyampaikan bahwa konsumen mulai menunda pembelian karena harga berubah cukup cepat dibanding bulan sebelumnya. Bahkan ada laporan penurunan penjualan ritel hingga sekitar 50 persen di beberapa titik perdagangan elektronik,” kata Deny.

Ia menyebut produk yang paling cepat terdampak saat ini antara lain televisi, AC, smartphone, laptop, hingga perangkat rumah tangga digital lain yang memiliki kandungan impor tinggi.

Meski demikian, industri masih berupaya menahan kenaikan harga agar tidak terlalu agresif. Banyak produsen disebut masih mengandalkan stok lama sambil melakukan efisiensi operasional untuk menjaga harga tetap kompetitif.

Deny menilai apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang, maka peluang kenaikan harga lanjutan masih cukup besar, terutama ketika stok baru dengan biaya impor lebih mahal mulai masuk ke pasar pada kuartal berikutnya.

Karena itu, Apkonik mendorong penguatan industri komponen dalam negeri serta peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) agar industri elektronik nasional tidak terlalu rentan terhadap gejolak kurs global di masa mendatang.

“Dari sisi asosiasi, kami mendorong penguatan industri komponen dalam negeri dan peningkatan TKDN agar industri elektronik Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak kurs global di masa mendatang,” tegas dia.

Baca juga: Dampak Rupiah Loyo, Siap-siap Biaya Dapur Makin Mencekik

Ilustrasi belanja pakai uang tunai atau cash. SHUTTERSTOCK/MELIMEY Ilustrasi belanja pakai uang tunai atau cash.

Ketika Kompas.com berjalan-jalan di sekitar lokasi elektronik Pasar Glodok pada hari libur Kamis (14/5/2026) sebagian toko tutup, tapi ada juga yang tetap berjual.

Sembari berjalan-jalan, Kompas.com berkesempatan bertanya kepada beberapa pedagang, mengenai harga elektronik yang mengalami kenaikan seperti TV dan AC.

“Harga AC, terutama tipe 1 PK, sudah naik sekitar Rp 225.000. Contohnya AC merek ’S’ Low Watt yang sebelumnya dijual sekitar Rp 2,9 juta, kini naik menjadi sekitar Rp 3,12 juta hingga Rp 3,2 juta,” kata seorang penjual bernama Tio.

Hal senada disampaikan Ryan, salah seorang penjual TV di lokasi yang sama. Ryan bilang harga sudah mengalami kenaikan beberapa hari terakhir ini, dengan kenaikan yang bervariasi.

“Harga TV saat ini sudah naik sekitar 2 persen hingga 5 persen bulan Mei ini berkisar Rp 20.000 hingga Rp 50.000 untuk beberapa model, bahkan ada produk yang mengalami kenaikan signifikan hingga Rp 400.000 sampai Rp 450.000,” ujar Ryan.

Sebagai informasi, kenaikan harga barang atau inflasi yang terjadi saat ini terjadi karena tekanan dari sisi biaya produksi. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha menghadapi beban operasional yang semakin besar dan pada akhirnya mendorong penyesuaian harga di tingkat konsumen.

Salah satu faktor utama pemicu kenaikan harga berasal dari meningkatnya biaya energi, terutama akibat kenaikan harga BBM non-subsidi dan fluktuasi harga minyak global.

Lonjakan biaya energi berdampak langsung terhadap ongkos produksi maupun distribusi barang, sehingga harga produk akhir ikut mengalami kenaikan.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memberikan tekanan bagi industri nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor. Depresiasi rupiah membuat biaya pembelian komponen dan bahan baku dari luar negeri menjadi lebih mahal, khususnya pada sektor manufaktur, elektronik, hingga pangan olahan.

Gangguan rantai pasok global juga menjadi faktor yang memperburuk situasi. Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan strategis, termasuk Timur Tengah dan jalur perdagangan internasional seperti Selat Hormuz, memicu hambatan distribusi komoditas dan meningkatkan biaya logistik global.

Di sisi lain, permintaan masyarakat yang tetap tinggi pada beberapa sektor juga mendorong kenaikan harga. Ketika permintaan tidak diimbangi dengan ketersediaan barang yang memadai di pasar, harga cenderung mengalami tekanan naik atau dikenal sebagai demand-pull inflation.

Meski demikian, perekonomian domestik Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan atau resiliensi yang relatif baik, dimana pada kuartal pertama 2026 ekonomi RI tumbuh 5,6 persen YoY (year-on-year) dibandingkan periode sebelumnya 5,3 persen.

Tag:  #harga #mulai #naik #rupiah #melemah #tekan #dompet #warga

KOMENTAR